Listen and Download: Tears and Rain by James Blunt

Tuesday, May 16, 2017

Nice Home Work 1 MIIP Batch 4

NHW 1 Matrikulasi IIP Batch 4

Oleh: Nisaul Fahmi

Adab Menuntut Ilmu

Belajar adalah sebuah hak bagi setiap manusia, bukan hanya sebuah kewajiban. Tidak hanya belajar di kelas dalam artian sempit seperti yang dilakukan oleh anak sekolah, namun lebih luas dari itu. Belajar bisa dilakukan oleh siapa saja, di mana saja, dan bersama siapa saja, tidak terikat tempat, waktu, dan usia. Seperti halnya seorang perempuan yang sudah menikah, bahkan yang sudah mempunyai anak dan menjadi seorang ibu sekalipun berhak untuk belajar.

Dan seiring kemajuan jaman, seorang istri maupun ibu dituntut untuk mengikuti percepatan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak dapat dikendalikan lagi lajunya di masa sekarang ini. Seorang ibu tidak boleh 'kudet' sehingga ketika anak-anaknya membutuhkan pendampingan saat tumbuh dewasa mereka tidak merasa dibiarkan tumbuh sendirian. Seorang istri tidak boleh kekurangan bahan pembicaraan saat pasangannya membutuhkan teman berdiskusi agar tetap betah di rumah. Arus informasi yang berkembang dengan cepat dan penyebarannya bisa dari sumber mana saja dan mudah diakses, membuat seorang ibu harus mempunyai bekal ilmu agama yang cukup agar bisa membentuk akhlaq dan aqidah anak-anaknya sesuai fitrahnya. Berbagai macam informasi yang tersebar di media tidak hanya semata-mata berisi hal-hal yang bermanfaat, sebaliknya, di sana terdapat banyak 'racun' seperti halnya pornografi, kekerasan, serta teori-teori liberalisme dan radikalisme yang bisa merusak mental dan jiwa anak-anak. Di situlah seorang ibu dituntut untuk menjalankan perannya, untuk menanamkan ilmu agama sejak dini sebagai benteng dari hal-hal yang dapat merusak mental anak tersebut. 

Menjadi seorang ibu dan  istri pertanggungjawabannya tidak hanya di dunia saja, akantetapi sampai ke akhirat juga. Oleh karena itu dibutuhkan keilmuan khusus bagi seorang perempuan untuk menjalani peran tersebut. Keilmuan itulah yang ingin saya pelajari lebih dalam lagi dan saya tekuni, ilmu untuk menjadi seorang istri dan  ibu yang bisa mendampingi pasangan dan anak-anaknya setiap hari dengan penuh cinta, kasih sayang, dan kesabaran, melakukan peran saya dengan lebih baik lagi dan sesuai fitrah, serta menebarkan kebaikan terhadap sesama tanpa meninggalkan kodrat saya sebagai seorang istri dan ibu.

Bukan tanpa alasan saya ingin menekuni keilmuan yang berkaitan dengan dunia ibu dan istri. Bukan pula hanya sekedar untuk pamer, eksis, dan gaya-gayaan semata. Karena saya adalah seorang ibu, seorang pendidik utama bagi anak-anak saya, maka saya harus mempunyai ilmu yang mumpuni agar bisa mendidik anak-anak saya menjadi orang yang bermental sehat, visioner, mampu mengenali bakatnya serta tangguh menghadapi segala macam tantangan di masa depannya. Karena saya adalah seorang istri, yang mempunyai kewajiban untuk selalu taat kepada suami, mengabdi dan melayani dengan penuh keikhlasan dan kesabaran. Itulah alasan terkuat yang membuat saya ingin terus mempelajari dan menekuni keilmuan di bidang per'istri'an dan ke'ibu'an.

Meskipun menjadi seorang istri dan ibu sangat menguras tenaga dan mengurangi waktu buat diri sendiri atau 'me time', namun jika kita ikhlas dan punya kemauan untuk menuntut ilmu, insya Allah banyak jalan yang bisa ditempuh. Harus ada strategi-strategi khusus dan cara unik agar ketika kita menuntut ilmu, kewajiban utama sebagai istri dan ibu tidak terabaikan. Seperti saya misalnya. Dengan kondisi saat ini yang mempunyai anak usia 19 bulan dan sedang aktif-aktifnya, tentu tidak memungkinkan bagi saya untuk menuntut ilmu di luar rumah, apalagi dalam jangka waktu yang lama. Saya menyiasatinya dengan cara banyak mengikuti kegiatan-kegiatan parenting secara online, seperti saat ini, mengikuti kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional. Selain itu saya aktif mencari bahan bacaan seputar dunia ibu dan anak serta pernikahan untuk saya pelajari. Mengikuti berbagai kuliah online dengan narasumber pakar parenting juga saya lakukan guna meningkatkan pengetahuan saya. Aktif berteman dan berjejaring dengan keluarga yang punya visi dan misi sama serta praktisi parenting di dalam group-group parenting juga mulai saya lakukan, karena seperti prinsip yang saya sampaikan di depan tadi, bahwa belajar bisa dilakukan di mana saja, kapan saja, dan bersama siapa saja. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia anak saya nantinya, saya berencana untuk mengikuti berbagai macam kegiatan offline dari komunitas parenting, termasuk mengikuti seminar-seminar di bidang tersebut. Selain itu saya juga mulai belajar menulis kembali dan akan menerbitkannya menjadi sebuah buku, karena dengan menulis saya belajar untuk berbagi dengan sesama, dan dari situ pula saya bisa berjejaring dengan banyak orang yang tentunya bisa menjadi guru bagi saya saat kami saling berbagi pengalaman masing-masing, karena setiap orang bisa menjadi guru bagi kita.

Dibandingkan sebelum menikah, saat ini ketika status saya sudah menjadi seorang istri dan ibu, banyak perbaikan yang berusaha saya lakukan, terlebih terkait mempelajari ilmu seputar pernikahan dan parenting. Dulu ketika saya merasa sudah tahu, saya berhenti mencari tahu dan merasa cukup sampai di situ saja, di batas pengetahuan saya. Lain halnya dengan sekarang, saya selalu antusias untuk mencari tahu, lagi dan lagi, bahkan terkadang untuk hal-hal yang sudah saya ketahui sekalipun. Contohnya tentang kelas matrikulasi IIP ini. Mungkin ada beberapa peserta yang mendapatkan informasi dari teman-teman mereka terkait kelas ini. Namun saya tidak. Saya menemukan informasi tentang kelas matrikulasi IIP ini ketika saya sedang mencari bahan bacaan seputar homeschooling di internet,dan saya menemukan profil ibu Septi Peni Wulandani yang berhasil mendidik ketiga anaknya dengan metode homeschooling. Dari situlah saya menemukan informasi tentang Institut Ibu Profesional, kemudian saya mencari tahu lagi seluk-beluknya, dan saat saya membaca-baca artikel tulisan pak Dodik dan bu Septi, saya merasa bahwa visi di keluarga saya hampir mirip dengan beliau berdua. Hingga akhirnya saya bergegas mencari informasi untuk mengikuti kelas matrikulasi, namun ternyata masih berjalan yang batch 3, saat itu awal bulan Maret. Akhirnya saya memutuskan untuk bergabung di group WA IIP Pekanbaru sambil menunggu kelas matrikulasi batch 4 ini. Tidak ada rasa terpaksa sama sekali, karena saya ikhlas melakukannya, dengan niat mencari ilmu dan alhamdulillah selama bergabung di group WA IIP Pekanbaru saya beberapa kali mengikuti kulwap yang berisi banyak sekali ilmu seputar parenting dan rumah tangga yang sangat bermanfaat. 

Hingga akhirnya saya mengikuti kelas matrikulasi saat ini, banyak sekali ilmu yang sudah saya dapatkan, banyak sekali teman-teman satu visi yang bisa menjadi guru bagi saya. Selain ikhlas, bergegas, dan tidak merasa paling tahu, ke depannya saya masih harus memperbaiki sikap yang lainnya saat saya menuntut ilmu di bidang parenting dan pernikahan seperti yang sudah saya pelajari dalam materi pertama kelas matrikulasi IIP Batch 4 hari Senin, tanggal 15 Mei 2017, yaitu Adab Menuntut Ilmu. Berikut materinya, semoga bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.

PROLOG 1

KELAS MATRIKULASI BATCH #4
INSTITUT IBU PROFESIONAL 

ADAB MENUNTUT ILMU

Senin, 15 Mei 2017

Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional

Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan.
Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu, sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa orang yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya, namun barangsiapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya.
Karena ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang paling didahulukan sebelum ILMU 

ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya
Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horisontal, antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri.
Mengapa para Ibu Profesional di kelas matrikulasi ini perlu memahami Adab menuntut ilmu terlebih dahulu sebelum masuk ke ilmu-ilmu yang lain?

Karena ADAB tidak bisa diajarkan, ADAB hanya bisa ditularkan
Para ibulah nanti yang harus mengamalkan ADAB menuntut ilmu ini dengan baik, sehingga anak-anak yang menjadi amanah para ibu bisa mencontoh ADAB baik dari Ibunya

ADAB PADA DIRI SENDIRI

a. Ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk.
Selama batin tidak bersih dari hal-hal buruk, maka ilmu akan terhalang masuk ke dalam hati.Karena ilmu itu bukan rentetan kalimat dan tulisan saja, melainkan ilmu itu adalah “cahaya” yang dimasukkan ke dalam hati.

b. Selalu bergegas, mengutamakan waktu-waktu dalam menuntut ilmu, Hadir paling awal dan duduk paling depan di setiap majelis ilmu baik online maupun offline.

c.Menghindari sikap yang “merasa’ sudah lebih tahu dan lebih paham, ketika suatu ilmu sedang disampaikan.

d.Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajarinya dengan cara mengulang-ulang, membuat catatan penting, menuliskannya kembali dan bersabar sampai semua runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama.

e. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah ilmu disampaikan. Karena sejatinya tugas itu adalah untuk mengikat sebuah ilmu agar mudah untuk diamalkan.


ADAB TERHADAP GURU (PENYAMPAI SEBUAH ILMU)

a. Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati, menaruh rasa hormat kepadanya, disertai mendekatkan diri kepada DIA yang Maha Memiliki Ilmu dalam berkhidmat kepada guru.

b. Hendaknya penuntut ilmu mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau menjawab pertanyaan, jangan pula membarengi guru dalam berkata, jangan memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru berbicara. Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. Sehingga guru tidak perlu mengulangi penjelasan untuk kedua kalinya.

c. Penuntut ilmu meminta keridhaan guru, ketika ingin menyebarkan ilmu yang disampaikan baik secara tertulis maupun lisan ke orang lain, dengan cara meminta ijin. Apabila dari awal guru sudah menyampaikan bahwa ilmu tersebut boleh disebarluaskan, maka cantumkan/ sebut nama guru sebagai bentuk penghormatan kita.

ADAB TERHADAP SUMBER ILMU

a. Tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari.

b. Tidak melakukan penggandaan, membeli dan mendistribusikan untuk kepentingan komersiil, sebuah sumber ilmu tanpa ijin dari penulisnya.

c. Tidak mendukung perbuatan para plagiator, produsen barang bajakan, dengan cara tidak membeli barang mereka untuk keperluan menuntut ilmu diri kita dan keluarga.
d. Dalam dunia online, tidak menyebarkan sumber ilmu yang diawali kalimat "copas dari grup sebelah" tanpa mencantumkan sumber ilmunya dari mana.
e. Dalam dunia online, harus menerapkan "sceptical thinking" dalam menerima sebuah informasi. jangan mudah percaya sebelum kita paham sumber ilmunya, meski berita itu baik.
Adab menuntut ilmu ini akan erat berkaitan dengan keberkahan sebuah ilmu, shg mendatangkan manfaat bagi hidup kita dan umat

Referensi :
Turnomo Raharjo,
Literasi Media & Kearifan Lokal: Konsep dan Aplikasi, Jakarta, 2012.

Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (pendidikan dalam perspekitf hadis), Jakarta: Amzah,
2014, hlm. 5

Muhammad bin sholeh, Panduan lengkap Menuntut Ilmu, Jakarta, 2015

Sunday, March 5, 2017

A Cup of Espresso

PART 4

[ If you love me like you tell me
Please be careful with my heart
You can take it, just don’t break it
Or my world will fall apart

You are my first romance 
And I’m willing to take a chance
That ‘till life is through
I’ll still be loving you

I will be true to you
Just promise from you will do
From the very start
Please be careful with my heart ]

(Cuplikan lirik lagu “Please Be Careful With My Heart” oleh Regine Velasquez & Jose Mari Chan)

Keesokan harinya, setelah Mandira berhasil melewati dua kelas mata kuliah dari pukul delapan pagi  hingga jam pukul dua belas siang, ia bernapas lega. Ia tersenyum-senyum sendiri ketika kelas kedua hampir usai, hatinya berbunga-bunga dan dipenuhi kebahagiaan. Ingin rasanya ia memekik, menyuarakan rasa hatinya. Namun apalah daya, saat ini ia berada di lorong kelas yang dipenuhi dengan hilir mudik mahasiswa dengan berbagai aktivitas masing-masing. Sebagai gantinya, ia bergegas menuju foodcourt untuk menemui Hans.

Sama seperti kemarin ketika ia tiba di foodcourt, hari ini Hans juga sudah terlebih dahulu berada di tempat tersebut. Setelah berbasa-basi sebentar, mereka tanpa pikir panjang segera memesan makanan masing-masing dan menyantapnya tanpa banyak bicara. Setelah hampir satu jam, akhirnya mereka menyelesaikan makan siang dan langsung berangkat menuju lokasi hunting foto. Hans menyarankan agar hari ini mereka mengunjungi Taman Sari untuk mengambil foto arsitektur bangunan di tempat tersebut. Setelahnya mereka akan mengunjungi candi prambanan untuk kembali mengambil foto arsitektur sekaligus mencoba mengabadikan momen sunset di tempat tersebut. Malam harinya mereka berencana hunting foto di kawasan malioboro.

Perjalanan menuju Taman Sari diisi dengan berbagai macam penjelasan dari Hans tentang architecture photography. Mandira berusaha memahami dengan sebaik-baiknya ketika Hans menjelaskan bahwa dalam jenis fotografi tersebut, ia hanya perlu menambah kejelian mata ketika memperhatikan detail sebuah bangunan sehingga nantinya akan menemukan suatu keunikan, baik itu berupa desain, gaya, ataupun hiasan-hiasan yang dimiliki oleh sebuah bangunan. Intinya adalah keseimbangan antara unsur logis dan seni. Jika suatu bangunan mempunyai kedua unsur tersebut, maka tatkala kita mengabadikannya menjadi sebuah gambar maka gambar tersebut akan membentuk suatu cerita tertentu ketika dilihat oleh orang awam. Yang menjadi salah satu kendala adalah seringkali sebagian besar fotografer kurang memperhatikan hal-hal kecil seperti sudut suatu bangunan, atau bahkan sebuah coretan-coretan tertentu yang kadang-kadang terdapat di sebuah tembok bangunan tersebut. Prinsip perspektif dasar. Menurut Hans, itulah salah satu teori yang harus ia pahami, dan untungnya Mandira sudah pernah mempelajari mengenai hal tersebut ketika ia berada di bangku sekolah menengah, baik itu di SMP maupun SMA, sehingga ia tak perlu mengkhawatirkan mengenai teori.

Kurang lebih satu jam kemudian Mandira dan Hans sampai di tempat tujuan. Setelah memarkir mobil di tempat parkir wisata di depan pintu masuk Taman Sari, mereka berdua berjalan menuju loket untuk membeli tiket dan kemudian segera masuk ke dalam area taman tersebut. Hans dengan cekatan tampak mengeluarkan kamera dari dalam tasnya, beberapa kali memencet berbagai tombol untuk menyesuaikan pengaturan dan kemudian mengalungkan tali kamera di lehernya. Meskipun objek yang diincar oleh mereka kali ini adalah benda mati, Hans tidak membawa tripod. Ia selalu menekankan kepada Mandira bahwa momen-momen istimewa bisa muncul kapan saja, entah mereka sedang dalam kondisi siap atau tidak, sehingga seorang fotografer harus belajar memotret tanpa bantuan alat, termasuk tripod.

Mandira berjalan meninggalkan Hans yang tampak lebih lambat jalannya karena sedang menyetel pengaturan kamera. Ada beberapa laki-laki yang menghampirinya dan menawarkan jasa pemandu wisata, namun ia dengan sopan menolak. Hans tadi berpesan kepada Mandira bahwa dirinyalah yang akan memandu Mandira di semua tempat yang akan mereka kunjungi hari ini. Ketika Mandira memasuki sebuah pintu yang tampak seperti pintu gerbang kecil, ia melihat dua buah kolam yang dipisahkan oleh jalan setapak di tengahnya. Ukuran dua kolam tersebut berbeda, yang berada di sisi kiri tampak lebih besar dibandingkan yang di sisi kanan.

“Kolam ini dulunya, pada zaman pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I, digunakan oleh putra-putri dan para selir Sultan untuk mandi. Kolam yang digunakan oleh putra-putri Sultan dinamakan Umbul Kawitan, sedangkan kolam untuk para selir disebut Umbul Pamuncar,” Hans tiba-tiba sudah berdiri di samping Mandira yang masih termangu di tepi kolam. “Coba kamu lihat bangunan tinggi seperti menara di sisi sana,” Hans berkata sambil menjulurkan tangan, menunjuk sebuah bangunan yang sepertinya terdiri dari tiga tingkat dan terletak di ujung kolam yang berada di sebelah kiri jalan. Mandira mengikuti arah tangan Hans. Ia menolehkan kepalanya ke arah kiri. “Menara itu adalah menara pribadi Sultan. Melalui menara tersebut kita bisa melihat pantulan sinar matahari dari kolam. Selain itu kita juga bisa menikmati pemandangan Taman Sari secara umum. Nanti kita akan masuk ke dalam menara itu,” Hans tampak bersemangat ketika menceritakan tentang sejarah Taman Sari.

Ketika Hans akan menjelaskan tentang objek foto yang harus Mandira potret, ia mendapati gadis tersebut termenung menatap air kolam dan berdiri sangat dekat dengan salah satu tangga menuju kolam. “Sedang memikirkan sesuatu?” Ucapan Hans membuat Mandira tersadar dari lamunan dan menoleh ke arahnya. Ia tersenyum samar. “Apakah itu? Bolehkah aku tahu?” Hati Hans entah mengapa merasa terusik. Ia tahu Mandira sedang memikirkan tentang sesuatu hal. “Apakah kamu akan menertawakanku jika aku mengatakannya?” Sejak mereka makan siang tadi, Mandira memang tidak lagi menggunakan kata ‘saya’ dan ‘kakak’ ketika berbicara dengan Hans. Pria tersebut melarangnya. Katanya terlalu kaku dan formal.
“Aku tak akan tertawa. Aku Janji,” Hans hampir tidak dapat menahan untuk tertawa, namun ia berhasil terlihat serius. Ia ingin Mandira mengatakan tentang apapun itu hal yang ada di pikirannya. Mandira mengamati raut wajah Hans sekilas dan kemudian mengucapkan tentang mimpi dan imajinasinya, “aku ingin seperti Cinderella. Menemukan sebuah kebahagian sejati dan bertahan sampai akhir, tanpa ada kekecewaan.” Hans mengerutkan dahi, tampak sedang mencerna maksud dari kata-kata Mandira, sebelum akhirnya ia mengucapkan sebuah pertanyaan, “tanpa kekecewaan, apa maksudmu kamu takut disakiti oleh siapapun itu yang nantinya akan menjadi pangeranmu?”

Mandira tertawa, “Hans, mengapa tanggapanmu begitu serius? Semua gadis pasti ingin seperti Cinderella. Hanya itu.” Hans mengamati Mandira. Ia yakin gadis itu tidak sedang bercanda. Ia hanya tidak mau menjelaskan lebih detail tentang keinginannya, dan Hans tidak ingin terlihat memaksa. “Ok. Apapun itu, kita lupakan saja. Tapi sepertinya impianmu itu sangat bermanfaat bagi kita saat ini. Aku ingin kamu mengambil potret arsitektur kolam di depan kita. Ingat, gambar yang nantinya kamu hasilkan harus menggambarkan sebuah cerita dan mengeksplor sisi arsitektur kolam dan bangunan di sekitarnya,” Hans mencoba mengalihkan topik pembicaraan dengan kembali fokus pada tujuan mereka datang ke tempat ini.

Mandira menyadari bahwa Hans mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Ia senang akan kenyataan itu. Meskipun apa yang dikatakan Hans tentang dirinya yang tak ingin disakiti itu benar, namun ia tak ingin mengakuinya di depan pria itu. Ia tak ingin terlihat lemah dan cengeng. Akhirnya ia memutuskan untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh Hans. Pria tersebut menyerahkan kamera yang dari tadi dikalungkan di lehernya. Mandira menerima kamera itu dengan kedua tangan yang sedikit basah oleh keringat sehingga ia harus mengusapkan kedua telapak tangannya terlebih dahulu pada celana yang ia kenakan.

“Masih ingat cara memegang kamera yang benar seperti yang aku jelaskan kemarin, kan?” Hans bertanya kepada Mandira yang sudah mulai memeriksa pengaturan kamera dan bersiap memosisikannya di depan wajah untuk membidik objek di depan mereka. Mandira menganggukkan kepala sebagai respon atas pertanyaan Hans. “Bagus. Kalau begitu aku akan menunggu di belakangmu agar kamu bisa menggunakan kemampuan penglihatanmu dengan sempurna,” setelah berkata seperti itu Hans dengan cepat berjalan meninggalkan Mandira yang berdiri di depan pemandian dengan sebelah matanya memicing melihat objek melalui view finder dan sesekali mengamati objek yang sama pada layar LCD. Mandira tampak berkali-kali berganti posisi, mencari angle yang tepat. Tadi ketika ia sedang termenung, ia membayangkan seorang putri datang dari tepi kolam berjalan menuruni tiap anak tangga untuk sampai ke dalam kolam. Ia membayangkan bagaimana suasana di sekitar pemandian saat masih digunakan oleh keluarga keraton Yogyakarta—gemericik air dari pancuran yang ada di tengah kolam, wangi berbagai macam bunga yang tumbuh di samping kanan-kiri kolam, serta senda gurau putra-putri raja dan para selir yang sedang mandi—yang ingin ia tampilkan melalui sebuah gambar.

Setelah lebih dari tiga puluh menit akhirnya Mandira berhasil mengambil beberapa foto, ada foto pemandian, gapura agung—tempat kedatangan kereta kencana yang biasa dinaiki sultan dan keluarganya, serta tangga kayu di dalam menara pribadi sultan. Hans merasa foto-foto yang didapatkan oleh Mandira sudah lebih dari cukup sehingga mereka tidak lagi mengambil foto bangunan, melainkan menghabiskan waktu yang tersisa dengan berkeliling di area Taman Sari. Tepat pukul tiga sore mereka berdua meninggalkan Taman Sari dan melanjutkan perjalanan untuk hunting di Candi Prambanan.

Sekitar pukul 16.30 Hans dan Mandira berhasil sampai di area Candi Prambanan. Mereka berdua bergegas membeli karcis dan berjalan cepat ke arah gerbang masuk area candi. Mengejar sunset. Itulah tujuan mereka. Candi Prambanan adalah salah satu tempat yang sering digunakan oleh fotografer untuk mengabadikan momen sunset selain Candi Ratu Boko, Pantai Parangtritis, bukit bintang, dan area lainnya di Jogja.

Mandira dan Hans harus berjalan beberapa lama, melewati beberapa taman yang ditumbuhi oleh beberapa jenis pohon dan bunga serta dihiasi oleh air mancur dan lampu taman kuno berwarna cokelat tua dengan sinar putihnya yang tampak lembut. Dari kejauhan bangunan utama candi serta candi-candi kecil di sekitar candi utama tampak sebagai sebuah objek yang artistik dengan latar warna jingga keunguan dari langit dan sinar matahari di belakangnya. Mandira sesaat tak berkedip ketika menatap pemandangan di depannya. Ia memang jarang menikmati momen sunset. Ia lebih sering menikmati pemandangan langit malam yang dipenuhi ribuan bintang.

“Apakah kita harus mengambil foto arsitektur candi?” Mandira memutuskan bertanya kepada Hans karena ia merasa lebih ingin menikmati momen terbenamnya matahari sambil duduk di atas rumput yang tumbuh subur di area taman depan bangunan candi tempat mereka berada saat ini. Hans menoleh sejenak ke arah Mandira dan menghentikan langkahnya. “Rencananya seperti itu. Kita sudah membahasnya dalam perjalanan tadi kan? Atau adakah hal lain yang ingin kamu lakukan, Mandira?” Hans menghadap langsung ke arah Mandira dan menatap ke dalam mata gadis tersebut, mencoba menebak apa yang diinginkannya. Mandira kali ini tak menundukkan kepala, ia membalas tatapan Hans, namun dengan tatapan memohon. Dengan sedikit merajuk ia mengatakan, “aku ingin menikmati sunset, Hans. Di sini. Duduk di atas rumput. Tak bisakah kita hanya memotret keunikan candi dengan latar belakang matahari tenggelam?” Itulah pertama kalinya Mandira bersikap manja terhadap Hans setelah sebelumnya selalu mencoba untuk terlihat dewasa dan mandiri. Ia memang tidak bersikap manja terhadap sembarang orang. Biasanya ketika ia sudah merasa nyaman dengan seseorang, barulah ia akan terbiasa untuk bersikap manja.

Hans tersenyum lebar sambil menatap bola mata Mandira yang terlihat sangat bening dan bersinar cerah. Ia mengulurkan tangan ke arah kepala gadis tersebut dan sedikit mengacak poninya. “Boleh dik..kita tak perlu memotret candi dari dekat sekarang ini jika kamu lebih suka berada di sini, di taman ini,” Hans kembali menarik tangannya. Mandira tersipu dan sedikit kikuk. Ia tampak salah tingkah. “Adik?” Hanya kata itu yang mampu terucap dari mulutnya. Mandira entah mengapa merasakan bahwa hatinya sedikit membuncah ketika mendengar Hans memanggilnya dengan sebutan ‘adik’. Hans kembali tersenyum, kemudian berjalan ke arah kanan untuk duduk di bawah pohon yang cukup rindang. Mandira mengikutinya dari belakang. “Bolehkah aku memanggilmu seperti itu?” Hans bertanya ketika ia sudah dalam posisi siap untuk duduk di bawah pohon. Ia menepuk-nepuk tanah yang ada di sampingnya dan melihat Mandira yang hanya berdiri kaku di depannya. Hans memberikan isyarat kepada Mandira agar segera duduk di sampingnya yang langsung diikuti oleh Mandira.

“Boleh kok Hans. Sama sepertiku yang lebih suka memanggilmu dengan nama saja, tanpa ‘kakak’ atau ‘mas’,” Mandira menarik lututnya ke atas dan tangannya bergerak untuk memeluk kedua lututnya. Posisi duduk yang sangat disukainya, terlebih jika sedang berada di atas rumput seperti sekarang. Ia menunduk, memandangi ujung sepatunya. Sementara itu, kedua ujung bibir Hans tampak tertarik keluar dan membentuk seulas senyum tipis. “Makasih dik,” Hans mengucapkannya dengan dalam dan hal itu membuat Mandira tertular oleh senyuman Hans. Ia tersenyum samar.

Empat puluh lima menit kemudian Hans sudah berada di posisi siap untuk membidik momen sunset. Ia saat ini sedang dalam posisi setengah berjongkok di depan Mandira, namun menghadap ke barat—ke arah bangunan candi dan tempat matahari berada—sedangkan Mandira menghadap ke selatan. Dari puluhan menit yang lalu, Mandira diam-diam mencuri pandang ke arah Hans. Ia menikmati ketika melihat pria tersebut mempersiapkan pengaturan kamera untuk memotret sunset. Bagaimana cara Hans menjelaskan tentang pentingnya pengaturan manual seperti sensor sensitivitas cahaya (ISO), aperture dan exposure, serta zooming membuat Mandira tambah mengagumi pria itu. Hans juga menjelaskan tentang pentingnya penggunaan live view atau gambar objek yang tampak di layar LCD ketika kita sedang memotret sunset maupun sunrise. Mandira mengagumi pengetahuan Hans tentang efek kebutaan yang akan ditimbulkan jika kita menggunakan view finder pada saat seperti ini. Ia tahu Hans adalah anak Teknik Fisika sehingga dapat dipastikan paham tentang teori cahaya dan bagian-bagian dari mata, namun Mandira tetap menyukai dan tertarik ketika Hans menjelaskan mengenai hal tersebut kepadanya. Mandira menyukai pria pintar, dan Hans termasuk dalam kategori tersebut.

Mandira mengamati Hans yang tampak berkali-kali membidikkan kameranya ke arah matahari. Kadang pandangan matanya juga tertuju ke arah matahari. Ia mengakui keindahan fenomena alam yang saat ini sedang dilihatnya. Bentuk matahari yang bulat—bertengger tepat di atas batas horizon—dengan sinar warna jingga yang mengelilinginya merupakan paduan tepat bahkan bisa dikatakan mendekati sempurna ketika secara lebih detail kita memperhatikan warna-warna di sekitar warna jingga. Mandira melihat adanya gradasi warna, dimulai dari warna jingga, kemerahan, ungu, sampai kemudian kembali lagi ke biru, menyatu dengan warna langit. Sejenak ia tak berkedip. Meskipun dirinya tak begitu mengerti tentang teori warna, namun matanya tidak salah ketika menyimpulkan bahwa apa yang dilihatnya saat ini adalah sebuah karya seni terbaik.

Hans menepuk pundak Mandira dengan lembut ketika mendapati gadis tersebut sedang asyik menikmati keindahan langit. Ia telah selesai memotret dan akan mengajak Mandira untuk segera meninggalkan tempat tersebut. Mereka akan ke malioboro. Mungkin juga makan malam dapat dimasukkan ke dalam agenda mereka jika waktunya cukup.

Mandira menoleh dan mendapati Hans sedang tersenyum lebar dan menatap dirinya dengan lembut. “Sudah selesai? Apakah aku tidak seharusnya mengambil gambar juga, Hans? Bagaimanapun ini adalah tugasku,” Mandira baru menyadari jika seharusnya ia yang memotret, sama seperti ketika mereka berada di Taman Sari siang tadi. Hans berdiri, mengulurkan tangan ke arah Mandira untuk membantu gadis tersebut berdiri. Mandira mendongakkan kepala dan saat itu juga matanya bertemu dengan tatapan teduh Hans. “Ayo... kita harus cepat. Aku lapar dan seniman jalanan malioboro sudah menunggu kita,” Hans mengakhiri perdebatan sebelum Mandira memulainya. Sejenak Mandira menatap ragu ke arah uluran tangan Hans sebelum akhirnya ia menerima dan membiarkan begitu saja saat pria tersebut menggenggam dan menggandeng tangannya. Mereka berdua berjalan bersisian dalam diam dan meninggalkan area candi Prambanan menuju tempat parkir.

Toyota Starlet melaju dengan kecepatan rata-rata meninggalkan area candi Prambanan. Hans dan Mandira yang berada di dalamnya sama-sama terdiam, tidak mengeluarkan sepatah katapun. Mandira sibuk menenangkan diri, karena ia merasa detak jantungnya kali ini tidak senormal biasanya. Iramanya tak beraturan. Di sampingnya, Hans mencoba mengurai perasaan aneh yang seketika menyelimuti hatinya. Kulit tangannya masih terasa hangat, meskipun ia sudah melepaskan tangan Mandira dari genggamannya sejak masuk ke dalam mobil tadi.

Empat puluh lima menit kemudian Hans membukakan pintu untuk Mandira. Meskipun Mandira masih mencoba melihat sekeliling untuk menebak di mana kini ia berada, namun ia tetap mengangkat kakinya, berusaha keluar dari dalam mobil. “Kita di mana, Hans?” Ekor matanya memerhatikan keadaan sekitar, namun ia masih tak menemukan petunjuk untuk memperjelas keberadaannya. Petunjuk satu-satunya yang dapat ia lihat adalah spanduk yang bertuliskan nama sebuah tempat makan. Hans tersenyum, sekali lagi menggenggam tangan Mandira, menggandengnya menuju sebuah meja kosong yang terletak di ujung teras bangunan yang tampaknya sudah tidak terpakai lagi.

“Kamu bisa makan di tempat lesehan seperti ini kan?” Hans bertanya tanpa menoleh ke arah Mandira. Matanya sibuk mengamati kalau-kalau ada pelayan yang lewat dan membawakan kertas menu. Mandira melihat meja-meja lain yang sudah terisi, termasuk yang bukan lesehan. Sebenarnya ia tidak terbiasa makan di tempat seperti ini, namun instingnya berkata bahwa ia harus percaya kepada Hans. “Bisa kok, Hans. Asal menunya tidak membuatku kecewa, aku bisa makan,” Mandira sedikit tertawa setelah mengucapkan kalimat candaannya tersebut.

Sesaat mereka berhenti bercakap-cakap karena ada seorang pelayan yang menghampiri meja mereka berdua dengan membawa kertas menu. Hans menerimanya dan mulai memilih menu makananan dan minuman. Setelah itu ia menyerahkan kertas tersebut kepada Mandira. “Tempat ini merupakan salah satu warung makan lalapan yang terkenal di Jogja. Semua makanan yang ditawarkan adalah khas Nganjuk, Jawa Timur. Yang paling khas di sini adalah sambalnya. Beda dari warung makanan lalapan yang lainnya. Di sini sambalnya dilengkapi dengan irisan jeruk limau,” Hans dengan lancar menjawab semua keingintahuan Mandira yang sejak tadi seolah diacuhkannya.

Mata Mandira menelusuri satu persatu menu yang ada di kertas yang saat ini ia pegang. Ia melihat pesanan Hans. Oseng daun pepaya dan tempe penyet, serta dua gelas es teh tawar. Pesanan yang aneh menurut Mandira. Ia masih berpikir untuk menentukan menu pesanannya ketika suara yang keluar dari mulut Hans mengagetkannya, “Kamu pernah makan nasi bakar? Di sini nasi bakarnya terkenal enak dan hanya tersedia saat malam hari seperti sekarang. Empal dan paru gorengnya juga patut dicoba.” Mandira menatap Hans sesaat dan tersenyum, sebelum akhirnya ia menetapkan pilihan. Nasi bakar, empal goreng, dan es kelapa muda. Ia ingin mencoba paru goreng, namun ragu karena belum pernah memakannya, sehingga akhirnya ia memutuskan memesan empal goreng saja. Ia menyerahkan kertas menu kepada Hans untuk diberikan kepada pelayan yang kebetulan sedang mengantarkan makanan di meja sebelah mereka berdua.

Sambil menunggu pesanan, Mandira kembali melayangkan pandangannya ke sekeliling. “Gedung ini, dulunya gedung apa, Hans?” Mandira bertanya sambil masih memerhatikan sekitar. “Gedung ini dahulu digunakan untuk bioskop, sebelum banyak bioskop di kota ini. Sayang, akhirnya harus tutup karena ada isu tentang peletakan jarum suntik di masing-masing kursinya untuk menjebak penonton,” Hans sedikit mengingat-ingat kejadian yang pernah diceritakan oleh senior kampusnya, karena ia sendiri juga tidak mengetahui perihal isu tersebut. Mandira tertarik dengan penjelasan Hans sehingga sepenuhnya mengalihkan pandangannya dari sekitar ke arah wajah Hans. “Benarkah? Jadi bioskop ini bangkrut gara-gara isu tersebut? Apakah hanya sekedar isu atau kejadian itu benar-benar ada?” Mandira mencoba menganalisis, seperti kebiasaannya ketika menemukan suatu kasus yang menarik. Ia teringat saat perjalanan ke tempat ini tadi melewati sebuah bioskop mewah di sisi kiri jalan. Sayangnya jawaban yang diberikan oleh Hans memaksanya untuk tidak memikirkan hal itu lagi. “Aku tidak tahu. Yang jelas setelah isu jarum tersebut merebak, bioskop ini sepi pengunjung hingga akhirnya tutup dan seperti yang kamu lihat sekarang, tempat makan khas Nganjuk inilah yang akhirnya menempati lokasi ini.” Sebenarnya Mandira masih ingin menanyakan beberapa hal kepada Hans, namun ada seorang pelayan yang datang membawakan pesananan mereka. 

Setelah pelayan tersebut menata semua pesanan mereka di atas meja, Hans memberitahu Mandira agar segera menikmati makanannya sebelum mereka kemalaman sampai di Malioboro. Mandira sedikit kecewa, namun hal itu tidak berlangsung lama. Ia tersenyum setelah mencicipi sedikit makanannya, “kamu benar, Hans. Tempat ini memang menawarkan menu yang sangat enak.” Hans membalas senyuman Mandira, “Kalau begitu segera habiskan makananmu, ya. Hati-hati dengan sambalnya, pedasnya pasti akan membuatmu ketagihan.” Mandira tertawa kecil dan kemudian mereka berdua makan dalam diam.

Segera setelah Hans dan Mandira menghabiskan makanan masing-masing, mereka berdua bergegas meninggalkan tempat tersebut karena sudah hampir jam setengah delapan malam. Bahkan Mandira tidak sempat mempermasalahkan hal yang biasanya selalu ia permasalahkan, yaitu mengenai siapa yang membayar makanan mereka. Hans mengendarai mobil dengan kecepatan sedikit di atas rata-rata. Ia khawatir jalan Malioboro macet dan susah mendapatkan tempat parkir yang aman, meskipun ia sudah memilih jalan yang menurutnya paling jarang macet, yaitu rute ke arah Kridosono.

Sudah hampir jam setengah sembilan malam ketika mereka berdua sampai di jalan Malioboro. Hans memilih memarkir mobilnya di halaman benteng Vredeburg. Untung saja masih ada beberapa tempat yang tersedia. Ia mengambil tas kamera yang ada di jok belakang kemudian membukakan pintu untuk Mandira. Ia mengulurkan tangan, membantu Mandira keluar dari dalam mobil. Ketika ia melihat Mandira meraih tasnya, dengan cepat ia berkata, “tinggalkan saja tasmu di dalam mobil, dik. Nanti kita harus jalan kaki sedikit ke arah perempatan kantor pos besar. Tas itu nantinya akan menambah beban jika kamu bawa.” Mandira mengangguk dan mengambil dompet serta ponselnya yang ada di dalam tas tersebut kemudian meletakkan tasnya begitu saja di kursinya. 

Mereka berdua berjalan bersisian. Tas kamera tergantung di leher Hans, tangan kirinya menggenggam tangan kanan Mandira. Terdapat kecanggungan di antara keduanya, namun dengan cepat Hans berhasil menguasai keadaan dan mencoba mencairkan keadaan dengan mengajak Mandira untuk berdiskusi tentang foto yang akan mereka ambil kali ini. “Kali ini kita akan mengambil foto jenis night photography, street photography, atau bisa juga culture photography. Menurutmu jenis fotografi yang mana yang cocok dengan keadaan Malioboro kali ini, dik?” Hans menunggu agak lama, sampai mereka sudah berada di dekat musisi jalanan yang ada di sudut perempatan, di bawah lampu lalu lintas. Ia memandang Mandira sekilas, namun yang ia lihat dari wajah gadis tersebut adalah mimik yang menggambarkan kekaguman. Ia mengikuti arah pandangan mata Mandira sampai matanya bertemu dengan sesosok laki-laki—salah satu pemain musik dari kelompok musisi jalanan yang sedang bermain di depan mereka—sedang memainkan perkusi, wajahnya terlihat sangat ceria, dengan senyuman hangat yang dipersembahkan untuk setiap penonton yang ada di sekitarnya. Hans kembali menatap Mandira, kemudian tersenyum. Pantas saja gadis itu tidak menjawab pertanyaannya, ternyata ia sedang terpana dengan pemandangan di depannya. Hans memakluminya karena waktu dulu pertama kali ia melihat musisi jalanan ini bermain, ekspresinya juga sama dengan Mandira. Hans akhirnya lebih memilih untuk memberikan waktu bagi Mandira supa gadis itu bisa menikmati musisi jalanan yang mungkin baru pertama kali ini di lihatnya.

Hampir sepuluh menit lamanya mereka berdua berdiam diri, sampai kemudian Mandira melepaskan tangannya dari genggaman Hans dan menatapnya dengan senyum lebar. “Hans, aku ingin mengabadikan momen ini. Bisakah aku memotret mereka semua, namun hanya berfokus di satu orang saja?” Mandira mengusik ketenangan Hans yang juga masih menikmati permainan musik yang ia lihat dan dengar. Ia sedikit mengerutkan dahi, mencoba menelaah maksud dari pertanyaan Mandira. “Mengapa kamu tiba-tiba mempunyai ide seperti itu, dik?” Hans akhirnya bertanya secara langsung kepada Mandira karena ia tak ingin salah menyimpulkan. Ia butuh alasan. Mandira lagi-lagi kembali tersenyum lebar, kemudian berkata sambil tangannya menunjuk ke arah pemain perkusi yang dari tadi ia perhatikan, “coba kamu perhatikan, Hans. Laki-laki itu tersenyum lebar, tampak sangat ceria, seolah ia ingin menunjukkan kepada semua penontonnya kalau dirinya sangat bahagia. Tetapi coba kamu perhatikan baik-baik raut wajahnya. Apakah kamu menemukan sesuatu yang kontras dengan senyumannya? ”

Hans mau tidak mau kembali memperhatikan pemain perkusi yang ditunjuk oleh Mandira. Ia mencoba mengamati dengan seksama, meneliti setiap bagian dari raut muka laki-laki tersebut. Butuh waktu lebih dari sepuluh menit sampai matanya menemukan sesuatu yang aneh. Beberapa garis halus tampak di dahi laki-laki itu. Ada sekitar tiga garis yang mungkin bisa disebut sebagai kerutan atau keriput. Hal yang wajar, namun mengapa Hans merasa bahwa hal tersebut merupakan suatu keanehan? Terlebih lagi Mandira juga menyuruhnya untuk menemukan sesuatu yang kontras dengan senyuman laki-laki itu, sebuah hal yang mengindikasikan bahwa gadis tersebut juga menemukan suatu keanehan yang terdapat pada raut muka pemain perkusi di depan mereka. Apakah Mandira juga melihat kerutan halus yang terdapat pada dahi laki-laki tersebut?

Seolah bisa membaca pikiran Hans, Mandira memberikan sebuah pernyataan yang merupakan suatu jawaban bagi pertanyaan Hans yang masih ada di dalam hati, belum ia ucapkan di depan gadis itu. “Menurutku laki-laki itu belum terlalu tua, Hans. Mungkin umurnya malah belum genap 40 tahun. Ia tidak seharusnya mempunyai kerutan di wajahnya dengan usia yang belum terlalu tua itu. Meskipun ia tersenyum ceria, namun aku bisa melihat kalau hidupnya tidak seceria senyumannya. Guratan itu adalah buktinya, Hans. Mungkin ia bisa menutupinya dengan senyuman, namun wajahnya tak bisa membohongi kita,” Mandira memberikan sebuah analisis tajam, persis dengan apa yang sudah diduga oleh Hans sebelumnya.

“Kamu benar, Mandira,” Hans berkata sambil mengeluarkan kamera dari dalam tas, kemudian memencet beberapa tombol untuk menyesuaikan pengaturan. Sambil tersenyum, ia kembali berkata kepada Mandira, “portrait photography, itulah jenis foto yang akan kita ambil malam ini. Jenis fotografi ini berfokus pada ekspresi seseorang. Meskipun biasanya model selalu dipersiapkan terlebih dahulu untuk melakukan pemotretan jenis ini, namun aku kira kita bisa membuat pengecualian kali ini. Guratan halus di wajah pemain perkusi itu adalah suatu hal yang alami. Hasilnya akan bagus jika kamu memotretnya dengan angle yang benar. Kamu akan mendapatkan banyak cerita ketika nanti melihat hasil potretanmu.”
Mandira mencoba mencerna pelan-pelan semua penjelasan Hans. Portrait photography. Ia tidak tahu banyak tentang jenis fotografi ini. Ekspresi. Itulah inti dari penjelasan Hans yang dapat ia tangkap. “Jika kita memotret seseorang yang sedang gembira, menangis, ataupun sedih, apakah itu juga termasuk portrait photography?” Mandira menyuarakan apa yang ada di dalam pikirannya. “Benar sekali, Mandira. Sekarang lebih baik kamu mencoba mengambil beberapa potret dari pemain perkusi itu. Usahakan mengatur zooming dan jadikan pemain perkusi itu sebagai titik fokus dengan pemain alat musik lainnya sebagai latar. Zoom tepat di sekitar wajah, agar senyum dan guratan di dahi laki-laki itu sama-sama terlihat.”

Mandira mengangguk dan menerima kamera yang diserahkan oleh Hans ke tangannya. Ia berjalan melewati beberapa penonton yang ada di sampingnya. Ia ingat kakaknya pernah bercerita bahwa angle yang bagus untuk memotret adalah pada titik 1/3 dari luas frame yang ia tentukan. Mandira tidak pernah menerapkan teori tersebut, namun kali ini ia ingin mencobanya.

Sementara Mandira sedang sibuk mencari momen dan angle yang pas buat memotret, Hans masih berdiri di tempatnya semula. Ia membiarkan Mandira berjalan mendekati pemain perkusi. Hans mengamati segala gerak-gerik gadis itu. Dilihatnya Mandira melangkah semakin dekat dengan pemain perkusi di depannya, dan gadis itu berhenti setelah mencapai jarak sekitar dua meter di sisi kanan laki-laki yang akan dipotretnya. Hans mengira bahwa Mandira akan memotret tepat dari sisi samping objek, namun ternyata perkiraannya salah. Gadis itu melangkah pelan-pelan ke sisi depan pemain perkusi sambil sesekali mengamati objek yang akan dibidik melalui view finder. Hans melihat bahwa langkah Mandira kembali terhenti setelah ia mencapai titik 1/3 dari arah samping pemain perkusi kemudian gadis itu beberapa kali memotret dengan cepat. Pada saat itulah Hans merasakan bahwa jantungnya berdetak lebih cepat dan tanpa sadar ia tersenyum sendiri. Hans tak mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya, namun yang ia tahu, ia merasa senang ketika mengamati Mandira sedang memotret. Semula ia berpikir bahwa mungkin saja perasaan senangnya itu muncul karena ia akhirnya menemukan sosok gadis yang bisa memotret, atau lebih tepatnya mau memotret dan dengan gigih berusaha untuk bisa memotret. Tetapi semakin lama ia memerhatikan Mandira yang sedikit membungkuk saat memotret, yang ia rasakan bukan lagi hanya rasa senang. Ada perasaan lain yang lebih dari sekedar rasa senang. Ia tak bisa mendeskripsikan perasaannya secara jelas. Yang bisa ia gambarkan hanyalah rasa deg-degan ketika melihat Mandira yang tampak seksi saat memegang kamera dan membidik objek di depannya.

Meskipun Hans tak banyak berinteraksi dengan wanita dan lebih sering memilih untuk menghabiskan waktunya dengan membaca buku-buku tebal serta memotret, ia dapat mengenali jenis perasaan yang sedang ia rasakan saat ini. Ia tertarik pada Mandira. Baik fisik maupun hatinya menunjukkan semua tanda-tanda tersebut.

Mandira mengamati Hans yang masih menatap lurus ke depan. Semula ia menduga bahwa Hans sedang menikmati pertunjukan musik yang ada di depannya, namun ternyata dugaannya salah. Ketika beberapa menit yang lalu ia beberapa kali mencoba memanggil Hans dan melambaikan tangannya namun tak ada respon, Mandira akhirnya menyerah dan memilih untuk mendekati Hans.

Samar-samar Hans mendengar namanya dipanggil. Makin lama suara yang ia dengar makin jelas dan keras, seakan dengan sengaja diteriakkan oleh seseorang di dekat telinganya.Hans tersentak dan dalam sekejap sadar dari fantasinya tentang Mandira ketika akhirnya ia mengenali suara yang dari tadi meneriakkan namanya. Suara Mandira. Apa yang dilakukan Mandira di sebelahnya? Dan mengapa gadis itu memanggilnya dengan cara berteriak seperti itu? Seingat Hans Mandira tadi masih memotret.

“Akhirnya kamu mendengar panggilanku juga, Hans. Hampir saja tadi aku mengguncang tubuhmu jika sekali lagi aku memanggil namun kamu tidak juga merespon,” Mandira langsung mengeluarkan semua kata-kata yang ada di dalam benaknya begitu ia melihat tubuh Hans bergerak dan sedikit menoleh ke samping, ke arahnya. Respon yang Mandira dapati sungguh tidak disangka-sangkanya. Hans tersenyum lebar, kemudian meraihtali kamera yang masih menggantung di leher Mandira kemudian merapikan serta memasukkannya ke dalam tas kamera yang tersampir di pundaknya.

“Mari kita pulang sekarang, Mandira. Sudah malam, sudah jam sepuluh lebih. Nggak baik kalau gadis sepertimu pulang selarut ini, meskipun ada yang mengantar,” tanpa menunggu jawaban Mandira, Hans sudah berjalan mendahuluinya menuju tempat mobilnya diparkir. Mau tidak mau Mandira segera mengikutinya, karena sepertinya Hans sudah tidak akan mengeluarkan sepatah katapun.

Meskipun Hans berjalan dengan sedikit tergesa dan terlihat selalu memandang lurus ke depan, namun ia sesekali melirik ke samping untuk memerhatikan reaksi Mandira atas sikapnya. Mandira tampak menunduk, seolah tak berani melihatnya. Hans merasa bersalah. Mungkinkah ucapannya tadi terlalu kasar? Nyatanya ia hanya ingin menutupi perasaannya yang tidak menentu dan menahan agar detak jantungnya tetap normal. Untuk mengurangi rasa bersalahnya, ia mencoba meraih tangan kiri Mandira dan menggandengnya. Ia dapat merasakan sejenak bahwa tubuh Mandira sedikit menegang, namun gadis itu tidak berusaha melepaskan gandengannya. Ia dan Mandira berjalan bersisian—dalam diam—sampai akhirnya ia melepaskan tangan Mandira untuk membukkaan pintu mobil di sisi penumpang dan membiarkan Mandira masuk. Dengan cepat Hans berjalan memutari bagian depan mobilnya untuk mencapai sisi pengemudi.

Perjalanan pulang Mandira dan Hans diselimuti keheningan. Tak satupun dari mereka yang mencoba memecah kesunyian. Tampaknya mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Mandira mencoba mencerna semua hal yang baru saja terjadi. Perubahan sikap Hans yang mendadak menjadi kaku membuatnya berpikir bahwa ia telah melakukan kesalahan. Sementara Hans, ia sibuk menata hati. Sekelebat bayangan Mandira ketika memotret muncul di benaknya. Mengapa jantungnya berdetak lebih cepat ketika tadi ia mengamati setiap gerakan gadis itu? Bahkan sampai saat inipun, ketika hanya bayangannya saja yang tersisa, hal itu masih membuat ritme jantungnya tak beraturan. Mungkinkah ia sudah tidak waras? Atau jangan-jangan?

***

Monday, February 20, 2017

A Cup of Espresso

PART 3

[Jika kau ada, maka hati kan merasa.
Jika kau kan datang, maka sebuah pertanda menyapa.
Meskipun kau dan aku tak meyakini, namun takdir tetap menunjukkan jalannya.

Kita satu meskipun belum menyatu.
Kau dan aku, dua raga namun satu hati.
Aku adalah setengahmu,
Kau adalah setengahku.] 

(“Belahan Jiwa”, Penulis, 2013)

Keesokan harinya Mandira terbangun dengan keadaan tubuh menggigil dan keringat dingin bercucuran yang meninggalkan bekas basah di sprei tempat tidur. Napasnya masih tersengal ketika ia berusaha menyingkirkan selimut yang membungkus kakinya. Mandira membutuhkan air minum sehingga meskipun ia masih belum sepenuhnya sadar, kakinya turun dari ranjang dan berusaha berjalan ke sudut ruangan, menuju dispenser. Tangannya masih gemetaran saat ia mengambil gelas dan menggerakkan kran dispenser agar airnya keluar. Dengan sekali teguk air di dalam gelas yang ia pegang langsung habis. Hal itu membuatnya tersedak dan terbatuk-batuk dalam waktu yang cukup lama. Setelah batuknya berhenti, ia meletakkan gelas di meja samping dispenser dan kembali ke ranjang.

Kali ini Mandira tidak berbaring. Ia menarik sprei basah di bawahnya karena tak ingin mendudukinya, dan melemparkan sprei tersebut ke dalam keranjang pakaian kotor yang terletak di dekat pintu kamar mandi. Setelah itu ia menaikkan kedua kakinya ke atas, bersandar pada tembok dan kemudian memeluk lututnya yang sudah ditekuk. Ia mencoba menelaah mimpi yang baru saja dialaminya, sebuah mimpi aneh yang membuatnya terpaksa bangun di pagi buta. Ia melirik jam meja di samping tempat tidur. Masih jam empat pagi.

Mandira ingat betul bahwa sebelum ia tertidur, ia memikirkan Hans, bukan orang lain seperti pria asing yang hadir dalam mimpinya tadi. Ia merasa benar-benar yakin bahwa dirinya tidak pernah mengenal pria itu sebelumnya. Seorang pria yang jelas-jelas bukan orang Indonesia. Ingatannya masih sepenuhnya jelas terkait pria tersebut. Bagaimana rambut cokelatnya yang agak ikal dengan tepatnya sedikit menutupi dahi. Sorot matanya yang tampak sangat kelam meskipun bola mata itu sendiri tidak berwarna hitam, namun cokelat seperti rambutnya. Garis tegas di wajahnya yang terlihat seperti dewa-dewa zaman kerajaan Romawi dan Yunani membuat Mandira meyakini bahwa pria tersebut adalah orang Eropa, meskipun ia tidak dapat memastikan tepatnya dari negara mana.

Ia termenung, memikirkan arti mimpinya. Meminta pertolongan. Pria di mimpinya itu meskipun tidak berkata dengan jelas namun Mandira melihat mulutnya mengeluarkan sebuah kata yang entah bagaimana caranya ia tahu bahwa kata yang diucapkannya adalah ‘tolong aku’. Pada saat pria tersebut mengucapkan kata ‘tolong aku’, tangannya terulur, berusaha menggapai ke arah Mandira yang berdiri di depannya. Mandira ingin menolong pria itu, namun kakinya tak bisa digerakkan, seolah lengket dan menyatu dengat lantai tempatnya berdiri. Hingga akhirnya pria bersetelan hitam-hitam itu tersedot ke dalam sebuah pusaran gelap dan sedikit demi sedikit menghilang. Tepat saat pria tersebut menghilang itulah Mandira terbangun.

Meskipun telah berpikir sangat keras, namun Mandira benar-benar tidak dapat menafsirkan arti mimpi yang dialaminya tadi. Ia sadar betul bahwa pria yang hadir di mimpinya itu bukan merupakan salah seorang kenalannya. Meskipun teman-teman semasa sekolahnya dulu banyak yang mempunyai darah campuran asing, namun ia tak merasa salah satu dari mereka mirip dengan pria yang ada di mimpinya. Teman-teman kantor Arya yang sebagian besar juga merupakan orang asing karena Arya bekerja di sebuah perusahaan multinasional yang bergerak di bidang energi juga tak ada satupun yang mirip dengan pria tersebut. Ia sangat hafal wajah teman-teman kakaknya tersebut karena setiap akhir pekan mereka sering ikut berkumpul di rumah orang tuanya untuk makan malam bersama.

Mandira menghentikan pemikirannya tentang mimpi aneh yang dialaminya tepat saat ponselnya berbunyi dengan sebuah nada yang menandakan bahwa ada pesan masuk. Segera perhatiannya teralihkan dengan adanya pesan tersebut. Ia melepaskan pelukan di lututnya dan bergerak ke tepi ranjang untuk mengambil ponsel yang diletakkannya di meja sejak tadi malam. Sebuah pesan dari Hans membuatnya tersenyum. Hans menanyakan apakah ia sudah bangun dan mengingatkannya untuk tidak minum kopi sebelum Mandira memakan sesuatu terlebih dahulu. Wajahnya memerah seperti tomat. Meskipun ia tidak dapat melihatnya sendiri secara langsung, namun rasa panas yang menyelimuti pipinya sudah cukup menjelaskan semuanya. 

Mandira membalas pesan dari Hans setelah ia beberapa kali bernapas yang ia pikir dapat menghilangkan rasa panas yang saat ini tak hanya ada di pipinya, namun semakin menjalar ke seluruh tubuh. Beberapa saat setelah itu ia baru sepenuhnya tersadar. Astaga, Hans menanyakan apakah ia sudah bangun, berarti sudah waktunya orang bangun tidur, batinnya. Pemikirannya dibenarkan oleh angka pada jam digital ponselnya yang menunjukkan pukul 06.15, dan seketika itu juga Mandira terlonjak, setengah melompat dari tempat tidur. Tanpa disadari ia sudah merenung selama dua jam lebih. Ia ada jadwal kuliah jam delapan nanti dan sebelumnya ia harus menyempatkan diri untuk sarapan agar perutnya tidak protes saat berada di kelas serta setelah itu harus mencetak hasil rangkumannya yang sudah ia simpan dalam flashdisk. Dengan tergesa ia menyambar handuk yang ada di gantungan baju dan menghambur ke dalam kamar mandi.

***

Mandira memasuki ruang kelas dengan napas tersengal-sengal. Dari rental komputer tadi ia berlari sampai ke kampus. Untung saja ia belum terlambat. Masih ada waktu lima menit untuk mengatur napas dan meneguk air mineral dari botol yang ia bawa. Setelah pukul delapan lewat sepuluh menit seorang dosen memasuki kelas dan waktu berjalan begitu saja sampai sekitar pukul sembilan lebih empat puluh menit kelas dibubarkan. Mandira mempunyai waktu dua puluh menit untuk istirahat sebelum kelas mata kuliah selanjutnya dimulai pada pukul sepuluh. Ia hanya menghabiskan waktu dengan tetap duduk di kursinya karena kebetulan kelas selanjutnya terletak di ruangan yang sama. Untuk membunuh waktu, Mandira memilih mengecek ponselnya yang tidak sempat dilihatnya sejak keluar dari kamar kosnya tadi pagi. Ada beberapa pesan masuk, dari mamanya, kakaknya, dan dari Hans. Dengan cepat ia membalas pesan dari mama dan kakaknya, kemudian perhatiannya fokus pada pesan dari Hans. Mandira tersenyum saat membaca pesan dari Hans. Pria itu mengingatkannya tentang janji pertemuan mereka nanti siang.

Mata kuliah selanjutnya berlangsung lancar meskipun Mandira merasa bahwa waktu berjalan dengan sangat lambat. Mungkin karena ia sudah tak sabar untuk melihat wajah Hans. Baru membayangkan saja sudah membuat Mandira terlihat seperti orang gila. Dengan susah payah ia berhasil mengusir bayangan wajah Hans dari pikirannya dan mengikuti penjelasan dosen yang ada di depan kelas.

Pukul dua belas kurang dua puluh menit kelas dibubarkan. Mandira telah membereskan barang-barangnya dan memasukkan ke dalam tas sesaat sebelum kelas dibubarkan tadi, sehingga saat ini ia bisa langsung keluar dari kelas mendahului teman-temannya. Ketika ia melewati beberapa kursi yang ada di dekat pintu keluar teman-temannya yang duduk di kursi tersebut yang menyapa dan ia hanya memilih menanggapi dengan tersenyum serta menganggukkan kepala. Meskipun kemarin saat ospek mereka sudah saling mengenal satu sama lain, namun kali ini ia tidak ingin mengobrol lebih jauh dengan teman-temannya. Ia ingin keluar lebih cepat dari kelas dan segera menuju ke foodcourt untuk menemui Hans. Ketika ia keluar dari kampus dan berjalan beberapa saat sampai di dekat sebuah bank yang terletak di samping kampusnya, secara kebetulan ada seorang tukang becak yang sedang menunggu penumpang. Meskipun letak foodcourt tidak terlalu jauh dari kampusnya, namun dengan naik becak ia bisa menghemat waktu dan tenaga karena matahari bersinar sangat terik di atasnya sampai terasa seperti akan membakar kepala.

Setelah memberikan selembar uang lima ribuan kepada tukang becak yang mengantarnya ke foodcourt, Mandira memasuki tempat tersebut dan mencari keberadaan Hans. Saat jam makan siang seperti ini foodcourt selalu penuh sesak, bahkan meja kursi yang digunakan untuk duduk secara lesehan dan terletak di bagian tengah ruangan dengan lantai lebih tinggi dari sekitarnya tak ada yang kosong satupun. Mandira meneruskan langkah kakinya sampai ke bagian belakang tempat tersebut dan saat itulah ia melihat Hans tersenyum lebar, sedang melambaikan tangan ke arahnya. Hans duduk di bangku panjang dengan beberapa pria lain yang tampak seperti teman-temannya. Mereka sedang asyik mengobrol, namun saat melihat Hans melambaikan tangan ke arah Mandira, sontak semua kepala menoleh ke arahnya. Teman-teman Hans yang semuanya pria mengamatinya sejenak dan segera setelah Mandira sampai di dekat mereka, satu per satu dari mereka mulai berdiri, tersenyum ke arahnya, menepuk bahu Hans dan kemudian berlalu dari hadapan Mandira dan Hans.

Hans mempersilahkan Mandira duduk. Ia memilih bangku kosong yang ada di hadapan pria tersebut. Sejenak mereka hanya diam, menunggu petugas foodcourt mengambil piring-piring kosong bekas makanan teman-teman Hans. Setelah petugas tersebut meninggalkan meja mereka, barulah Hans memulai percakapan. “Kamu mau makan apa? Biar aku pesankan. Keadaan sangat ramai, kasihan kamu kalau harus berdesak-desakan dengan mereka,” tangan Hans menunjuk kerumunan mahasiswa yang berjubel, memenuhi setiap stand penjual makanan di samping kanan kiri meja mereka. “Aku bisa memesan sendiri. Kakak tak perlu repot-repot,” Mandira menolak bantuan Hans. Ia memang tak terbiasa menerima bantuan orang lain dengan mudah, terlebih jika datangnya dari seorang pria yang belum lama dikenalnya. Meskipun Hans tampaknya adalah seorang pria baik, namun Mandira tetap harus menjaga jarak di antara mereka berdua.

Hans tersenyum, menyadari bahwa Mandira masih berusaha menjaga sikap sopan di hadapannya. Gadis itu tak mau terlihat lemah di hadapan pria, batinnya. “Aku tidak repot, Mandira. Lagipula aku sering makan di sini, jadi mungkin kalau aku yang memesankan makananmu akan dapat lebih cepat. Aku pesankan capcai, mau?” Meskipun dengan berat hati, Mandira mengalah. Tampaknya sekuat apapun ia memprotes tindakan Hans, hal itu tak berpengaruh apa-apa terhadap pria tersebut. Hans akan tetap kukuh pada pendiriannya. Akhirnya ia memilih menganggukan kepala. “Tunggu sebentar ya,” dengan satu gerakan Hans sudah berdiri dan meninggalkan Mandira. Ia menyelinap di balik kerumunan mahasiswa lainnya menuju stand penjual makanan Cina di samping kanan meja mereka.

Beberapa menit setelahnya Hans sudah kembali duduk di hadapan Mandira sambil meletakkan dua gelas es jeruk untuk mereka berdua. Mandira membatin. Benar apa kata Hans, ia berhasil dengan cepat membawa minuman untuk mereka, padahal orang lain harus menunggu agak lama sampai minuman mereka diantarkan ke meja masing-masing. “Makananmu akan diantarkan sebentar lagi, tunggu ya,” Hans menyentakkan Mandira dari lamunannya. Menyadari bahwa hanya makanannya sendiri yang dibicarakan, ia bertanya pada Hans, “Kakak tidak makan?” Senyuman manis di wajah Hans tak menghilang sedikitpun, bahkan saat ia menjawab pertanyaan Mandira, “aku sudah makan tadi saat kamu belum datang. Kebetulan tadi pagi aku tidak ada kelas.” Mandira hanya mengangguk. Ia memang tidak pernah dekat dengan pria sebelum kuliah, Hans adalah yang pertama baginya, kalau memang pria ini bisa dibilang sedang mendekatinya. Mungkin karena itulah ia terlihat speechless, padahal biasanya ia selalu bisa mengeluarkan isi pikirannya dengan mudah, termasuk di depan pria sekalipun.

Hans yang mengerti kecanggungan Mandira selalu berusaha membuat suasana agar tidak kaku. Ia membiarkan Mandira menyantap makanannya terlebih dahulu sebelum mengajaknya berbicara mengenai hal-hal yang agak serius. Selama hal itu berlangsung, ia yang lebih banyak berbicara, mulai dari menceritakan tentang keadaan kampus mereka, tempat-tempat makan dan hang out yang asyik di sekitar kampus, sampai masalah budaya Jawa atau Jogja yang harus Mandira ketahui agar bisa survive selama kuliah di kampus mereka. Mandira yang hanya menganggukkan kepala sesekali dan menanggapi cerita Hans seperlunya, menyempatkan diri untuk diam-diam melirik penampilan pria tersebut. Meskipun Hans tidak termasuk ke dalam golongan pria yang memiliki tubuh sangat atletis seperti atlet, namun ia bisa dikatakan memiliki tubuh sehat dan kokoh, mungkin berat badannya sekitar 70 kg dengan tinggi badan sekitar 175 cm kalau Mandira tidak salah menebak. Kemeja putih lengan panjang yang dikenakannya tampak serasi dengan sweater cokelat muda tanpa lengan yang melapisi bagian luar kemejanya. Hans tampak maskulin, dengan gaya maskulinitas khas pria metroseksual. Kacamata kotak berframe kecil warna cokelat yang bertengger di atas hidungnya tampak pas dengan bentuk wajahnya yang tak sepenuhnya berbentuk persegi.

“Mandira, apa kamu mendengarkan apa yang aku bicarakan baru saja?” Suara nyaring yang keluar dari mulut Hans menarik Mandira kembali ke realitas. Hans melihat gadis di depannya itu tersipu dan seketika ada rona merah menghiasi pipinya. Ia menyimpulkan bahwa Mandira tidak mendengarkan apa yang dibicarakannya dari tadi, sehingga akhirnya ia memutuskan untuk mengulangi perkataannya, “aku tadi bertanya, apakah kamu sudah memikirkan tentang tugas khususmu.”

Hans melihat Mandira mengerutkan dahi sehingga alisnya tampak akan menyatu. Mungkin gadis ini sedang mengingat-ingat sesuatu, batinnya. Pertanyaan Hans terjawab dengan keluarnya sebuah kalimat dari mulut gadis tersebut. “Ah, ya, tugas khusus. Maafkan saya kak, saya lupa kalau kita bertemu untuk membahas tugas tentang fotografi itu,” Mandira dengan cepat mengutarakan apa yang sedang dipikirkannya. Mendengar perkataan Mandira, Hans tergelak. “Apa kamu bilang tadi? Lupa? Kamu tidak menganggap pertemuan kita ini sebagai sebuah kencan kan, Mandira?” Mandira sekali lagi tersipu dan tawa Hans makin keras sampai tak bisa dibendung. “Kalau kamu menganggap kencan juga tidak apa-apa. Aku senang,” entah mengapa ketika Hans berkata begitu Mandira menghela napas lega. Ia tak berkata apa-apa untuk membantah ucapan Hans maupun membenarkannya. Apakah Mandira menganggap pertemuan mereka berdua sebagai sebuah kencan? Ia sendiri enggan memikirkannya. Yang pasti ia merasa nyaman dan gembira saat Hans tadi malam menghubunginya sehingga terjadilah pertemuan mereka siang ini.

“Jujur saja kak, saya buta tentang fotografi. Meskipun kakak saya mempunyai hobi fotografi, namun saya sudah cukup puas jika bisa menikmati hasil potretannya,” Mandira memutuskan untuk jujur kepada Hans. Meskipun sebenarnya ada sisi hatinya yang meneriakkan kata malu, namun ia pikir dengan berkata jujur mungkin akan lebih mempermudah masalah. Lagipula ia tak mungkin meminta bantuan Arya. Kakaknya itu sangat susah meluangkan waktu untuk pergi ke luar kota, apalagi secara mendadak tanpa ada persiapan sebelumnya. Papanya sebenarnya juga mempunyai hobi fotografi, namun kesibukannya jauh lebih padat dibandingkan Arya karena harus mengurus beberapa perusahaan keluarga sehingga kehadirannya di Jogja, hanya untuk membantu Mandira mengerjakan tugas, sangat tidak mungkin untuk diharapkan. Satu-satunya yang ia harapkan adalah Hans. Pria itu sudah berjanji akan membantunya mengerjakan tugas.

Dari awal, saat Hans memberikan tugas kepada Mandira waktu ospek universitas, ia sudah menebak bahwa gadis itu tidak mempunyai pengalaman di bidang fotografi. Tebakannya itulah yang ia jadikan sebagai acuan dalam memberikan tugas. Jika Mandira memang tidak mengerti seluk beluk fotografi berarti ia akan membutuhkan bantuan Hans. Dan Hans menikmati ketika gadis itu membutuhkan bantuannya. Semula Hans berpikir bahwa apa yang ia lakukan hanya didorong oleh perasaan iseng, namun pada kenyataannya ia memang menginginkan Mandira untuk membutuhkannya. Perasaan ingin dianggap berguna, naluri dasar seorang pria. Lagipula, ketika berdekatan dengan gadis itu, Hans merasa sreg. Mereka bersisian, duduk di ayunan kayu yang terletak di halaman rumah kontrakannya, bercengkerama menikmati suasana sore bersama. Itulah apa yang ada dalam bayangan Hans ketika memikirkan Mandira. Hingga akhirnya di sinilah ia saat ini, duduk berhadap-hadapan dengan gadis yang telah membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dan sedang berusaha membuat gadis tersebut semakin mendekat dengannya.

Percakapan Hans dan Mandira berakhir satu setengah jam kemudian. Kebetulan setelah istirahat makan siang mereka berdua sama-sama tidak ada kelas lagi. Hans berhasil meyakinkan Mandira untuk ikut pulang bersamanya dengan alasan ia akan mengajarkan teknik dasar fotografi. Hans ingin tetap menjaga kedekatannya dengan Mandira, itulah alasan sebenarnya ia mengajak Mandira pulang bersamanya. Sebelumnya tak pernah ada teman wanitanya yang datang ke rumah kontrakannya. Hans selalu bisa mencegah agar mereka tidak datang meskipun kadang-kadang ada beberapa di antara mereka yang memaksa ikut bersamanya. Mandira berbeda dengan wanita lainnya, bahkan dengan teman-teman Hans. Meskipun sikapnya tampak supel dan hangat, namun gadis tersebut selalu berusaha menjaga jarak dengan seorang pria, terbukti ketika tadi Hans menawarkan ajakannya untuk ikut pulang ke rumah kontrakannya, ia harus berkali-kali meyakinkan Mandira bahwa tak ada maksud apa-apa dibalik ajakannya, murni karena Hans ingin mengajarkan tentang teknik fotografi dan saat ini ia tidak membawa kamera.

Sebelum meninggalkan foodcourt, ketika Mandira akan membayar makanannya, Hans mengatakan bahwa ia sudah membayar semuanya. Sejenak Mandira tertegun, namun akhirnya langsung mengucapkan terima kasih kepada Hans dan meminta Hans untuk tak mengulangi lagi hal tersebut yang hanya ditanggapi Hans dengan mengangkat bahu.  Setelah itu mereka berdua berjalan beriringan menuju bagian depan tempat tersebut, tempat di mana Hans memarkir mobilnya.

Hans membukakan pintu penumpang untuk Mandira kemudian ia dengan cepat memutari mobil dan masuk melalui pintu pengemudi. Sesaat setelahnya Toyota Starlet putih susu tampak melaju pelan menuju rumah kontrakan Hans di daerah Monjali atas, dekat dengan hotel Hyat.

***

Tiga puluh menit setelahnya Hans dan Mandira sudah berada di depan sebuah rumah mungil berpagar besi yang tidak terlalu tinggi dengan beberapa pohon palem dan mangga berada di halaman depannya. Meskipun letak rumah kontrakan Hans tidak terlalu jauh dari kampus, namun jarak tempuhnya memang agak lama karena kondisi jalan di Jogja yang seringkali macet, terlebih di saat siang dan sore hari karena bertepatan dengan jam pulang sekolah maupun kantor. Untung saja ia tadi tidak memilih lewat jalan Kaliurang, namun melalui jalan tembusan di depan rumah sakit dr. Sardjito dan kemudian melewati jembatan baru di belakang fakultasnya yang menghubungkan daerah Pogung dengan jalan Monjali, sehingga dari pertigaan jembatan tersebut ia hanya tinggal belok kanan dan lurus untuk sampai ke rumah kontrakannya.

Mandira tidak setuju ketika Hans mengajaknya masuk ke dalam rumah. Meskipun sebenarnya ia merasa takut kalau Hans tersinggung dengan sikapnya, namun pikirannya membenarkan tindakan menolak tersebut, sebuah tindakan defensif yang harus dilakukan oleh seorang wanita ketika berada di rumah seorang pria yang belum lama dikenalnya. Untung saja Hans memahami alasan Mandira. Jika ia berada di posisi gadis tersebut, kemungkinan besar ia akan melakukan hal yang sama. Kecurigaan dan ketakutan Mandira adalah hal wajar, mengingat mereka hanya bedua saja di rumahnya, tanpa ada orang lain.

Ketika Hans masuk ke dalam rumah untuk mengambil kamera, Mandira berjalan ke arah kursi rotan yang ada di sisi kanan pintu masuk. Teras rumah Hans tidak terlalu luas, namun di sana terdapat dua buah kursi santai berbahan rotan, terletak berdampingan dengan sebuah meja kaca bulat di antara kursi-kursi tersebut. Mandira duduk di salah satu kursi itu, meletakkan tas di pangkuan dan kemudian meluruskan kaki. Matanya mengamati beberapa pot bunga yang berjejer rapi di tepi teras, persis di depannya. Ada aglonema, sansievera, dan adhenium. Mandira tersenyum. Tanaman hias yang ada di depannya, meskipun tidak dipangkas secara teratur, namun siapapun yang melihatnya pasti akan tahu bahwa pemiliknya cukup memperhatikan dan merawat tanaman tersebut, terlihat dari tidak adanya daun-daun kering yang menempel di tangkainya. Tepat saat tangannya akan menyentuh salah satu bunga adhenium yang sedang mekar, telinganya mendengar derap langkah kaki Hans yang sedang membuka pintu. Dengan sedikit kikuk ia menarik kembali tangannya dari tanaman tersebut.

Kepalanya mendongak ke arah samping dan mendapati Hans sedang berdiri tepat di sebelah kursi rotan kosong di sisi meja kaca dengan dua buah gelas berisi es teh dan tas kulit hitam bertuliskan Canon, dapat dipastikan berisi kamera, tersampir di bahu kanannya. Secara refleks ia membantu Hans dengan mengambil gelas-gelas tersebut dan meletakkannya di meja. Jantungnya serasa berhenti berdetak ketika kulit tangannya tak sengaja menyenggol lengan bagian bawah Hans yang tak tertutup kemeja. Pria itu sudah mengganti pakaiannya. Sebuah polo shirt warna biru benhur tampak membalut tubuh tegapnya dan otomatis tidak dapat menyembunyikan kulit tangannya yang tampak putih bersih. “Maaf..” kata tersebut tanpa sadar terucap dari mulut Mandira. Ia menunduk, tak mampu menatap mata Hans. Ia takut pria tersebut melihat semburat merah yang mendadak muncul di pipinya.

Telinganya sekali lagi mendengar sebuah gerakan. Ternyata Hans sudah duduk di kursi. “Tak apa, Mandira. Mengapa harus minta maaf?” Suara Hans terdengar seperti pria itu sedang menahan rasa geli. “Silahkan diminum dulu minumannya. Hanya ini yang ada di dalam kulkasku. Maklum, seorang bujangan yang tinggal sendirian,” lanjut Hans sambil mengedikkan ke arah es teh yang ada di meja. Mandira sedikit mengangkat kepala, namun masih belum berani melihat ke arah Hans. “Terima kasih, kak. Es teh manis sudah lebih baik, saya malah hanya punya air putih di kosan,” entah mengapa kalimat itu yang ia ucapkan. “Ah ya, kosan. Aku lupa bertanya, di daerah mana tempat kosmu itu Mandira?” Hans bertanya dengan cepat, seolah takut melupakan hal penting itu lagi. “Saya tinggal di daerah Sagan, kak. Dekat dengan rumah sakit Panti Rapih,” dengan cepat pula Mandira menjawab. Ia merasa tak perlu lagi menutup-nutupi tentang tempat tinggalnya terhadap Hans. Pria itu tampak sangat baik sejak merasa saling mengenal, batin Mandira.

Meskipun pada awalnya percakapan mereka agak kaku, namun lama-kelamaan mereka tampak lebih akrab. Mandira sudah berani menatap mata Hans, karena pria itu memaksa, meminta untuk diperhatikan ketika dengan lancar ia menjelaskan tentang bagian-bagian dari kamera DSLR yang sebelumnya sudah ia keluarkan dari dalam tasnya. Kedua tangan Hans memegang kamera Canon 500D seolah takut benda tersebut terlepas darinya. Mandira mengamati dengan seksama ketika pria tersebut berbicara, kadang-kadang tangannya bergerak menyentuh bagian yang ditunjuk oleh Hans. Mandira memang tidak pernah memegang kamera DSLR meskipun papa dan kakaknya seringkali memaksanya untuk melakukan hal itu. Untuk seorang pemula bagi dirinya, penjelasan yang Hans berikan cukup mudah dimengerti. Ia menjelaskan secara sederhana mengenai lensa, grip, stabilizer, shutter, flash, dial button, anti red eye, view finder, dan bagian lainnya. 

Pada akhirnya Mandira mendapatkan kesimpulan bahwa ketika ia ingin memotret dengan kamera DSLR, ia hanya perlu menggunakan telapak tangan kirinya untuk menyangga lensa dan bodi kamera sambil jari-jarinya mengatur titik fokus—jika ia ingin menggunakan metode manual, bukan auto focus—dan mengatur zooming, sementara tangan kanannya harus memegang grip yang terletak di bagian kanan bodi kamera untuk mengurangi camera shake atau goncangan sambil jari-jarinya bekerja mengatur mode dial dan menekan tombol shutter dengan telunjuk jari kanan. Tombol shutter berfungsi untuk mengeksekusi pengambilan gambar, istilah mudahnya adalah menjepret atau membidik objek yang diinginkan. Jika ia menginginkan memotret dengan posisi vertikal, maka ia hanya tinggal mengubah posisi kamera menjadi vertikal, sedangkan posisi tangan tidak perlu diubah, hanya disesuaikan saja, begitu kata Hans.

“Kurasa kamu perlu mencobanya secara langsung, Mandira. Kadangkala teori terdengar lebih mudah,” Hans memberikan sebuah usulan. Mandira mengangguk sebagai tanda persetujuan. Mereka berdua berdiri, Hans berjalan lebih dulu dan berhenti di dekat pagar besi di halaman yang terlindung pohon mangga yang tidak terlalu rimbun. “Jenis fotografi yang paling mudah dilakukan oleh seorang pemula adalah nature photography,” Hans kembali menjelaskan dan matanya memandang ke depan. Mandira mengikuti pandangan Hans dan ia melihat di seberang jalan kecil di depannya terdapat beberapa petak sawah yang tampak ditumbuhi oleh padi-padi berwarna hijau kekuningan, menandakan tanaman tersebut sudah menua. Di tengah-tengah sawah tersebut terdapat sebuah gubuk dengan atap daun rumbia. Gubuk tersebut tampak agak kecil, namun jika diperhatikan dengan seksama, kehadirannya di antara warna hijau kekuningan dari tanaman padi tampak menimbulkan kesan tersendiri. Beberapa orang-orangan sawah yang terbuat dari kain putih menghiasi bagian kiri kanan gubuk, membentuk deretan yang jika diperhatikan akan menyerupai sebuah garis lurus, membelah hamparan sawah menjadi beberapa bagian.

Hans mengamati raut muka Mandira. Ia menepuk lembut pundak gadis tersebut, “rupanya sudah bisa menikmati pemandangan. Sudah menyadari perbedaannya, eh?” Mandira kaget, hampir terlonjak. Bukan karena ucapan Hans, namun karena sentuhan pria tersebut di pundaknya. Ia merasa seperti tersengat aliran listrik ketika Hans menyentuhnya, padahal sentuhan tangan Hans terhalang kain blouse yang dipakainya. “Nature photography ada beberapa macam, jika mungkin kamu pernah mendengarnya. Ada fotografi lanskap, bawah air, satwa liar, cloudscape, dan seascape. Dan untuk bisa menghasilkan sebuah gambar yang menarik, pengetahuan tentang teori fotografi bukan satu-satunya hal yang dibutuhkan. Kita harus punya rasa seni, sense of art istilahnya. Selain itu mata kita harus jeli, karena seorang fotografer dituntut untuk bisa melihat perbedaan dari suatu objek yang tidak dapat dilihat oleh orang awam,” lanjut Hans. Mandira hanya manggut-manggut. Selain penjelasan yang diberikan Hans membutuhkan beberapa waktu untuk dicerna, ia juga masih berusaha meredam sensasi aneh yang tadi ditimbulkan oleh sentuhan tangan Hans.

“Kurasa penjelasanku sudah cukup kamu mengerti. Lebih baik sekarang kamu mencoba mempraktekkannya dengan objek yang ada di depan kita,” Hans berkata dengan nada tegas yang tidak mungkin untuk Mandira bantah. Ia menyerahkan kamera ke tangan Mandira, kemudian berjalan ke arah belakang, tepat di belakang tubuh Mandira. “Pergunakan tangan kanan dan kirimu sebaik-baiknya. Keduanya harus bekerja secara bersamaan untuk menghemat waktu dan memperkecil kemungkinan kehilangan momen-momen istimewa bagi kita,” Hans memberikan petunjuk yang dengan cepat diikuti oleh Mandira. Dengan posisi sedikit membungkuk, ia meletakkan kamera di depan wajahnya dan kedua tangannya bergerak sesuai posisi yang tadi sudah dijelaskan oleh Hans. Ia memicingkan sebelah matanya, sedangkan mata yang masih terbuka mengintip dari balik jendela bidik atau view finder setelah ia menyetel beberapa pengaturan yang diperlukan sebelumnya. Tepat pada saat ia berada di posisi tersebut, suara Hans yang berada sangat dekat di telinganya membuat tubuhnya menegang. “Miringkan kameranya ke kanan sedikit, Mandira. Posisinya masih agak condong ke kiri, belum rata,” hanya dengan kalimat pendek seperti itu, dan tiba-tiba Hans melihat bagian bodi kanan kamera hampir terlepas dari tangan Mandira yang tampak agak gemetar. Ia menyadari hal tersebut dan segera menahan pergelangan tangan Mandira sebelum akhirnya ikut memegang grip kameranya sehingga kedua tangannya melingkari leher Mandira, terjulur ke depan wajah gadis tersebut.

Mandira membeku. Ia merasakan dada Hans menempel dengan ketat di punggungnya, tangan pria tersebut berada di atas tangan kanannya yang masih memegang bodi kamera. Rahang Hans menempel di rambut yang menutupi sebagian pipinya. Sesaat mereka berdua sama-sama terdiam dalam posisi tersebut. Entah keduanya saling menyadari atau tidak jika jantung masing-masing berdetak dengan cepat dan napas mereka sedikit memburu.

Hans yang akhirnya tersadar terlebih dahulu, ia segera mengambil alih pegangan kamera, sehingga secara otomatis Mandira melepasnya dan segera membebaskan diri dari lingkaran tangan Hans yang berada di lehernya. Mandira beralih posisi, ia berdiri di samping Hans. Keduanya terdiam, sama-sama menundukkan kepala. “Maafkan aku Mandira, aku tak bermaksud dengan sengaja menyentuhmu,” ucapan Hans terdengar tulus di telinga Mandira. Mandira masih terdiam. Ia masih menelaah respon tubuhnya ketika tadi Hans tidak sengaja menyentuhnya. Mengapa perasaan aneh muncul di dalam benaknya? Beberapa saat lamanya sebelum ia tersadar dan dengan segera meminta maaf kepada Hans, “saya yang seharusnya meminta maaf kepada kakak karena kecerobohan saya. Kalau tadi kakak tidak membantu saya memegang kamera, mungkin saya akan membuat kamera kakak jatuh ke tanah.”

Hans mengembuskan napas panjang dan kemudian berkata, “ah, sudahlah Mandira. Kita lupakan saja kejadian tadi. Mungkin lebih baik jika sekarang aku mengantarmu pulang. Hari sudah hampir gelap.” Pembicaraan mereka berakhir seperti itu karena dalam sekejap Hans melangkah memasuki rumah untuk mengambil kunci mobil kemudian keluar lagi dan menghela Mandira untuk memasuki mobil yang terparkir di dekat tempat mereka berdiri tadi setelah sebelumnya ia membukakan pintu untuk gadis tersebut.

Mandira masih terdiam meskipun mobil sudah melaju dan berada di jalan raya. Ia tidak tahu harus berkata apa. Sesekali ia melirik Hans. Pria itu tampak fokus menatap ke arah jalan, kedua tangannya mencengkeram setir dengan kuat. Mandira segera kembali memandang ke arah depan ketika ia melihat Hans akan mengucapkan sesuatu. “Apakah besok siang kamu ada kuliah? Kalau misalnya tidak ada, mungkin kita bisa mulai untuk hunting foto dengan mengunjungi beberapa tempat yang menarik dan sering dijadikan tempat memotret oleh kebanyakan fotografer,” pertanyaan Hans membuat Mandira tersenyum. Besok ia akan menghabiskan waktu lagi bersama Hans. Ia harus mengakui kepada dirinya sendiri bahwa ia merasa bahagia karena kenyataan tersebut, sehingga tanpa berpikir panjang ia menjawab, “boleh kak, kebetulan besok saya hanya ada kuliah pagi.” Hans yang dari tadi menunggu respon dari Mandira tampak lega, “bagus. Besok kita bertemu di foodcourt ya. Setelah makan siang kita berangkat.” Percakapan singkat mereka selesai dan sisa perjalanan hanya dihiasi dengan keheningan. Baik Hans maupun Mandira tampaknya sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Mobil Hans berhenti di depan sebuah gang di samping rumah sakit Panti Rapih. Mandira memilih untuk berjalan kaki dari gang tersebut, kebetulan letak kosannya tidak terlalu jauh dari tempat tersebut. Setelah mengucapkan terima kasih ia melambaikan tangan kepada Hans dan kemudian tanpa ia sadari mobil Hans sudah kembali melaju meninggalkannya.

Kepalanya berkali-kali tampak bergeleng-geleng. Mandira mencoba mengusir pikirannya yang dari tadi tak berhenti memikirkan peristiwa yang dialaminya di rumah Hans. Ia dengan cepat melangkahkan kaki menuju tempat kosnya karena ingin segera mandi. Mungkin dengan mengguyur air dingin ke atas kepala dan tubuhnya akan membuat otaknya kembali normal dan berpikir jernih sehingga ia dapat melewati malam ini dengan tenang dan dapat tidur dengan nyenyak tanpa bermimipi lagi. Mimpi. Dalam sehari ini Mandira dapat melupakan mimpi aneh yang ia alami kemarin malam begitu aja. Mungkin karena seharian ia menghabiskan waktu bersama Hans. Ya, Mandira yakin akan hal itu.

***

Wednesday, February 15, 2017

A Cup of Espresso

PART 1

Satu tangannya berkali-kali mengetuk cangkir di meja dengan sendok kecil, sedang tangan yang lainnya menopang dagu dengan sikunya berada di meja. Matanya tak berkedip, seolah terlihat menerawang jauh menembus batas pemikiran yang tak seharusnya ia pikirkan ketika embun pagi bahkan masih bisa diraba oleh jemarinya. Hampir enam puluh menit lamanya wanita itu bertahan dalam posisi yang sama, seolah waktu tak berjalan dan tubuhnya tak merasa lelah diam dalam satu posisi tersebut.

***
[ When I see your face There’s not a thing that I would change Cause you’re amazing Just the way you are

And when you smile The whole world stops and stares for a while Cause girl you’re amazing Just the way you are ]

(Cuplikan lirik lagu “Just The Way You Are” oleh Bruno Mars)

Sementara itu, seorang pria berkemeja putih dengan celana jeans hitam tampak telah lama memerhatikannya dari luar etalase coffee shop. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, matanya meneliti dengan detail sebuah gelang yang terpasang cantik di pergelangan tangan wanita di dalam coffee shop tersebut. Gelang yang diyakininya berbahan dasar perak meskipun tak dilihatnya dari dekat. Rantainya kecil dan halus, dengan beberapa hiasan yang tergantung, ada bunga lily, bintang, dan bulan sabit.

Pria berambut cokelat itu sekali lagi tampak tak beranjak dari tempatnya berdiri ketika matanya yang juga berwarna cokelat, jeli menemukan keindahan lain dari objek yang ditatapnya sejak tadi. Kalung berantai halus dengan liontin agak besar yang sedikit menjuntai melewati leher wanita di dalam coffee shop seolah menyihir matanya untuk tak berkedip dan berusaha mengeja huruf demi huruf yang membentuk satu kesatuan menjadi sebuah liontin dan sebuah kata. M-A-N-D-I-R-A. Berkali-kali mulutnya mengucapkan kata itu. Meskipun ia tidak atau mungkin belum tahu apa arti kata tersebut, namun ia percaya bahwa MANDIRA bukan hanya sekedar kata tanpa makna, terbukti dari penggunaannya sebagai liontin sebuah kalung.

Mario Ricci mengutuki ingatannya sendiri karena kelalaiannya membawa kamera saku yang seringkali dipakainya untuk mengambil potret dari hal-hal yang membuat matanya tertarik ketika dirinya menyusuri setiap jalanan di kota Jogja. Akibat kelalaiannya itu, ia tak bisa mengabadikan momen langka di depannya yang mungkin suatu saat nanti bisa menjadi inspirasi untuk membuat desain perhiasan. Inspirasi, satu hal penting yang selalu dibutuhkan oleh Mario untuk melakukan setiap pekerjaannya, termasuk membuat desain perhiasan. Dirinya termenung, seolah baru saja menyadari jika sudah hampir 3 tahun, sejak kejadian kelam di masa lalunya, ia hampir tak pernah sekalipun menjumpai sesuatu yang bisa disebut sebagai sebuah inspirasi, hingga akhirnya ia lebih memilih menenggelamkan dirinya ke dalam bisnis investasi perak, bukan lagi membuat desain.

***

Mandira tersentak, sadar dari lamunan panjangnya ketika tiba-tiba dering ponselnya berbunyi, meraung-raung meminta untuk segera diangkat. Wajahnya kembali murung setelah melihat siapa yang meneleponnya. Bukan seseorang yang masih ditunggunya, seseorang yang pernah bersamanya dan melukiskan sebuah kisah indah sampai 3 tahun silam, meskipun pada akhirnya hanya menyisakan perih di hatinya. Dengan enggan jarinya memencet tombol ‘jawab’ dan berbicara dengan orang yang meneleponnya. Tanpa melebarkan mulutnya, ia sedikit tersenyum, senyuman dalam keterpaksaan, karena meskipun hatinya terasa perih ia tetap harus memaksakan seulas senyum kecil ketika berbicara di telepon dengan orang tuanya.

***

[Yogyakarta, Malam Tahun Baru ─ Tiga tahun sebelumnya]

[Di jalan ini pernah ku gandeng tanganmu dengan keremajaan yang meraibkan kota.
Kau kuajak mengembarai malam,
saling bicara dalam bahasa isyarat yang diiringi berbagai langgam,
dan menerjemahkan diam sebagai satu-satunya alasan,
bahwa tersesat di sini adalah suatu keharusan.

Mungkin cinta belum ku kenali, tapi hati tiba-tiba kehilangan sepi.
Bersama bunga-bunga di bajumu yang bermekaran, aku menghirup kecantikanmu,
seperti kereta menghisap penumpang di stasiun Tugu.
Lalu kita saling meruncingkan bulu mata,
dan melengkapi malam dengan selarik puisi cinta.

Sepanjang Malioboro yang bising, di malam tahun baru yang disesaki angin.
Aku masih mengasuh rambut ikalmu dalam kelu,
ketika kau memilin dan mengasapi biji-biji rindu.
Tiba-tiba kita meleleh di antara jerit terompet dan detik-detik yang ketat,
sampai cinta mengerut di sisa tahun yang terjepit.

Nyaris saja usia 19 menyilangkan nasib ke rahim waktu.
Tapi kita terlanjur memeram cinta dalam kebisuan, 
seperti rel yang bergandengan,
dengan pertemuan yang menyakitkan.
Sedang sebaris senyummu selalu mencongkel hari-hariku,
di sepanjang Malioboro yang mengular waktu di hatiku.

Sungguh...
Setahun silam masih menyala, diminyaki kenangan yang mendedah.]

(“Sepanjang Malioboro”, Majalah Horizon, 2008)

Suasana malam tahun baru di  kawasan Malioboro selalu meriah, penuh dengan riuh rendah jeritan dan sorakan muda mudi yang merasa gembira ketika menyaksikan puluhan atau bahkan ratusan kembang api dinyalakan menjelang detik-detik mulainya tanggal 1 Januari.
Mandira masih menggamit lengan Hans karena takut terpisah di tengah-tengah kerumunan dan desakan banyak orang yang ikut serta merayakan malam tahun baru di Malioboro. “Dik, kamu masih suka sama kembang api, kan?” Hans akhirnya mampu mengeluarkan suaranya meskipun memang dibutuhkan tenaga ekstra karena setiap orang di sini mengeluarkan berbagai macam suara dan tawa. Dengan sedikit mengernyit, Mandira menoleh ke arah Hans yang langsung disambut dengan senyum lebar khasnya, “Mengapa tiba-tiba bertanya seperti itu, Hans? Kamu tahu aku akan selalu suka sama kembang api, terlebih karena sekarang sangat susah untuk melihat bintang di langit.” Mandira tak pernah sekalipun memanggil Hans dengan sebutan kakak, mas, ataupun sebutan lain yang biasa digunakan oleh orang yang lebih muda kepada yang lebih tua. Meskipun begitu, Hans selalu memanggilnya adik. Kata Hans, dengan memanggil Mandira seperti itu membuatnya semakin sayang kepada Mandira.

Langit malam ini mendung, sama halnya dengan malam-malam sebelumnya. Padahal sudah hampir dua pekan Mandira menghentikan ritualnya, melihat bintang di malam hari, yang menurut Hans merupakan hal sia-sia karena meskipun dilihat sampai matanya lelah, bentuk dan sinarnya tidak akan pernah berubah, akan selalu sama sampai akhir masa. Mandira sekarang sedang merindu. Jika tidak melihat bintang satu malam saja dia akan kesulitan untuk memejamkan mata. Untung saja dia berhasil memaksa Hans ikut merayakan malam pergantian tahun baru di Malioboro, meskipun bisa saja mereka membeli kembang api sendiri dan merayakannya di rumah kontrakan Hans di daerah Monjali. Namun menurut Mandira dua hal itu jelas berbeda, menikmati keramaian dan cahaya kembang api di Malioboro akan membuatnya tertawa lepas, sedang jika memilih menyalakan kembang api berdua saja pasti akan dibatasi dengan sikap kaku Hans, tidak selepas di tengah keramaian.

Hans Tedjokusumo. Laki-laki berdarah Jawa-Cina ini telah dua tahun menghiasi hari-hari Mandira. Siapapun yang melihat Hans tidak akan menyangka bahwa dia berumur 22 tahun, karena pipinya yang sedikit chubby, kulit putih, dan senyum ramahnya seolah menyiratkan bahwa umurnya baru menginjak 19 tahun, sama seperti Mandira. Satu-satunya hal yang menegaskan bahwa Hans lebih tua dari Mandira adalah kacamata minus serta panggilan kesayangannya terhadap Mandira, ‘adik’.

“Setelah ini kita mau ke mana?” Pertanyaan Hans mengagetkan Mandira dan menyeretnya kembali ke dunia nyata. Mandira melamun lagi. Kebiasaan yang selalu ia lakukan saat berada di sisi Hans dan memikirkan bahwa dirinya tidak mempunyai mimpi sehebat kekasihnya itu. “Aku ingin makan klepon, Hans...”, lagi-lagi Mandira merajuk serta memamerkan deretan giginya yang tampak putih dan rapi, tersenyum lebar. Senyum yang membuat Hans tidak bisa berkutik, tidak pernah bisa menolak setiap keinginan Mandira.
Sesekali Hans melirik Mandira saat mereka berdua menyusuri jalanan menuju pasar Beringharjo. Saat ada event-event tertentu, penjual jajanan dan makanan di luar pintu masuk pasar tersebut seringkali membuka kiosnya sampai jauh larut malam. Hans melihat Mandira menyandarkan kepala di bahunya, bibirnya dihiasi senyum kebahagiaan. Hatinya goyah. Tegakah dia membuat gadis seceria Mandira kehilangan kebahagiaan masa mudanya? Terlebih jika penyebab hal tersebut haruslah dirinya.

“Hans, benarkah kamu masih belum membuat rencana terkait apa yang akan kamu lakukan setelah lulus nanti?” Mandira berusaha hati-hati dan berbicara sepelan mungkin, bahkan ucapannya hampir terdengar seperti bisikan di telinganya sendiri. Lain halnya dengan Hans. Meskipun ia sudah memperkirakan bahwa suatu saat pasti Mandira akan menanyakan tentang hal tersebut, namun ia tak menduga jika pertanyaan tersebut diajukan sekarang, di saat mereka sedang menikmati salah satu momen bahagia.

Raut muka Hans dalam sekejap berubah, dari rona bahagia menjadi murung. Untung saja Mandira tidak dapat melihatnya saat ini karena masih asyik bersandar di bahunya dengan posisi wajah menatap lurus ke jalan. Setelah beberapa menit hening, tidak ada satupun dari keduanya yang mengeluarkan suara, Hans lebih dulu menguasai keadaan. “Aku kan belum sidang skripsi, dik. Jadi untuk sekarang ini masih bisa santai kan? Kelulusan masih empat bulan lagi, masih ada banyak waktu untuk merancang rencana,” meski sedikit terbata-bata, Hans sanggup menyelesaikan ucapannya.

Tubuh Hans sedikit menegang ketika Mandira tiba-tiba menarik diri dari lengannya dan tersenyum lebar tepat di dekat wajahnya. “Jadi intinya kamu masih belum membuat rencana, kan? Berarti kita masih bisa bersama-sama dan kamu akan tetap tinggal di Jogja?” Seketika Hans membeku, tidak dapat berpikir apa yang harus diucapkannya atas pertanyaan Mandira. Mulutnya baru saja sedikit terbuka hendak mengucapkan sesuatu ketika matanya melihat deretan penjual jajanan beberapa meter di depannya penuh sesak dengan pembeli.

Pengalihan. Itu yang terpikir pertama kali olehnya. “Dik, kamu tunggu di sini saja ya, antriannya panjang dan penjual klepon di depan sana dikerubuti oleh banyak orang. Biar aku saja yang membelinya untuk kita,” tangannya menunjuk ke salah satu penjual klepon langganan mereka, sedikit tergesa karena ia takut Mandira melihat tangannya yang gemetaran. Hans mengembuskan napas lega ketika Mandira tidak mendebat perkataannya seperti biasa dan lebih memilih untuk menganggukkan kepalanya.

***
[Satu minggu setelah malam tahun baru]

Hari masih terlalu pagi ketika Mandira secara tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Sudah genap satu minggu ini kebiasaan tidurnya menjadi aneh, berubah polanya karena satu alasan, dan alasan itu adalah ketiadaan Hans yang biasanya menemaninya lewat telepon hingga ia tertidur. Matanya melirik jam meja yang berada tepat di samping tempat tidurnya. Masih pukul 3 dini hari.

Lima belas menit telah berlalu sejak Mandira terbangun dari tidurnya, namun ia belum bergerak dan mencoba turun dari ranjangnya. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan saat waktu masih sepagi ini sehingga ia lebih memilih untuk duduk di atas ranjang dengan posisi memeluk lututnya yang ditekuk. Tangannya menimang ponsel dan sesekali matanya melirik layar yang tetap gelap tanda tak ada pesan maupun panggilan masuk. Mandira menunggu kabar dari Hans. Ia masih enggan untuk menghubungi Hans terlebih dahulu meskipun sejak malam tahun baru seminggu lalu Hans belum sekalipun memberinya kabar.

Sebenarnya Mandira menyadari jika hal itu aneh. Ia dan Hans tidak termasuk kategori pasangan yang betah tanpa memberi kabar satu sama lain. Mereka selalu berusaha menjaga komunikasi, sesibuk apapun keduanya.

Apakah ini ada hubungannya dengan kesibukan Hans yang akhir-akhir ini lebih meningkat dikarenakan revisi skripsinya yang hampir melampaui tenggat waktu? Itulah yang ada di pikiran Mandira. Ia selalu mencoba meyakinkan hatinya sendiri bahwa Hans bukan sengaja menjauhinya. Tak ada satupun alasan yang mengarah pada hal tersebut, meskipun di sisi lain hatinya merasa bahwa Hans mencoba menghindar dari dirinya.

Mandira beberapa kali mengusap matanya yang sedikit basah. Ia menangis lagi, meskipun tanpa isakan. Ia ingin menghubungi Hans, namun takut mengganggu kekasihnya yang memang seringkali sibuk itu.

Tanpa disadari, entah sejak kapan tubuh Mandira sudah berubah dari posisinya semula. Kali ini ia meringkuk seperti janin dalam kandungan. Kedua tangannya mendekap erat boneka beruang besar pemberian Hans setahun silam saat mereka merayakan satu tahun hari jadi mereka. Matanya terpejam dengan harapan setelah membuka mata nanti waktu yang telah dijalaninya selama seminggu ini akan terhapus dan keadaan hubungannya dengan Hans kembali seperti semula.

Setelah lebih dari setengah jam ia tak berhasil untuk kembali tidur meskipun matanya sudah terasa nyeri dan pegal karena dipaksa tetap menutup, ia memilih untuk bangun dari ranjang dan mempersiapkan segala keperluannya buat ke kampus siang nanti.

***
Waktu belum menunjukkan pukul 9 pagi ketika Mandira berjalan dengan sedikit tergesa menyusuri koridor jurusan Teknik Fisika sebuah kampus yang terletak di sebelah barat jalan Kaliurang. Sebelum berangkat ke kampus tadi, ia memutuskan untuk menemui Bagas, salah satu teman sejurusan Hans yang sudah dikenalnya beberapa waktu setelah ia berpacaran dengan Hans. Meskipun pada awalnya Bagas terlihat enggan untuk menemuinya, namun akhirnya ia berhasil membujuk teman dekat Hans tersebut. Harapan satu-satunya hanyalah Bagas. Selain mengisi hari dengan menghabiskan waktu berdua bersama Mandira, Hans seringkali belajar dan bermain game bersama Bagas di rumah kontrakannya.

Ia sedang mengedarkan pandangan ke sekeliling ketika salah satu sudut matanya menangkap sosok tinggi kurus berdiri di depan ruangan yang tampak seperti sebuah laboratorium, sedang melambaikan tangan ke arahnya. Mandira sedikit tersenyum dan menghampiri Bagas. Beberapa pandangan menyelidik datang dari segerombolan mahasiswa yang ia lewati ketika berjalan menuju tempat Bagas berdiri saat ini, namun ia berusaha mengacuhkan hal tersebut. Ia memang jarang menemui Hans di kampusnya karena seringkali Hans menolak ketika Mandira menawarkan diri untuk menemuinya di sana. Menurut Hans, lebih baik seorang pria yang datang menemui wanita. Lagipula Hans mempunyai kendaraan yang dapat digunakan untuk mendatangi kampus Mandira, sedangkan Mandira tidak.

“Hai,” Bagas sedikit menyunggingkan senyum, menyapa Mandira. Meskipun mereka sering bertemu, namun keduanya jarang berkomunikasi secara pribadi sehingga Bagas tampak agak canggung ketika berhadapan dengan Mandira tanpa adanya Hans bersama mereka. Alih-alih menjawab sapaan Bagas, Mandira justru menanyakan hal yang membuatnya sedikit risih, tatapan mata teman-teman satu jurusan Bagas. “Mengapa mereka memandangku seperti itu?” Mandira mengedikkan bahunya ke arah beberapa mahasiswa di belakangnya yang masih memerhatikan dirinya meskipun sudah jelas-jelas ia berada di tempat ini untuk menemui Bagas.

“Mereka tak terbiasa melihat mahasiswi sepertimu, Mandira,” Bagas berkata sambil melambaikan sebelah tangannya pada gerombolan mahasiswa yang dimaksud Mandira. “Mahasiswi sepertiku?” Mandira menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya dan tampak kebingungan atas jawaban Bagas. “Maksudku penampilanmu,” Bagas sedikit tertawa karena teringat Hans, sahabatnya yang terkenal kutu buku itu juga terpikat dengan mahasiswi Hubungan Internasional yang modis dan mempunyai pergaulan luas seperti Mandira, sangat bertolak belakang dengan kepribadian Hans.

Mandira meneliti penampilannya. Pagi ini ia mengenakan blouse sutra tanpa lengan berwarna merah muda dengan potongan leher rendah dan sedikit berbentuk huruf ‘V’ yang tampak ketat membalut bagian atas tubuhnya, cardigan rajut warna hitam dengan lengan sebatas siku yang tidak ia kancingkan bagian depannya, serta rok A-line selutut berwarna sama dengan atasannya, bermotif bunga-bunga yang tidak terlalu besar. Wedges dengan warna senada blouse dan rok yang ia kenakan serta beraksen tali-tali di bagian pergelangan membuat kaki jenjangnya lebih terekspos nyata. Ia berpikir bahwa aksesoris yang dikenakannya juga tidak berlebihan. Gelang perak berantai halus di pergelangan tangan kanan, jam Alexandre Christie berwarna putih susu di pergelangan tangan yang satunya, serta kalung perak dengan liontin sederhana, sebuah kata berupa nama depannya, tampak anggun berada di lehernya yang tak tertutup kerah baju. Tas bahu yang ia pakai juga bukan barang keluaran Paris maupun Milan, hanya tas dengan brand asal Taiwan berwarna hitam yang cocok dipakai untuk ke kampus. Mandira merasa tidak ada yang salah dengan penampilannya.

“Tak usah kau hiraukan mereka, Ra. Mereka hanya tidak terbiasa melihat mahasiswi berpakaian modis sepertimu. Mahasiswi di sini semuanya memakai celana panjang atau rok panjang standar,” Bagas menjelaskan kepada Mandira karena dari tadi dilihatnya gadis itu kebingungan dan berkali-kali mengamati penampilannya, mungkin berpikir bahwa ada yang salah dengan cara berpakaiannya hari ini.

“Tadi di telepon kau bilang ada hal penting yang ingin dibicarakan ya? Terkait apa itu?” Ah, Mandira hampir saja lupa dengan apa yang menyebabkannya datang menemui Bagas. Dengan sedikit gugup ia mencoba untuk bicara, “aku ingin menanyakan sesuatu, terkait Hans.” Dilihatnya Bagas mengerutkan kening, sebelum akhirnya menjawab, “Hans? Mengapa kau bertanya tentangnya kepadaku? Ada apa dengan dia? Tak biasanya kau menanyakan sesuatu terkait Hans, seingatku sejak kalian berpacaran kau tak pernah sekalipun membutuhkan informasi tentangnya dariku.”

Mandira menelan ludah. Ia memang tak pernah membutuhkan informasi apapun dari orang-orang di sekitar Hans sejak pertama kali ia mengenal kekasihnya tersebut. Hans selalu datang kepadanya dan menceritakan hal apapun terkait dirinya kepada Mandira, setidaknya sampai satu minggu yang lalu, di malam tahun baru yang membuatnya tersenyum ketika mengingatnya. “Mungkin kau akan berpikir ini aneh, atau justru kau akan tertawa serta tidak percaya jika aku mengatakannya, tapi kenyataannya sudah genap seminggu ini Hans tidak memberi kabar kepadaku. Kami sama sekali belum berkomunikasi sejak malam tahun baru seminggu lalu,” Mandira menjelaskan dengan lancar kepada Bagas apa yang menjadi permasalahannya.

Dugaan Mandira tidak meleset. Bagas tertawa, bahkan hampir tergelak. “Hans, kau, kalian yang tidak pernah bisa dipisahkan, seolah lengket seperti ban dengan mobil, tidak berkomunikasi selama seminggu? Haruskah aku percaya itu, Mandira?” Sekali lagi Bagas tergelak. Ia berhenti ketika Mandira melotot ke arahnya dengan wajah serius. “Jadi kau serius? Bukan bergurau?” Bagas menanyakan hal yang tak seharusnya ia tanyakan. Mandira terlihat sedikit kesal, namun ia tetap menjawab pertanyaan Bagas, “Aku serius, Bagas. Kalau tidak, kenapa aku mesti datang ke kampusmu dan bertanya kepadamu tentang hal itu sementara siang nanti aku ada ujian?”

Percakapan mereka berakhir dengan satu kesimpulan. Mereka berdua sama-sama tidak berkomunikasi dengan Hans selama satu minggu ini. Bahkan Bagas juga tak bertemu dengannya, di kampus sekalipun. Bagas mengira bahwa mungkin Hans terlalu sibuk menghabiskan waktunya dengan Mandira, sama seperti biasanya. Namun ternyata tidak.

Mandira sebenarnya sedikit kecewa karena pertemuannya dengan Bagas tak membuahkan hasil apapun. Tetapi mau bagaimana lagi, ia tak bisa memaksa Bagas untuk mengetahui keberadaan Hans karena memang ia benar-benar tak tahu. Setidaknya Mandira sudah berpesan pada Bagas untuk memberitahunya jika Hans menghubunginya atau kebetulan Bagas bertemu dengannya di kampus.

Ia kembali ke kampusnya untuk mengikuti ujian siang itu. Meskipun hatinya sama sekali tak tenang karena Hans belum juga menghubunginya, namun Mandira tetap berhasil mengerjakan setiap soal ujian yang ia ikuti. Yang ada di pikirannya hanyalah cepat menyelesaikan urusan kampus dan kembali meringkuk di kamarnya, seperti yang telah ia lakukan selama seminggu ini. Sejak ia lebih sering menghabiskan waktunya bersama Hans, ia tak lagi mempunyai banyak sahabat. Hans adalah pusat dunianya, tempat berbagi, mengadu, dan berkeluh kesah bagi Mandira. Hingga di saat-saat seperti ini, ketika Hans tak jelas keberadaannya, ia tak bisa menceritakan hal tersebut kepada teman-temannya. Ia hanya bisa pulang, meringkuk seharian di kamarnya, memandangi layar ponsel, kadang-kadang menangis hingga matanya kelelahan dan terpejam dengan sendirinya.

***
Langit sudah berwarna hitam pekat, tak ada lagi sinar matahari yang terpancar melalui jendela kaca kamarnya yang dibiarkan tak tertutup tirai ketika Mandira membuka matanya. Sudah malam dan ia belum makan, bahkan belum sempat mandi karena setelah pulang dari kampus tadi ia langsung meringkuk di ranjang, menangis sampai matanya sembab dan akhirnya tertidur. Perutnya mengeluarkan bunyi yang menandakan minta diisi dengan makanan, namun matanya masih menyesuaikan dengan keadaan kamarnya yang masih gelap gulita, hanya cahaya bulan dari luar yang tampak samar-samar membantu penerangan di dalam kamarnya. Tangannya berusaha mencapai tembok yang terletak di sisi tempat tidurnya dan meraih sakelar lampu. Ketika lampu menyala, tangannya sedikit menutupi matanya yang terasa perih terkena silau sinar lampu yang terangnya begitu kontras dengan keadaan ruangan sebelumnya.

Setelah berhasil menyesuaikan keadaan dan memastikan tubuhnya tak akan langsung limbung jika ia berdiri, Mandira mengambil piama berwarna abu-abu dari dalam lemari pakaiannya. Ia belum mengganti pakaiannya dari tadi pagi, dan tubuhnya terasa lengket minta diguyur dengan air dingin yang mungkin akan terasa menyegarkan.

Beberapa menit lamanya ia berada di kamar mandi. Setelah keluar dari kamar mandi yang juga berada di dalam kamar tidurnya, Mandira sudah mengenakan piamanya. Meskipun sebenarnya ia tak mempunyai selera untuk makan, namun ia tetap memaksakan langkah kakinya agar beranjak keluar dari kamar tidurnya setelah sebelumnya ia menyisir rambut dan mengikat menjadi ekor kuda di bagian belakang, memakai cardigan biru muda dan sepatu datar abu-abunya yang senada dengan piamanya serta mengambil dompet dan ponsel.

Berkali-kali ia menoleh ke kanan dan kiri ketika berjalan melewati trotoar sepanjang jalan raya di daerah Sagan, tak jauh dari tempat kosnya. Sebagian besar tempat makan lesehan yang berada di pinggir jalan tampak penuh karena ternyata ia keluar di saat jam makan malam para mahasiswa. Langkahnya terhenti tepat saat matanya melihat Sagan Resto, tempat ia dan Hans seringkali menghabiskan waktu bila malam tiba. Tanpa pikir panjang, seperti tersihir, kakinya tanpa diperintah langsung melangkah masuk ke tempat tersebut. Untung saja beberapa pelayan di tempat tersebut sering melihatnya sehingga mereka tak mempermasalahkan penampilan Mandira yang hanya mengenakan piama dilapisi cardigan dan sepatu datar yang terlalu biasa.

Ia melangkah melewati beberapa pasangan dan sekelompok keluarga yang tampak sedang makan malam. Tak dihiraukannya tatapan mencela dari orang-orang tersebut yang mungkin mempertanyakan penampilannya dan meragukan apakah ia sanggup membayar harga makanan di tempat tersebut. Ketika matanya menemukan kursi kosong di sudut ruangan, langkah kakinya tampak dua kali lebih cepat, berharap untuk segera duduk.

Matanya menelusuri buku menu yang ada di meja. Bila bersama Hans, biasanya ia akan memesan terderloin steak dan avocado float atau lemon tea. Tetapi kali ini ia hanya ingin menelan makanan yang tak membutuhkan waktu lama untuk memakannya sehingga pilihannya jatuh pada nasi goreng keju dan espresso. 

Itulah kali pertama Mandira kembali lagi meminum kopi sejak ia berpacaran dengan Hans. Selama bersama Hans ia berusaha menghentikan kebiasannya meminum kopi. Hans melarangnya dengan alasan kesehatan. Tetapi kali ini ia membutuhkan kopi agar bisa fokus untuk belajar. Sudah seminggu ini ia hanya memikirkan Hans dan tidak bisa memikirkan hal lain di luar itu, termasuk belajar, padahal saat ini ia sedang menghadapi ujian akhir semester.

Hans. Entah apa yang saat ini tengah dilakukannya. Mata Mandira terasa panas, hampir saja ia meneteskan air mata jika saat itu pelayan tak datang mengantarkan makanan pesanannya. Setelah pelayan itu meletakkan makanannya di meja dan menganggukkan kepala singkat lalu pergi, Mandira langsung menyesap kopinya. Keningnya mengernyit ketika rasa pahit menjalari kerongkongannya. Ia lupa rasa espresso seperti apa sehingga tak menambahkan gula ekstra ke dalam cangkirnya. Ingatannya tanpa disadari mengembara jauh, mengenang memori saat pertama kali Hans marah padanya ketika di pagi hari ia meminum secangkir kopi di kantin kampus. Saat itu ia masih merupakan mahasiswa baru dan belum mengenal Hans. Ingatannya kembali ke masa itu.

***