Listen and Download: Tears and Rain by James Blunt

Thursday, May 21, 2015

Sang Pembunuh Cahaya

Duduk terpekur, menunduk dalam, kedua tangannya berada di atas lutut. Duduk di atas hamparan pasir putih dengan kaki yang sedikit ditenggelamkan ke dalam gundukan pasir, itulah posisi favoritnya. Ia tak hanya menyukai padang rumput dengan putihnya dandelion yang bermekaran di sana-sini. Ia juga amat-sangat menyukai hamparan pasir, suara deburan ombak, serta warna lembayung senja yang selalu dapat membuat matanya tertegun beberapa menit tanpa berkedip. Itulah Liana.

Entah mengapa di senja sore ini Liana tak berkeinginan untuk membuka matanya lebih lama. Hanya beberapa menit saja ia menikmatinya. Hitungan menit yang ia yakin sudah mampu merekam segalanya. Sedikit waktu yang dibutuhkan untuk mengingat bagaimana momen senja itu berlangsung. Ia ingin mematri di dalam ingatannya. Mungkin inilah senja terakhir yang bisa ia nikmati. Mungkin inilah waktu terakhir yang diberikan sebelum ia harus kembali membungkus rapi dan melipat tulisan kecil di mimpinya.

Ia tak ingin berlama-lama membuka mata, apalagi menyusuri pinggiran pantai dan merasakan hangatnya air laut yang mengenai kakinya. Sesungguhnya Liana ingin melakukannya, sangat ingin sekali, namun ia takut hatinya yang sudah terlanjur dibuka ini akan merasakan kepedihan yang lebih lagi. Cukup merasakannya, tanpa harus mengingat momen setiap detiknya.

Sepoi angin laut menerpa anak rambutnya yang agak berantakan di sekitar wajahnya. Tampaknya sebuah kesengajaan yang ia lakukan, mungkin untuk menutupi tetesan yang tak berhenti mengalir dari matanya yang sudah memerah. Sekelebat ia mengingat bagaimana ekspresi Dina, sahabatnya, saat terakhir kali mereka masih bisa duduk bersama.

"Aku senang melihat senyuman itu kembali menghiasi wajahmu, Lia. Kau terlihat cantik dan amat hidup. Tak lagi tampak seperti sebuah robot yang diprogram untuk selalu tersenyum. Senyumanmu kali ini berbeda," Dina memandangi wajahnya agak lama, dan hal itu membuat Liana sedikit jengah hingga akhirnya ia tersenyum malu-malu, tak menyahuti pernyataan Dina.

"Kapan aku bisa bertemu dengannya? Tampaknya seolah kau tak pernah berencana untuk mengenalkannya kepadaku? Ia berbeda dengan Romeo kan? Ia pria baik-baik yang bisa menjagamu kan?" Itulah Dina, selalu mencecar dengan berbagai pertanyaan jika menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan kehadiran pria di dalam hidup Liana.

"Nanti Din. Ada saatnya kamu akan bertemu dengannya. Toh aku tak berencana hanya bersamanya dalam waktu yang singkat. Aku yakin 'dia' adalah sebagian kepingan kebahagiaan yang harus ku jaga baik-baik selamanya," begitulah Liana. Selalu yakin dan percaya sepenuhnya jika ia sudah membuka hati untuk seorang pria.

Dina terdiam, hingga akhirnya ia bergumam, "I wish both of you will always happy till the end." Yang diAmini dengan anggukan kepala oleh Liana.

Itulah kali terakhir mereka bersama, membincangkan tentang sebuah kebahagiaan. Kebahagiaan yang sebelumnya sangat diyakini Liana akan didapatkannya.

Ia terlanjur menyandarkan kepalanya, ia terlanjur menumpukan mimpinya kepada pria itu. Hingga kini ia harus dihadapkan pada kenyataan bahwa pria yang dianggapnya sebagai sebuah kepingan kebahagiaan itu justru merupakan seorang pembunuh. Pembunuh mimpinya. Pembunuh cahaya kehidupan yang selalu ingin ia rasakan hangatnya setiap hari. Mungkin Liana bukanlah seorang pemaki, ia terlalu lemah untuk melakukannya. Yang bisa ia lakukan hanyalah menggumam, yang mungkin hanya  bisa dengar oleh kawanan burung yang terbang agak rendah di sekelilingnya.

"Terima kasih sangat kepada engkau, sang pembunuh cahaya. Karena telah mengingatkanku untuk tak menyandarkan mimpiku kepada orang lain. Karena menyadarkanku untuk kembali mengenakan topeng dan memasang cangkang keras di sekitarku. Terima kasih telah membuatku kembali merasakan bahwa hidup dengan kepolosan tanpa lapisan itu begitu menyakitkan. Terima kasih karena telah mengambil cahaya dalam hidupku, hingga aku harus kembali menyimpan mimpiku rapat-rapat agar suatu saat aku dapat mewujudkannya sendiri. Terima kasih atas sekelumit kebahagiaan yang mampu menghadirkan sebuah senyuman lebar yang melegakan setiap orang di sekelilingku. Terima kasih telah mendatangkan sebuah kesempatan bagiku untuk mematri senja terakhir ini dalam ingatanku."

Gumamannya berakhir seiring dengan semakin tertunduk dalam kepalanya. Ia tak ingin membuka mata. Ia takut menghadapi kenyataan bahwa mungkin inilah senja terakhir yang dapat ia lihat. Sesungguhnya ia tak pernah siap meskipun itu adalah sebuah keharusan.

Thursday, November 20, 2014

Di Ujung Senja

Kedua tangannya terentang, ia menarik napas dalam, panjang, dan pelan. Semilir angin laut menerpa wajah dan rambutnya yang terurai bebas hingga beberapa anak rambutnya mencapai matanya yang terpejam. Masih tampak jelas di pipinya garis-garis sisa air mata. Mungkin baru lima belas menit lalu ia menghapusnya dengan sembarangan hingga bekasnya tampak tak teratur.

Di kejauhan, terlihat seorang laki-laki memerhatikannya dengan seksama. Kedua tangannya berada dalam saku jas semi formalnya. Matanya tampak tak berkedip, seolah takut kehilangan momen berharga jika ia harus mengedipkan mata. Tatapan matanya tajam namun terlihat tersiksa. Jelas bahwa ia menanggung sebuah beban. Gayanya yang simple dengan jeans hitam, kaus, dan jas abu gelap sekilas membuatnya tampak maskulin. Namun tangannya yang sedikit gemetar--yang berhasil ia samarkan--meskipun tak terlihat, mampu menunjukkan jika ia menanggung sebuah beban.

Wanita itu perlahan membuka mata dan berjalan maju mendekati pembatas jembatan di depannya. Sejenak ia tertegun. Cahaya jingga yang memancar di ujung cakrawala dengan bias-bias kekuningan campur ungu yang hadir selalu bisa menyihir matanya. Tak ada ekspresi di wajahnya. Ia terdiam khidmat, mengagumi senja yang disuguhkan oleh sang pencipta. Baginya tak ada yang lebih berharga dibandingkan sedikit waktu yang ia punya untuk mengejar senja. Di manapun itu. Bersama siapapun itu. Meskipun seringkali ia hanyalah sendiri tanpa teman.

Laki-laki berjas abu masih setia berdiri dalam diam. Ia berdiri sangat jauh dari tempat si wanita menikmati senja. Kontur jalanan yang bergelombang dengan posisinya sekarang yang lebih rendah membuatnya dapat mengawasi si wanita dengan leluasa. Tempat si wanita berdiri saat ini merupakan titik tertinggi dari kawasan di sekitarnya. Entah sudah berapa lama ia berdiri di sini. Yang jelas, ia akan selalu tiba terlebih dahulu sebelum si wanita datang dan melakukan ritualnya,menatap langit tanpa berkedip jika senja tiba. Laki-laki itu tak ingin melewatkan satu lagi momen yang jauh lebih berharga, momen ketika si wanita tanpa canggung mengeluarkan isakan, seolah ingin melepas segala beban yang ia rasakan. Momen yang selalu terjadi dua puluh menit menjelang senja.

Mentari perlahan menghilang di balik perbukitan panjang yang terletak di seberang laut di depan wanita berbaju ungu itu berdiri. Sebentar lagi gelap. Namun itu tak mengurangi niatnya untuk menikmati basahnya air laut bercampur pasir pantai yang masih terasa hangat. Wanita itu berjalan menyusuri tepian besi pembatas jembatan hingga berbelok di sebuah jalan sempit menuju pantai berpasir putih. Ia berjalan dengan kaki sedikit terendam air laut yang hangat. Butiran-butiran pasir menempel erat di telapak kakinya. Seolah tanpa tujuan ia terus berjalan, dan tanpa ia sadari--sekali lagi--air matanya jatuh bercampur dengan air.

Laki-laki yang sedari tadi memerhatikannya juga tampak berjalan pelan, berada beberapa meter di belakang wanita itu. Ia terlihat ingin menjaga jarak aman. Ia tak ingin kehadirannya mengganggu wanita di depannya. Tanpa laki-laki itu melihat, ia tahu jika si wanita sedang menangis. Ia memejamkan mata dan tangannya yang bebas di samping tubuhnya tampak mengepal erat. Seharusnya tak seperti ini. Seharusnya ia tak membiarkan air mata wanita itu keluar tanpa sebuah alasan. Seharusnya ia mencegah agar wanita itu tak menangis sia-sia. Ia mampu. Sangat mampu malah. Terlebih ia sangat ingin. Menginginkan wanita itu kembali tersenyum. Senyum khasnya yang ayu, yang entah sudah hilang ke mana. Ia kesal terhadap dirinya sendiri, yang tak punya daya untuk melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Ia takut menyentuhnya. Menyentuh hati dan dunia si wanita. Ia takut kebekuan di hatinya justru akan membuatnya makin menyakiti hati lembut wanita itu. Berbagai macam hal berkecamuk dalam pikirannya. Hingga tanpa ia sadari, hari sudah benar-benar gelap, senja sudah berakhir, dan wanita yang sedari tadi berada di depannya seperti biasa sudah menghilang meninggalkan ia sendirian yang sedang berperang melawan egonya.


"Ketika ketakutan selalu datang,
Ketika kebekuan tak juga mencair,
Hingga keberanian tak pernah muncul,
Dan akhirnya hanya luka yang tersisa,
Karena sebuah kesempatan terlewati begitu saja."

Cha,
Rembang, 20 November 2014

Saturday, November 15, 2014

Bougenville dan Rinai Gerimis

"Kamu mau ke mana, Na? Jangan lari terus, nanti terpeleset."

Suara itu masih terdengar jelas hingga Nada semakin menjauh. Ia tak menoleh, dan juga tak berhenti untuk menjawab pertanyaan Nova. Langkahnya terus dipercepat, seolah bersaing dengan tetesan air yang semakin kerap jatuh dari langit, dan mengiringi cairan hangat yang mengalir membasahi pipinya. Tangannya beberapa kali berusaha mengusap pipinya dan nampaklah jelas kalau tangannya bergetar.

Nada tak menyadari sudah berapa jauh ia berlari, dan rinai gerimis sudah menjelma menjadi guyuran hujan deras. Rok selutut yang tadinya mengembang tertiup angin ketika ia berlari, kini basah kuyup dan menempel ketat di tubuhnya. Baju biru benhur yang ia kenakan juga tak kalah basahnya.

Seketika langkahnya terhenti saat ia melihat pohon bougenville dengan daunnya yang rimbun di sisi kanan jalan. Dalam hati Nada bergumam, mungkin pohon itu bisa dijadikan tempat buat berteduh. Dan ia pun berjalan pelan, mencoba mencari posisi di antara dahan-dahan pohon bougenville yang menjulur ke mana-mana. Ia menoleh ke arah kanan-kiri, tak tampak seorangpun yang terlihat.

Isak tangisnya tak juga berhenti bahkan sampai hujan deras kembali berubah menjadi rinai gerimis. Angin sepoi menerpa beberapa bunga bougenville merah yang bergerak-gerak tepat di depan wajahnya. Tanpa diperintah jemari tangan kanannya meraih beberapa gerombol bunga yang sedikit basah. Ia berusaha menarik bunga itu dari dahannya. Namun tiba-tiba rasa perih menjalari jari manisnya, dan Nada meneriakkan kata 'aduh'. Dengan sedikit sentakan ia menarik kembali jemarinya. Ujung jari manisnya berdarah. Mungkin terkena duri. Ia menghisap jarinya, berharap perihnya segera menghilang.

Hampir dua jam Nada diam di antara dahan-dahan bougenville. Ia enggan pulang. Ia masih belum sanggup untuk kembali tersenyum dan tertawa. Sejenak ia memejamkan mata dan menengadahkan wajahnya ke arah langit. Ia menarik napas dalam dan perlahan menghembuskan udara segar yang memenuhi paru-parunya. Ia menahan agar air matanya tak lagi keluar. Yang ia butuhkan saat ini adalah penguatan. Ia harus bisa menguatkan hatinya sendiri. Mungkin setelah ini hidupnya akan terasa berbeda. Namun ia tak boleh lemah. Ia harus bisa bertahan dan terus tumbuh normal layaknya anak seusianya yang baru berumur 10 tahun.

Dengan langkah gontai Nada berjalan pulang. Dan mungkin sejak itulah ada selapis benteng yang mengelilingi hati. Mungkin jika ia dewasa kelak, ia akan tumbuh menjadi wanita yang keras hatinya, karena sesungguhnya ia tak ingin membiarkan seorangpun tahu betapa rapuhnya dirinya.


"Setiap momen yang tercipta tak mungkin terlupa begitu saja,
Momen bahagia mungkin akan dengan mudah diingat,
Namun momen sedih yang melukai hati seorang bocah tak perlu upaya kuat untuk diingat,
Dengan sendirinya luka itu akan terus terasa,
Bahkan jika mungkin datang kebahagiaan sekalipun,
Dibutuhkan jiwa yang besar untuk menerima dan menghapus perihnya."

Cha,
Rembang, 16 November 2014

Sunday, November 2, 2014

Tentang Sebuah Kata Bernama Kecewa

"Sampai kapan kamu akan menunggunya?"

Seorang gadis berusia 18 tahunan tampak termenung dan tak mempedulikan ucapan sahabatnya. Mereka berdua tengah duduk di tepi danau yang sedikit keruh namun banyaknya pepohonan membuat tempat itu sering dikunjungi orang.

Naina namanya. Usianya belum genap 19 tahun. Sudah hampir beberapa bulan ini matanya selalu terlihat sembab, terlebih ketika pagi menjelang. Zia--gadis lain yang duduk di sebelahnya--sekali lagi memerhatikannya dengan seksama.

"Kapan terakhir kali kamu makan nasi?"

Pertanyaan itu mampu membuat Naina menoleh dan mengalihkan pandangannya dari buih-buih air danau. Ia tersenyum sekilas, menatap Zia dengan tatapan meminta maaf yang ditanggapi Zia dengan beberapa kali gelengan kepala sebuah pertanda kalau Zia sedang kesal.

"Jadi roti atau pop mie? Tanpa susu juga?"

Naina akan membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Zia namun terhenti ketika Zia memanggil seorang tukang Siomay yang lewat di depan mereka. Naina ingin protes. Ia belum lapar, atau mungkin malah tidak lapar sama sekali. Namun ia paham betul perangai sahabatnya itu yang tak akan membiarkannya pulang begitu saja sebelum ia memakan sesuatu. Akhirnya ia memilih mengalah. Toh nanti malam ia juga belum tentu makan, tak apa jika siang ini ia mengganjal perutnya dengan seporsi siomay.

"Zia, ada abang penjual es doger itu.."

Naina menunjuk ke arah utara dan ekor mata Zia mengikuti ke mana jari Naina menunjuk. Terlihat abang penjual es doger langganan mereka berjalan pelan  dari arah masjid kampus, menyusuri tepian danau dan menuju ke arah mereka. Zia tersenyum penuh arti, tampak ia mengerti dengan maksud Naina.

"Kemarin aku beli sama si Dian, diskon 1500..Hahaha..Sekarang mau nguji peruntungan lagi nggak?"

Zia mengeluarkan dua lembar uang lima ribuan kepada penjual siomay dan menerima dua bungkus siomay, kemudian memberikan salah satunya kepada sahabatnya. Naina memerhatikan sekilas sebungkus siomay yang kini ada di tangannya. Kentang, tahu, kubis, siomay, tanpa otak-otak. Ia menepuk bahu Zia  beberapa kali yang direspon dengan senyuman lebar sahabatnya itu.

"Bang, satu di plastik, satu lagi di gelas ya..."

Naina memesan dua ketika si abang penjual es doger berhenti tepat di samping Zia. Abangnya tersenyum dan dengan cekatan membuat es pesanan mereka. Es yang di plastik tanpa tape dan ekstra susu. Setelah mereka menerima pesanan mereka, si abang kembali berjalan mengelilingi danau. Setengah jam lagi abangnya akan kembali menghampiri mereka untuk mengambil gelas, seperti biasanya.

"Aku nyobain tapenya dong..dikit aja, boleh?"

Naina menampilkan wajah memelas khasnya yang selalu bisa membuat Zia mengabulkan apapun itu yang menjadi permintaannya. Setelah Naina mengambil sepotong tape yang ada di gelas Zia, mereka berdua sesaat terdiam. Mungkin larut dalam pikiran masing-masing. Hingga sebuah pernyataan terlontar dari mulut Naina.

"Februari sudah hampir berakhir, Zia. Meskipun begitu, bisakah aku menyerah begitu saja jika hatiku mengatakan bahwa aku masih harus menunggunya? Hal apalagi yang harus aku perbuat?"

Zia menghela napas panjang, tidak langsung menanggapi perkataan Naina. Ia tak ingin menyakiti hati sahabatnya. Biasanya ia dengan lembut akan langsung menyuruh Naina untuk berhenti berharap. Namun kali ini ia tak ingin seperti itu. Naina tak akan mengubah keputusannya bahkan mungkin jika sampai setahun lagi lelaki itu tak juga muncul, Naina akan tetap bertahan. Zia paham betul Naina seperti apa. Ia tak setega Naya yang akan mengatakan kepada Naina untuk mencari pengganti lelaki itu.

"Seberapa besar kamu menyayanginya, Na?"

Naina terdiam cukup lama. Segala macam pertanyaan dan rentetan peristiwa tujuh bulan belakangan ini memenuhi otaknya. Seberapa besar ia menyayangi lelaki itu, yang bahkan wajahnya pun dulu sempat tak ia ingat? Berapa kali ia merasakan sebuah kekecawaan atas sikapnya selama ini? Apakah besarnya rasa sayang yang ia miliki sanggup untuk menghapus semua rasa kecewa yang ia rasakan?

"Mungkin memang aku yang salah. Seharusnya aku tak mengingkari janjiku akhir tahun lalu untuk menemuinya. Pasti dia kecewa, Zia."

Pernyataan menyalahkan diri sendiri. Zia hafal di luar kepala dengan kalimat yang selalu diucapkan Naina hampir tiga bulan ini.

"Biarlah aku telan semua rasa kecewa ini, Zia. Aku yakin suatu saat nanti dia akan mengerti bahwa aku selalu menunggunya. Aku ingin memercayainya, sekali lagi."

Zia menoleh sekilas dan mendapati mata Naina berkaca-kaca. Ia mengelus pelan punggung sahabatnya itu sambil memerhatikan dengan seksama raut wajah Naina. Sahabat baiknya yang selalu tampak ceria, tiba-tiba menjadi pemurung. Wajahnya putih pucat dan lingkar matanya hitam sekali. Zia kembali menyadari sesuatu ketika ia melihat baju yang dikenakan Naina sangat longgar.

"Berat badanmu turun lagi. Besok pagi bawa baju ganti sama buku buat hari Senin sekalian, selesai beresin tugas nginap aja di tempatku ya."

Naina mengangguk tanpa menoleh. Ia berusaha keras untuk menahan agar air matanya tak keluar.

***

"Seringkali kita berpikir bahwa menelan segala rasa kecewa akan membuat sebuah hubungan yang tadinya berantakan kembali baik-baik saja. Kita lupa memikirkan jika rasa kecewa yang kita telan terlalu banyak, maka rasa sayang yang kita rasakan juga akan memudar sedikit demi sedikit." (Momen sabtu sore,di tepian danau,dengan semilir angin yang tak berhenti menerpa)


Ketika rasa kecewa menghapus segalanya,
Menghilangkan yang telah berlalu,
Namun tak menghalangi rasa lain yang diam-diam merasuki jiwa.

Cha,
Rembang, 02 November 2014



Friday, August 29, 2014

Yang Terlewati

Jogja, Mei 2007

Hari 1
Sebuah obrolan di telepon, pukul 22.00 WIB
A: "Dik, saya sekarang dalam perjalanan ke Jogja ya, mungkin sampai sana sekitar pukul 4 subuh. Kemarin sudah booking kamar di Vidi 2, jadi besok langsung meluncur ke sana. Jam 7 ada janji temu sama klien dan partner, sore free, jadi bisa ketemu kamu."

Hari 2
Sebuah pesan singkat di ponsel, pukul 17.25 WIB
A: "Kamu selesai kelas bimbingan jam 17.30 kan? Aku masih meeting di gedung sebelah, bahas project yang di Makassar dan Kendari, masih alot. Setengah jam lagi aku usahakan keluar. Tunggu ya. Mobil aku parkir di parkiran dekat musholla fakultas. Langsung ke sana saja."

Sebuah pesan singkat di ponsel, pukul 19.00 WIB
A: "Kamu nggak nunggu aku keluar ya tadi? Sekarang aku masih di Teknik, sekalian saja aku datang ke Homestay ya, alamatnya mana? Masih bisa nemuin tamu sampai jam 10 malam kan?"

Sebuah pesan singkat di ponsel, pukul 22.00 WIB
A: "Dik, kamu memang sengaja nggak mau nemuin aku ya? Besok jam 9 pagi aku pulang. Minggu ini jadwal kamu libur kan? Nggak ada acara ke lapangan? Besok pagi aku pengen pamit, aku tunggu di Vidi 2 atau kamu kirim alamat tempat kamu tinggal di Homestay berapa ya. Aku tunggu sms balasanmu."

Seminggu kemudian
A: "Kamu masih di Bandung? Sampai tanggal berapa di sana? Besok aku ke Jogja lagi, mungkin tiga hari di Jogja, sekalian mau kontrol bengkel yang di Godean. Kasih kabar kalau kamu sudah di Jogja lagi dan jangan lupa kirim doa buat bapak ya."


Rembang, Mei 2008

Sebuah obrolan di teras rumah, pukul 17.00 WIB
H: "Kamu jadinya mau lanjut di mana? Yang kemarin nggak dapat udahlah, nggak usah disesali. Masih bisa nyoba jalur lain, kan? Masih ada jalur kerja sama daerah dan tes umum kan? Masih pengen ke Jogja? Atau mau kembali ke rencana awal, di Semarang? Jangan jauh-jauh ya, biar mas gampang kontrolnya, bisa nengokin tiap weekend. Atau mau di Solo aja sekalian bareng mas?"

Depok, Agustus 2008

Sebuah pesan singkat di ponsel, pukul 13.00 WIB
N: "Nanti sore selesai ospek jam berapa, dik? Saya masih ada rapat di Senayan sampai jam 3 sore. Habis itu langsung ke Depok, tapi mungkin nanti naik KRL, tunggu di stasiun UI ya."

Sebuah obrolan di halte stasiun, pukul 17.00 WIB
N: "Udah dua tahun nggak naik kereta, kangen juga kadang-kadang. Kamu pengen jalan ke mana, dik? Mampir kost kamu sebentar ya, saya belum sholat Ashar. Sekalian ngambil titipan dari ibu buat saya, ada kan?"

Sebuah obrolan di kamar kost, pukul 17.15 WIB
N: "Ayo sholat, nggak apa-apa kan saya jadi imam buat kamu?"


Surakarta, Agustus 2008

Sebuah obrolan di telepon, pukul 10.00 WIB
H: "Dik, aku lagi di bookfair nih..Dua bulan ini udah muter-muter kota nyari hadiahmu belum nemu. Kalau diganti yang lain gimana? Kamu suka tulisannya Bob Foster kan? Ini kebetulan ada bukunya, aku beli ya.."


Depok, Oktober 2008

Sebuah obrolan di telepon, pukul 13.00 WIB
N: "Aku masih rapat dik. Mungkin selesainya malam, jam 8. Kalau nanti nggak sempat jemput ke Depok, aku kirim sopir ya. Atau kalau kamu berani naik kereta sendiri, tunggu di stasiun Kalibata, jam 9 nanti aku jemput di sana. Kita berangkat jam 10 saja biar nggak kena macet, musim mudik begini lebih enak jalan malam."

Sebuah obrolan di stasiun kereta, pukul 21.10 WIB
N: "Maaf ya dik, kamunya jadi lama nunggu. Aku baru pulang dan cuma sempat mandi aja ini, nanti kita makan di jalan aja ya. Sini kopernya aku bawain, mobil aku parkir di bawah fly over sebelum gate masuk tol."

Sebuah obrolan di dalam mobil, pukul 01.00 WIB
N: "Dik..bangun ya, makan dulu yuk..aku lapar. Kita udah sampai Indramayu. Kamu mau makan apa, pilihlah apa yang kamu pengen, aku ngikut aja."


Rembang, Oktober 2008
Sebuah obrolan di tepi jalan, pukul 14.00 WIB
H: "Hadiah kelulusanmu udah ada di rumah. Mau diantar apa kamu ambil? Yuk sekalian bareng mas aja ke rumahnya. Mama pasti senang ketemu kamu. Udah beberapa bulan nggak lihat kamu, kangen katanya."

Sebuah obrolan di telepon, pukul 11.00 WIB
N: "Kamu jadinya masuk tanggal berapa? Baliknya bareng aku aja lagi, capek kalau long drive sendirian nggak ada yang nemenin. Nanti sore main ke rumah ya, ibuku pengen ketemu, kangen ngobrol sama kamu katanya."


Depok, November 2008

Hari 1
Sebuah obrolan di telepon, pukul 17.30 WIB
N: "Kamu udah makan apa belum, dik? Jangan lupa ya besok bangun pagi, kita jogging jam 6.30, tunggu aku di halte Stadion, aku parkir di Wisma Makara saja, nanti jalan kaki dari sana."

Hari 2
Sebuah obrolan di sepanjang jalanan setapak hutan karet, pukul 8.00 WIB
N: "Jadi mau belajar makan di asrama? Selesai jogging kita langsung makan ya. Setelah itu temani aku, ada acara di Bidakara jam 10.00 WIB. Masih punya baju formal yang siap pakai kan?"

Sebuah obrolan di hotel Bidakara, pukul 11.00 WIB
N: "Kita duduk di sini saja. Jangan pedulikan teman-temanku yang suka iseng tanya-tanya. Biarkan saja mereka iri melihat kita. Ya gitu itu kelakuan laki-laki kalau membujang sampai umur 30 tahun."


Depok, Desember 2008

Sebuah obrolan di telepon, pukul 20.00 WIB
N: "Kamu lagi di mana? Jadi nginep di tempat temanmu? Tadi sore aku selesai ngajar mampir ke tempatmu katanya kamu nggak ada. Cek rekening ya, hari ini kebetulan aku ada rejeki lebih, sebagian aku kirim ke rekeningmu, lumayan kan bisa buat tambah-tambah jajan minggu ini."


Depok, Februari 2009

Sebuah obrolan di telepon, pukul 21.00 WIB
N: "Dik, kamu masih demam? Tadi udah sempat ke PKM belum? Aku nanti selesai rapat jam 10, kalau kamu mau diantar ke dokter, pulang kerja aku langsung ke Depok."


Depok, Maret 2009

Sebuah obrolan di telepon, pukul 20.00 WIB
N: "Aku kemarin habis pulang ke Rembang dik, mampir ke rumahmu ketemu ibu. Dibawain tape kesukaanku, kalau kamu mau besok aku antar ke tempatmu. Sekalian kita jalan-jalan ya, sebulan ini kan aku sibuk ke sana kemari urus pemilihan. Jadi mau kasih lihat jembatan yang di FIB itu kan? Sekalian ambil foto ya.."

*****
Ada begitu banyak cerita, kisah, dan sebuah obrolan yang dulu selalu aku abaikan. Kala itu, di saat usiaku baru menginjak 17 tahun, egoku begitu besar, tak pernah mendengarkan dan melihat satu-dua orang yang berusaha bersikap tulus.

Ada banyak tanya, dan rasa ingin tahu ketika itu. Entah itu tentang kejujuran, ketulusan, atau bahkan sampai tentang soulmate. Seperti apakah soulmate itu? Apakah orang yang selalu ada di dekat kita, saat kita senang maupun susah, cukup disebut sebagai soulmate kita? Seperti apakah ketulusan itu? Ketika aku tak lagi bisa membedakan mana orang baik dan mana yang bukan, saat itulah aku menganggap tak ada lagi ketulusan di dunia ini. Mata hatiku buta dan tertutup oleh idealisme yang mungkin tak real, sebuah keinginan untuk menemukan ketulusan, dengan caraku sendiri.

Kini, setelah sekian lama aku melihat dan merasakan rasa perih, suka, dan duka kehidupan, kadangkala rasa penyesalan itu hadir. Dulu sekali, ada sekian banyak orang yang berusaha tulus, tapi tak pernah aku hiraukan. Setelah semuanya pergi dan menghilang, sekali waktu rasanya ingin sekali kembali ke masa lalu, memutar semua peristiwa dan masa yang dulu aku ingkari, mencoba memperbaiki sikap dan pemikiranku tentang arti sebuah ketulusan.

Kembali ke masa lalu, mungkin hanyalah sebuah hayalan. Tak mungkin kan terjadi.

Lalu, sekali lagi egoku bertanya, akankah kamu tetap bertahan dengan sejuta tanya tentang ketulusan? Dan hatiku menjawab, ikhlaslah..cobalah menerima, dan ijinkan orang-orang yang sudah berusaha tulus masuk ke dalam kehidupanmu.

Hingga akhirnya detik ini jiwaku kembali terbuka, menanti dia yang memang tulus, ingin merengkuhnya sepenuh hati.

Tentang arti sebuah ketulusan,
Kala gerimis kembali menyapa,

Depok, 29 Agustus 2014

Wednesday, September 25, 2013

Sebuah Benteng

“Tidakkah kau sadari sikapmu itu terlalu kaku dan dingin pada setiap lelaki, Lia?” Liana tersenyum samar ketika ia mendengar Dina, sahabatnya, selalu mengucapkan pertanyaan yang mungkin sudah berubah menjadi sebuah pernyataan sejak setahun silam. Meskipun Dina tahu apa yang akan Liana katakan setelah ia mengajukan pertanyaan itu, namun ia tetap mengajukannya.

“Apa yang kau harapkan untuk ku katakan, Din?” Liana nampak jemu. Terhitung sudah ratusan kali ia mendengar Dina selalu mengucapkan kalimat yang sama yang dipilih untuk memancingnya agar melupakan kejadian setahun silam terkait Romeo dan melangkah maju. Satu hal yang sampai saat ini belum bisa dilakukan oleh Liana.

Liana tersenyum getir, “aku tidak bisa, Din. Luka itu masih terasa baru.” Dina menepuk-nepuk bahu Liana, “Lia..Lia..kau masih tetap sama, ya. Masih saja bodoh seperti setahun lalu kalau urusan hati. Cinta itu butuh logika, Lia. Tak cukup hanya pakai hati.”

Liana merenung. Dina memang benar kadang-kadang. Atau malah seringkali benar, bukan hanya kadang-kadang. Liana pandai berlogika. Ia selalu bisa memecahkan masalah serumit apapun jika itu terkait penalaran. Liana juga berhati sensitif, hatinya sangat lembut, mudah tersentuh. Namun satu hal yang tak pernah berhasil ia lakukan, menggabungkan penggunaan logika dan hati secara bersamaan untuk menyelesaikan satu masalah. Liana selalu memisahkan keduanya. Baginya, baik logika maupun hati mempunyai jalannya sendiri-sendiri.

“Kalau kau berani melangkah dan menggunakan logikamu sekali saja, aku yakin hatimu tak akan sesakit ini jika kelak hubunganmu hancur lagi. Cinta itu memang tak bersyarat, Lia, namun kau tetap harus bisa menganalisis setiap ada perkembangan dari hubunganmu. Semua hubungan pasti memiliki pertanda, akan tetap diam di tempat ataukah maju ke depan. Yang terpenting janganlah berikan hatimu seluruhnya, sisakan untuk sebuah pembatas,” Dina berkata sambil memandang lurus ke depan. Ia dan Liana saat ini sedang duduk berdua di bawah sebuah pohon angsana di antara padang ilalang dan dandelion.


Liana melakukan hal yang sama dengan Dina. Ia memandang lurus ke depan, matanya menerawang. Beberapa batang bunga dandelion tampak bergoyang-goyang dan berhasil memikat matanya sampai akhirnya ia berdiri dan melangkah untuk memetik bunga-bunga itu. Mulutnya mengerucut dan meniup dandelion-dandelion yang ada dalam genggamannya. Seketika bunga-bunga putih tipis itu terbang memenuhi udara di sekitar Liana. Ia memandangi dandelion yang sudah terbang itu, dan berharap luka di hatinya akan ikut luruh meskipun tak bisa ia pungkiri, jika nanti ia sudah siap kembali membuka hati untuk laki-laki, sebuah benteng akan tetap ada di dalam hatinya. Liana membutuhkan pembatas, sebuah garis tipis yang menjadi pemisah antara kebahagian dan kesedihan mendalam. 

Thursday, July 18, 2013

Malam Terakhir


“Mengapa kau begitu menyukai malam?” Liana tersenyum kecut tiap mengingat pertanyaan yang selalu diulang oleh semua orang di sekitarnya. Mengapa ia menyukai malam, matanya tak pernah berhenti berbinar ketika dinginnya angin malam datang menerpa wajahnya, apakah sangat susah dipahami oleh orang lain? Sementara tiap ada kesempatan ia hampir selalu menjelaskan, hampir selalu menunjukkan alasan mengapa ia tak pernah berhenti menyambut datangnya malam dengan sukacita.

“Ia hanya datang saat malam hari. Lelaki itu, tak pernah menyapaku lagi begitu fajar tiba,” sambil menelan ludah Liana mencoba menjawab pertanyaan dari salah satu sahabatnya. “Lelaki macam apa yang hanya datang saat malam hari dan pergi begitu saja saat matahari terbit?” Sungguh, Liana tak mampu menjawab kali ini. Nyatanya ia menyukai lelaki itu, meski kadang hatinya terasa perih ketika menyadari bahwa ia akan selalu diabaikan jika pagi datang menjelang.

“Liana, apakah kau mencintainya?” Hatinya tertohok saat pertanyaan itu diajukan. Apakah perasaan gembira dan nyaman yang selalu dirasakannya ketika bersama lelaki itu sudah cukup untuk disebut cinta? “Sesungguhnya ia tak pernah pergi dari hidupku,” kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya.

“Tak pernah pergi kau bilang? Lalu mengapa tak sekalipun ku lihat kau bersamanya di siang hari?” Kadang-kadang Dina, sahabatnya sejak kecil itu, memang terlalu jeli mengamati segala sesuatunya. “Ia hanya sedikit menjauh, Din, bukan pergi,” lagi-lagi Liana membela lelaki itu. Sekali waktu hatinya memang pernah menanyakan pertanyaan yang sama dengan yang Dina tanyakan. Apakah satu-satunya lelaki yang dengan sungguh-sungguh bilang mencintainya itu memang sebenarnya bermaksud pergi dari hidupnya, bukan sekedar menjauh?

“Kau bodoh, Lia. Cinta tak pernah mengenal waktu. Jika lelaki itu hanya sudi bersamamu saat malam hari, maka ia tak sepenuhnya mencintaimu. Camkan itu!” Liana sedikit bergidik ketika mendengar ucapan Dina. “Hampir seribu malam aku telah bersamanya, Din. Aku percaya ia mencintaiku lebih dari apapun.” Liana tak menyangka jika respon yang ia dapatkan dari Dina adalah tawa mengejek. “Lebih dari apapun kau bilang? Lalu kehidupan macam apa yang orang asing itu jalani di siang hari hingga harus mengabaikanmu?” Dina mengungkapkan satu lagi kenyataan yang tak pernah ingin Liana ungkap sebelumnya. Kehidupan lain lelakinya.

Satu minggu setelah percakapan Liana dengan Dina. Lelaki itu, Romeonya, masih tetap datang di malam-malamnya yang gelap. Meski Liana sempat ragu, namun ia berusaha menekan perasaannya. Ia mengingkari hatinya yang membisikkan bahwa Romeo ingin meninggalkannya, hingga suatu siang menjelaskan semuanya.

Saat itu Liana baru saja keluar dari sebuah coffee shop. Kebiasaannya ketika keluar dari suatu tempat dan mulai berjalan menyusuri trotoar adalah mengawasi sekitar. Entah apa yang membuatnya harus melakukan hal itu, tapi instingnya selalu memerintahkan dirinya untuk melalukannya. Pandangannya seketika berhenti pada satu titik, matanya terkunci pada sebuah objek yang ia yakin tak pernah ingin melihatnya. Romeo, lelaki satu-satunya yang selalu dicintainya, berjalan pelan di seberang jalan tempatnya berdiri saat ini, dengan salah satu lengannya melingkari pinggang seorang wanita dengan posesif. Kepala lelaki itu menoleh ke arahnya, bibirnya mengembangkan sebuah senyum permintaan maaf. Liana dapat merasakan seluruh badannya menggigil, namun kakinya seolah tak mau digerakkan dan tetap membeku di tempatnya berdiri. Ia ingat semuanya, percakapan dan perlakuan Romeo padanya tadi malam. Firasat yang ia rasakan adalah sebuah alarm dari hatinya, pertanda yang ia tetapkan sendiri dan akan memperingatkannya ketika seorang lelaki akan menyakitinya, namun alarm itu terus ia abaikan ketika Romeo ada bersamanya.

Malam sebelumnya. “Romeo, mengapa kau datang terlambat malam ini?” Liana hampir saja pergi meninggalkan sebuah padang rumput tempatnya biasa bertemu dengan lelakinya. Romeo hanya tersenyum dan berusaha menggenggam erat tangannya. “Maafkan aku Lia,” hanya kata itu yang Liana dengar. Untuk kesekian kalinya Liana memaafkan Romeo begitu saja tanpa alasan. “Tak apalah, yang terpenting kita masih sempat melihat bintang. Untung malam ini hujan tidak datang, padahal ketika menunggumu datang tadi, aku merasakan dinginnya angin sampai menusuk tulangku. Mungkin alam masih berpihak pada kita, Romeo,” bersama lelaki yang dicintainya, itulah yang ia inginkan saat ini. Romeo duduk di rumput, di sebelahnya. Tangannya dengan lembut meraih kepala Liana, meletakkannya di bahu kokoh yang selalu membuatnya nyaman Liana. “Lia, kau adalah satu-satunya wanita yang pernah aku impikan. Segala yang ada pada dirimu adalah hal yang tak pernah aku bayangkan bisa ku dapatkan. Kalau aku bisa memilih, aku akan selalu bersamamu,” Romeo berkata lirih, dan Liana telah larut dalam kenyamanan hingga otaknya hanya menyerap, tak mampu memproses apa yang baru saja diucapkan oleh Romeo. Liana tak pernah menyadari jika saat itulah malam terakhirnya bersama lelaki yang pernah mengaku mencintainya.

Liana hanya mimpi bagi Romeo. Sebuah impian yang tak harus ia pilih karena ada suatu realitas dalam kehidupannya. Kekasih dan segala sesuatu yang sudah ia miliki saat ini tak akan mampu ia tinggalkan untuk sekedar memilih Liana. Liana memang indah, tapi bagi Romeo, ia hanyalah seorang wanita yang diperlukan kehadirannya saat malam hari, tepat di waktu kekasih realnya masih berpacu dalam ego dan ambisinya. Liana bukan wanita yang dapat Romeo andalkan di siang hari, karena sifat feminin yang melekat pada dirinya hanyalah akan menjadi sebuah ganjalan bagi langkahnya. Mimpi tak harus ia dapatkan, namun realita harus ia pertahankan, meski sudah pasti ada sebuah hal yang dikorbankan, perasaan Liana. Romeo hanya punya keyakinan bahwa suatu saat nanti Liana tak lagi bertemu dengan sosok lelaki seperti dirinya, yang hanya mampu menerima keindahan diri Liana.