Listen and Download: Tears and Rain by James Blunt

Friday, June 9, 2017

NICE HOME WORK 4 MIIP Batch 4

📚NICE HOME WORK #4

🍀MENDIDIK DENGAN KEKUATAN FITRAH 🍀

a. Mari kita lihat kembali Nice Homework #1 , apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?

Saat menuliskan NHW #1, saya memilih jurusan ilmu seputar 'peristrian' dan 'keibuan' untuk saya tekuni di Universitas Kehidupan ini. Dan setelah hampir empat pekan ini saya renungkan, saya masih akan terus mempelajari jurusan tersebut, namun dengan sedikit penambahan, atau lebih tepatnya mengerucutkan lagi dari ilmu umum yang ingin saya pelajari sebelumnya. Saya ingin mempelajari ilmu seputar pendidikan Ibu dan Anak, lebih khususnya lagi dalam bidang kepenulisan.

b. Mari kita lihat Nice Homework #2,  sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.

Saat membuat checklist di NHW #2, saya berencana akan mengisinya setiap hari selama satu minggu, setelah itu akan melakukan evaluasi mingguan. Pekan selanjutnya terus seperti itu hingga genap satu bulan saya akan melakukan evaluasi bulanan. Sampai saat ini saya masih belum konsisten mengisinya. Ke depannya saya akan berusaha sebaik mungkin untuk mengisi setiap hari dan setiap indikator serta berusaha konsisten menjalankan apa yang saya tuliskan di dalam checklist tersebut.

c. Baca dan renungkan kembali  Nice Homework #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang  akan kita kuasai, sehingga peran hidup anda akan makin terlihat.

Ya, setelah merenungkan NHW #3, sedikit banyak saya sudah memahami mengapa Allah menciptakan saya di muka bumi ini dengan berbagai potensi dan pengalaman manis maupun pahit yang pernah saya alami.

Ketika saya beraktivitas dalam bidang kepenulisan, seperti misalnya sedang membiasakan Zee agar mencintai buku dengan cara mengajaknya membaca  setiap hari saat berada di rumah serta setiap akhir pekan  di perpustakaan keliling yang ada di halaman Masjid Agung An Nur Pekanbaru, saya sering mengunggah foto dengan caption tentang membaca dan buku di media sosial, orang-orang yang membaca tulisan saya biasanya akan terinspirasi dan tertular semangat saya. Sama halnya dengan orang-orang yang berada di sekitar saya ketika sedang berada di perpustakaan keliling. Saat mereka melihat bagaimana saya bisa mengajak Zee menikmati aktivitas membaca, mereka akan bersemangat dan mengikuti apa yang saya lakukan. Selain membaca, aktivitas menulis yang saya lakukan juga seringkali menjadi cambuk bagi orang-orang di sekitar saya. Bukan hanya menikmati hasil karya saya, mereka justru menjadi bersemangat untuk ikut menulis dan menghasilkan karya setelah berdiskusi dengan saya. Dari situlah saya akan mencoba menjalani peran hidup yang sampai saat ini saya yakini sudah ditakdirkan untuk saya berikut ini.

Misi hidup: Memberikan motivasi kepada orang lain

Bidang: Pendidikan Ibu dan Anak (Khususnya dalam kepenulisan)

Peran: Author dan Motivator

d. Setelah menemukan 3 hal tersebut,  susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut.

Karena bidang yang akan saya tekuni adalah pendidikan ibu dan anak (khususnya dalam kepenulisan), maka akan akan meminjam istilah yang digunakan oleh Ibu Septi, yaitu Bunda Sayang, Bunda Cekatan, Bunda Produktif, dan Bunda Shaleha. Berikut ilmu-ilmu yang akan saya pelajari untuk mendukung bidang keilmuan yang nantinya akan saya tekuni.

1. Bunda Sayang: Ilmu-ilmu seputar fitrah belajar dan bernalar pada anak, ilmu dasar kepenulisan (jenis tulisan yang cocok untuk anak serta jenis tulisan yang bisa ditulis oleh ibu-ibu), ilmu dasar psikologi ibu dan anak (berkaitan dengan pengaruh membaca dan menulis terhadap perkembangan bernalar serta berbahasa pada anak dan kebahagiaan ibu)

2. Bunda Cekatan: Ilmu-ilmu seputar manajemen waktu untuk menulis, teknik penulisan, pengelolaan mood dan ide dalam menulis, pemilihan jenis tulisan/bacaan yang tepat buat anak

3. Bunda Produktif: Ilmu-ilmu seputar menerbitkan buku, memasarkan buku yang dibuat, menjadikan tulisan sebagai sumber penghasilan

4. Bunda Shaleha: Ilmu-ilmu seputar berbagi manfaat kepada orang lain (menebarkan manfaat lewat tulisan hasil karya kita)

e. Tetapkan Milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan Misi Hidup

KM 0 saya tetapkan sejak usia 26 tahun di tahun 2016 kemarin, saat saya mulai mengenalkan buku kepada anak saya yang saat itu usianya masih 9 bulan. Target saya untuk menjadi seorang ahli dalam bidang yang ingin saya tekuni minimal 10.000 jam terbang, dengan milestonenya sebagai berikut.

1. KM 0 - KM 2 (Tahun 1 - Tahun 2): Menguasai Ilmu Seputar Bunda Sayang
    Di 2 tahun pertama ini, karena kondisinya saya masih mempunyai seorang anak usia batita,  maka waktu yang bisa saya luangkan setiap hari untuk menekuni bidang yang ingin saya pelajari adalah 5 jam per hari.

2. KM 2 - KM 3 (Tahun 3): Menguasai Ilmu Seputar Bunda Cekatan
    Di tahun ketiga ini karena usia anak saya nantinya sudah mendekati dan akan melewati tiga  tahun, maka saya bisa menambah jam terbang harian menjadi 6 jam per hari.

3. KM 3 - KM 4 (Tahun 4): Menguasai Ilmu Seputar Bunda Produktif
   Tahun keempat waktu yang saya dedikasikan masih sama dengan tahun ketiga, yaitu 6 jam per hari.

4. KM 4 - KM 5 (Tahun 5): Menguasai Ilmu Seputar Bunda Shaleha
   Tahun kelima waktu yang bisa saya dedikasikan setiap hari adalah 6 jam.

Milestone ini akan selesai dalam waktu 5 tahun, yaitu sejak usia saya 26 - 30 tahun. Hal ini sesuai dengan plan saya sejak sebelum menikah dan mempunyai anak. Impian saya, diusia 30 tahun saya sudah selesai mempelajari ilmu-ilmu yang berguna untuk menunjang bidang yang ingin saya tekuni. Setelahnya saya akan terus berfokus menjadi seorang Ibu yang produktif dengan menghasilkan banyak karya berupa buku serta menjadi seorang Ibu Shaleha dengan menebarkan banyak manfaat kepada orang lain lewat karya yang saya hasilkan, misalnya dengan membuat taman bacaan gratis, rumah singgah, ataupun sekolah gratis bagi anak-anak di sekitar lingkungan tempat tinggal saya.

f. Koreksi kembali checklist anda di NHW#2, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.

Saya sudah mencantumkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu di atas dalam checklist indikator perempuan profesional dalam NHW#2, namun jika nantinya diperlukan penambahan, baik itu jenis ilmu maupun jam terbang, saya akan mengoreksi dan mengubah indikator tersebut.


Berikut saya sertakan materi pekan keempat dari Tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional.


PROGRAM MATRIKULASI IBU PROFESIONAL SESI #4

🌱#MENDIDIK DENGAN KEKUATAN FITRAH*🌱

Bunda, setelah kita memamahi bahwa salah satu alasan kita melahirkan generasi adalah untuk membangun kembali peradaban dari dalam rumah kita, maka semakin jelas di depan mata kita, ilmu-ilmu apa saja yang perlu kita kuasai seiring dengan misi hidup kita di muka bumi ini. Minimal sekarang anda akan memiliki prioritas ilmu-ilmu apa saja yang harus anda kuasai di tahap awal, dan segera jalankan, setelah itu tambah ilmu baru lagi. Bukan saya, sebagai teman belajar anda di IIP selama ini, maupun para ahli parenting lain yang akan menentukan tahapan ilmu yang harus anda kuasai, melainkan *_DIRI ANDA SENDIRI_*

Apakah mudah? TIDAK.  Tapi yakinlah bahwa kita bisa membuatnya menyenangkan. Jadilah diri anda sendiri, jangan hiraukan pendapat orang lain. Jangan silau terhadap kesuksesan orang lain. Mereka semua selalu berjalan dari KM 0, maka mulai tentukan KM 0 perjalanan anda tanpa rasa “galau”.

Inilah sumber kegalauan diri kita menjalankan hidup, kita tidak berusaha memahami terlebih dahulu apa“misi hidup” kita sebagai individu dan apa “misi keluarga” kita sebagai sebuah komunitas terkecil. Sehingga semua ilmu kita pelajari dengan membabi buta dan  tidak ada yang dipraktekkan sama sekali. Semua seminar dan majelis ilmu offline maupun online kita ikuti, karena kekhawatiran tingkat tinggi akan ketertinggalan ilmu kekinian, tapi tidak ada satupun yang membekas menjadi jejak sejarah perjalanan hidup anda.

Check List harian sudah anda buat dengan rapi di Nice Homework#2, surat cinta sudah anda buat dengan sepenuh hati  di Nice Homework #3. Bagi yg sudah menemukan misi hidup dan misi keluarga, Misi tersebut sudah kita tulis besar-besar di dinding kamar, tapi anda biarkan jadi pajangan saja. Maka “tsunami informasilah” yang anda dapatkan, dan ini menambah semakin tidak yakinnya kita kepada “kemampuan fitrah” kita dalam mendidik anak-anak.

“ *Just DO It*”,

_lakukan saja meskipun anda belum paham, karena Allah lah yang akan memahamkan anda lewat laku kehidupan kita_.

Demikian juga dengan pendidikan anak-anak. Selama ini kita heboh pada _Apa yang harus dipelajari anak-anak kita_,  bukan pada _Untuk apa anak-anak mempelajari hal tersebut_ Sehingga banyak ibu-ibu yang bingung memberikan muatan-muatan pelajaran ke anak-anaknya tanpa tahu untuk apa anak-anak ini harus melakukannya.

Ada satu kurikulum pendidikan yang tidak akan pernah berubah hingga akhir jaman, yaitu

PENDIDIKAN ANAK DENGAN KEKUATAN FITRAH

Tahap yang harus anda jalankan adalah sbb:

a.Bersihkan hati nurani anda, karena ini faktor utama yang menentukan keberhasilan pendidikan anda.

b. Gunakan Mata Hati untuk melihat setiap perkembangan fitrah anak-anak. Karena sejatinya sejak lahir anak-anak sudah memiliki misi spesifik hidupnya, tugas kita adalah membantu menemukannya sehingga anak-anak tidaka kan menjadi seperti kita, yang telat menemukan misi spesifik hidupnya.

c. Pahami Fitrah yang dibawa anak sejak lahir itu apa saja. Mulai dari fitrah Ilahiyah, Fitrah Belajar, Fitrah Bakat, Fitrah Perkembangan, Fitrah Seksualitas dll.

d. Upayakan proses mendidik yang sealamiah mungkin sesuai dengan sunatullah tahap perkembangan manusia. Analogkan diri anda dengan seorang petani organik.

e. Selanjutnya tugas kita adalah MENEMANI, sebagaimana induk ayam mengerami telurnya dengan merendahkan tubuh dan sayapnya, seperti petani menemani tanamannya. Bersyukur atas potensi dan bersabar atas proses.

Semua riset tentang pendidikan ternyata menunjukkan bahwa semakin berobsesi mengendalikan, bernafsu mengintervensi, bersikukuh mendominasi dsbnya hanya akan membuat proses pendidikan menjadi semakin tidak alamiah dan berpotensi membuat fitrah anak anak kita rusak.

f. Manfaatkan momen bersama anak-anak, bedakan antara WAKTU BERSAMA ANAK dan WAKTU DENGAN ANAK. Bersama anak itu anda dan anak berinteraksi mulai dari hati, fisik dan pikiran bersama dalam satu lokasi. Waktu dengan anak, anda dan anak secara fisik berada dalam lokasi yang sama, tapi hati dan pikiran kita entah kemana.

g. Rancang program yang khas bersama anak, sesuai dengan tahap perkembangannya, karena anak anda *very limited special edition*

Bunda, mendidik bukanlah menjejalkan, mengajarkan, mengisi dsbnya. Tetapi pendidikan, sejatinya adalah proses membangkitkan, menyadarkan, menguatkan fitrah anak kita sendiri.
Lebih penting mana membuat anak bergairah belajar dan bernalar atau menguasai banyak pelajaran, lebih penting mana membuat mereka cinta buku atau menggegas untuk bisa membaca.

Jika mereka sudah cinta, ridha, bergairah maka mereka akan belajar mandiri sepanjang hidupnya.
Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

Sumber bacaan :
_Irawati Istadi, Mendidik dengan Cinta, Jogjakarta, 2013_
_Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016_
_Antologi, Komunitas Ibu Profesional, Bunda Sayang, Surakarta, 2014_
_Materi Matrikulasi sesi #3, Membangun Peradaban dari Dalam Rumah, 2016_

Tuesday, June 6, 2017

Pre Order Novel A Cup of Espresso

Open Order Perdana

Novel A Cup of Espresso,
Harga Normal 59.500.

HARGA PROMO 54.000

Pre Order dibuka tanggal 7-14 Juni 2017 (hanya 1 Minggu)

Yuk yang mau nambah koleksi bukunya, silahkan diorder karya solo pertama saya ini.

Kontak: WA 082328620329



Thursday, June 1, 2017

Nice Home Work 3 MIIP Batch 4

NICE HOMEWORK #3

📚MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH 📚

NHW pekan ketiga ini bikin galau, pasalnya saya harus membuat surat cinta untuk suami. Akhirnya, setelah melalui perjuangan selama dua hari, selesai sudah. hehehe. Berikut jawaban dari NHW yang saya kerjakan.


a. Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki "alasan kuat" bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda.Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.

Setelah dua hari galau, akhirnya di hari ketiga saya berhasil membuat surat untuk suami saya. Meskipun isinya lebih ke cerita sih, hahaha.... Saya menuliskannya dengan tangan, sejumlah dua halaman. Meskipun saya bisa membuat cerita fiksi yang romantis sesuai passion saya, namun jika urusan membuat kalimat romantis secara real, saya nol besar. Bahkan suami saya juga bilang kalau saya tidak romantis secara verbal, terlebih ucapan langsung. Berbekal nekat, dengan mencurahkan perasaan, mengingat kembali mengapa dulu saya menerima lamaran suami, mengenang kembali bagaimana rasanya dulu saat kami baru mengenal tanpa pernah sekalipun bertatap muka. Perkenalan kami yang sangat unik, situasi kami yang sangat rumit, serta jarak yang sangat berjauhan membuat segala seperti tidak.mungkin bagi kami untuk menikah. Namun Tuhan memang Maha Segalanya. Alhamdulillah tahun ini merupakan tahun ketiga pernikahan kami.

Sifat suami saya yang lembut, saat itu membuat saya yakin bahwa nantinya ia akan menjadi ayah yang baik dan penuh kasih sayang kepada anak-anaknya. Kebiasaannya mengingatkan saya beribadah, makan, menjaga kesehatan, membuat saya yakin ia akan melakukan hal sama pada anak-anak kami sehingga dapat dipastikan kehidupan anak-anak kami tidak akan terlantar.

Respon suami saya ketika menerima surat dari saya adalah tertawa. Ia bilang, mungkin inilah pertama kali dan terakhir kali saya membuat surat cinta dan memberikan kepadanya. Ia sedikit protes karena saya tidak menuliskan tentang kesediaannya mengantarkan dan mencarikan hal-hal yang saya inginkan meskipun sedang dongkol dan kesal. Hahaha. Jika ingat akan hal itu saya pun ingin tertawa. Ya, saat saya hamil, pernah saya memintanya menemani saya mencari martabak pandan sampai ke Batam Center, bahkan hampir sampai ke Batu Besar jika saya tidak berhenti ngambek, padahal saat itu kami tinggal di Tiban, yang jarak tempuhnya hampir 1 jam sekali jalan, jadi total 2 jam pulang pergi. Belum lagi mencari rujak petis di pagi buta serta pergi ke berbagai pantai yang saya inginkan.

Suami saya pandai membuat design grafis, dan hal itu sangat menunjang potensi yang saya miliki dalam bidang menulis, sehingga kolaborasi yang kami lakukan nantinya akan berguna bagi anak kami. Itu juga merupakan salah satu alasan saya menerima lamarannya.

Suami saya mengatakan akan menyimpan surat dari saya. Aih, alangkah senangnya...

Ini nih penampakan surat yang saya buat untuk suami saya.



b.Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.

Anak saya, Zee, saat ini berusia 20 bulan dan sudah memenuhi semua checklist indikator tumbuh kembang anak usia 1-2 tahun. Bahkan ketika saya amati, tahapan milestone yang ia lalui jauh lebih cepat dibandingkan yang ada di dalam indikator tersebut. Dan saya melihat ini sebagai sebuah potensi yang ada dalam dirinya. Karena sifat anak bisa dipengaruhi oleh genetik orang tuanya, maka ketika mengamati potensi-potensi yang ia miliki, sedikit banyak saya melihatnya mulai dari hal-hal yang hampir mirip dengan potensi yang dimiliki oleh orang tuanya.

Berikut beberapa potensi yang dimiliki oleh Zee:

1. Saat usianya baru 2,5 bulan Zee sudah bisa tengkurap. Juga saat usianya belum genap 6 bulan Zee sudah pandai duduk tegak. Diikuti dengan fase berjalan yang sangat cepat, di usianya yang baru 11 bulan ia sudah lancar berjalan. Pada saat belajar berjalan, tidak sekalipun ia meminta dituntun, tetapi ia belajar sendiri, diawali dengan belajar berdiri lalu melangkah satu hingga beberapa langkah sampai akhirnya lancar. Kini di usianya yang ke-20 bulan Zee sudah pandai melompat, berjalan mundur, memutar, zig zag, berlari, bahkan mengikuti gerakan senam sederhana. Tumbuh kembang secara fisik yang lain juga sangat cepat, seperti giginya yang sudah tumbuh sempurna, dll. Menurut pengamatan saya hal ini merupakan  sebuah potensi yang ia miliki, yaitu potensi kekuatan fisik/motorik di atas rata-rata.

2. Diusianya yang baru 20 bulan, potensi besar yang dimiliki Zee dalam nilai moral dan agama sudah sangat terlihat. Ia sudah hafal lagu-lagu agama seperti huruf hijaiyah, asmaul husna, rukun islam, rukun iman, syahadat, dll meskipun baru sebagian liriknya, belum hafal keseluruhan. Ia juga sudah bisa mengucapkan bismillah, alhamdulillah, hafal beberapa ayat surat al fatihah, beberapa doa harian. Ia juga sudah bisa menirukan gerakan sholat seperti takbiratul ikram, ruku', dan sujud. Setiap selesai sholat ia ikut berdoa sambil mengucapkan amin dan tangannya menengadah. Hampir setiap hari Zee selalu mengungkapkan rasa sayangnya kepada kami sebagai orang tuanya, dengan cara memeluk kami sambil bilang, sayang Papi, sayang Mami.

3. Terkait perkembangan jiwa sosialnya, perkembangan emosional, serta kemandiriannya, potensi besar juga ditunjukkan oleh Zee. Ia sudah pandai memilih mau ikut siapa, semisal saat mau tidur atau ingin bermanja-manja ia mencari saya, Ibunya. Lain halnya jika ia ingin diajak jalan-jalan, ia akan mencari Ayah atau kakeknya. Jika ingin bermain ia mendekati kakak sepupunya. Saat bertemu orang asing yang belum pernah ia temui sebelumnya, ia akan bersembunyi di belakang tubuh saya atau memeluk saya jika ia takut akan sesuatu seperti cicak, kucing, dsb. Zee akan bilang dengan kalimat yang jelas jika menginginkan sesuatu atau tidak suka pada suatu hal, seperti jika ia ingin makan, tidur, dll. Saat ini ia sudah mulai toilet training, sesekali sudah bisa bilang jika ingin buang air, meskipun seringnya sudah buang air baru bilang. Zee juga sudah mulai belajar makan sendiri, tidak mau disuap. Ia bisa meletakkan baju kotornya sendiri, meletakkan piring kotor, mengambil mainan serta membereskannya dan meletakkan kembali di tempatnya setelah selesai bermain.

4. Perkembangan bahasa atau linguistik Zee merupakan salah satu potensi terbesar dan paling menonjol yang terdapat dalam dirinya. Ia sangat suka sekali kegiatan kami membaca buku dan bercerita. Ia bisa meminta buku yang ia suka dengan cara menyebutkan judul bukunya. Semua isi buku yang ia miliki sudah ia hafal, dan meskipun belum terlalu runut dan sesuai kaidah bahasa, ia sudah pandai menceritakan kembali isi buku yang pernah kami baca bersama sebelumnya. Cara Zee merangkai kalimat juga menunjukkan kemampuan di atas rata-rata. Ia bukan hanya dapat menyebutkan dua kata yaitu Subyek + Predikat, namun sudah bisa menggunakan struktur lengkap S + P + O + K atau S + P + O. Ia sudah bisa memahami beberapa perintah sekaligus yang diberikan dalam waktu bersamaan. Menggunakan berbagai macam kata tanya dan menjawabnya juga sudah bisa ia lakukan. 

5. Perkembangan kognitif Zee juga sangat pesat. Ia sudah bisa menyebutkan anggota tubuh sambil menunjuknya seperti kepala, rambut, mata, hidung, mulut, telinga, tangan, dan kaki. Ia sangat aktif melakukan eksplorasi di lingkungan rumah dan sekitarnya sehingga sudah banyak sekali nama-nama benda yang dapat dapat ia sebutkan, berikut juga bentuknya seperti besar, kecil, bulat, dsb. Berbagai macam pertanyaan juga sudah keluar dari mulutnya setiap hari. Zee suka sekali bermain petak umpet, dengan objek orang maupun benda-benda di sekitarnya.

6. Potensi Zee dalam bidang seni juga sangat besar. Ia sudah bisa menyanyikan beberapa lagu anak-anak secara utuh, irama dan nadanya juga tepat. Bahkan seringkali ia sambil menari ketika sedang menyanyi, dan tak jarang mempraktekkan gerakan lagu yang ia nyanyikan, misalnya saat menyanyikan lagu Topi Bundar. Zee akan mengambil mangkok plastik di dalam lemari piring sambil memakainya lalu menyanyikan lagi tersebut. Kadang-kadang Zee juga suka mengubah dan mengganti lirik lagu yang ia nyanyikan, namun nadanya tetap sama. Ia juga otomatis akan menari ketika mendengar musik atau lagu yang menurutnya menarik. Dalam hal menulis atau menggambar, sepertinya ia juga mempunyai potensi besar. Ia suka mengambil pensil warna ataupun pensil lalu mencoret-coret kertas maupun papan yang kami sediakan, jika ditanya ia sedang apa, akan dijawab sedang menggambar bunga, menggambar ikan, membuat lingkaran, dsb.

c. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, mengapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yg anda miliki.

Sampai saya menjadi seorang Ibu sekarang ini, saya masih belum bisa menemukan hal-hal apa saja yang menjadi potensi saya sebenar-benarnya. Karena selama ini, dengan sedikit mempelajari suatu hal, saya bisa mengerjakan hal tersebut meskipun pada awalnya tidak bisa sama sekali. Namun ada beberapa potensi diri yang saya yakini ada di diri saya, misalnya.

1. Menulis. Saya sangat suka menulis, baik itu non fiksi maupun fiksi. Baik itu menulis artikel, karya ilmiah, laporan penelitian, hingga novel dan cerpen. Bulan ini karya solo pertama saya berupa novel akan terbit. Sementara karya ilmiah saya sudah beberapa tahun lalu saat saya masih SMA dan kuliah juga sudah dipublikasikan di ajang kompetisi Nasional. Mengapa saya merasa bahwa menulis merupakan potensi yang saya miliki, karena saya senang ketika melakukannya, tidak terbebani, dan merasa ada yang kurang jika melewatkannya. Saya sangat senang karena cerita-cerita yang saya tuliskan seperti di facebook misalnya, sangat disukai oleh orang lain, dibaca dan bisa menjadi hiburan bagi yang membaca. Sebuah manfaat yang dihasilkan dari sebuah potensi. Alhamdulillah. Menulis juga tidak memonopoli waktu yang saya miliki, sehingga bisa tetap menjalankan tugas sebagai seorang istri dan Ibu. Next project kolaborasi antara saya dan suami adalah membuat buku edukasi anak, sekarang sedang on progress. Mudah-mudahan bisa segera selesai dan dipublikasikan.

2. Mendidik anak. Sejak sebelum menikah banyak anak-anak kecil mulai dari usia SD sampai SMA mendatangi saya untuk sekedar minta diajarkan materi pelajaran dan mengerjakan tugas. Meskipun begitu, saya tidak pernah sekalipun mengajar les privat maupun mengajar di bimbingan belajar manapun hingga saat ini. Saya lebih senang mengajarkan ilmu yang saya miliki secara gratis tanpa dibayar. Dan rata-rata anak-anak menyukai gaya mengajar saya. Termasuk Zee yang baru berumur 20 bulan juga memilih belajar dengan saya dibandingkan dengan anggota keluarga yang lain, begitupun keponakan suami saya yang saat ini tinggal bersama saya.

3. Menjadi Ibu dan Istri penuh waktu. Ini sepertinya juga salah satu potensi yang saya miliki dan sepertinya sudah ditakdirkan oleh Allah. Terbukti bahkan hingga saat ini meskipun saya mencoba melamar berbagai macam pekerjaan di luar rumah, tidak ada satupun yang menerima saya, padahal secara spesifikasi saya mumpuni. Setelah beberapa kali saya renungkan, mungkin saya memang ditakdirkan bekerja dari dalam rumah, membangun peradaban dari dalam keluarga saya sendiri.

4. Legowo, menerima apa adanya, serta bersemangat menuju perubahan yang lebih baik. Inilah potensi terbesar yang saya miliki. Saya suka memberikan motivasi kepada siapapun, menularkan semangat yang saya miliki, serta kadangkala menerima segala perlakuan orang lain kepada saya meskipun sedikit menyakitkan. Tetapi dari situ saya belajar banyak hal. Asal memberikan manfaat kepada orang lain dan tidak membuat kehidupan saya hancur, saya akan tetap menjalani jalan tersebut.

Setelah saya menelaah, mengapa saya dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti keluarga kecil saya--suami saya yang usianya terpaut 10 tahun dari saya serta anak saya yang sangat aktif sekali--mungkin memang sudah takdirnya. Berbagai macam pengalaman pahit yang pernah saya lalui, berkali-kali jatuh bangun dan gagal, semuanya adalah bekal agar saya bisa mendidik dan mendampingi tumbuh kembang anak saya. Kecakapan saya dalam menulis merupakan modal untuk menunjang kebutuhan Zee akan bacaan karena kegemarannya akan buku sangat besar. Semangat yang saya miliki dalam menjalani hidup juga merupakan sebuah karunia yang diberikan oleh Allah agar saya tidak merasa capek mengasuh anak saya yang  seolah tidak ada capeknya melakukan eksplorasi setiap waktu dengan jam tidurnya yang sangat minim. Kemampuan saya dalam mendidik anak dan memberikan edukasi secara akademik juga merupakan modal dasar yang sangat berguna bagi tumbuh kembang Zee, karena tampaknya ia merupakan seorang anak dengan jiwa pembelajar yang sangat tinggi. Pun sifat saya yang legowo, menerima apa adanya, merupakan sebuah paket yang diberikan oleh Allah agar saya tidak banyak mengeluh ketika menghadapi berbagai macam aksi Zee yang dari luar seolah terlihat seperti anak nakal dan usil, padahal itu semua karena intelectual curiosity yang ia miliki sangat tinggi. Cara pandang saya terhadap suatu hal dan pemikiran saya yang jauh lebih dewasa dibandingkan umur saya juga merupakan sebuah takdir. Karena saya ditakdirkan untuk mendampingi seorang laki-laki yang jauh lebih dewasa dalam segi usia dan pemikiran. Semuanya sudah ditakdirkan, disesuaikan menurut kehendak Allah, karena jodoh harus seimbang dalam berbagai hal.

d. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda?  adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?

Mungkin kami ditakdirkan untuk melakukan sebuah perubahan. Kami ditakdirkan untuk menjadi agent of change dan pembangun sebuah peradaban yang dimulai dari dalam rumah. Lingkungan tempat kami tinggal saat ini, keluarga suami yang tinggal bersama kami, dari situlah kami ditakdirkan untuk memberikan edukasi seputar cara mengasuh anak yang mungkin sedikit berbeda dengan cara mereka. Potensi yang saya miliki dalam hal menulis, digabungkan dengan potensi suami saya dalam hal design grafis, serta antusiasme Zee dalam belajar, merupakan sebuah takdir dan satu kesatuan yang diciptakan oleh Allah, sehingga kami bisa menghasilkan karya berupa buku edukasi anak yang ke depannya pasti akan bermanfaat bagi banyak orang-orang di sekitar kami. Meskipun tantangan yang ada di masyarakat sekitar tempat tinggal kami yaitu minat baca sangat rendah, namun sepertinya memang itulah tugas kami. Mengedukasi dengan cara berkontribusi langsung.

Setelah melalui proses merenung dan menelaah, sampai saat ini, peran spesifik keluarga saya yang saya pahami adalah peran education dan social.


Berikut saya sertakan materi yang saya dapat di kelas.

Materi #3 PERADABAN DARI DALAM RUMAH
KELAS MATRIKULASI BATCH 4
INSTITUT IBU PROFESIONAL

☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘


Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional



👨👩MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH👨👩
“ Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya menuju peran peradabannya ”
Bunda, rumah kita adalah pondasi sebuah bangunan peradaban, dimana kita berdua bersama suami, diberi amanah sebagai pembangun peradaban melalui pendidikan anak-anak kita. Oleh karena itu sebagai orang yang terpilih dan dipercaya oleh yang Maha Memberi Amanah, sudah selayaknya kita jalankan dengan sungguh-sungguh.
Maka tugas utama kita sebagai pembangun peradaban adalah mendidik anak-anak sesuai dengan kehendakNya, bukan mencetaknya sesuai keinginan kita.
Sang Maha Pencipta menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi dengan “ misi spesifiknya ”, tugas kita memahami kehendakNya.
Kemudian ketika kita dipertemukan dengan pasangan hidup kita untuk membentuk sebuah keluarga, tidak hanya sekedar untuk melanjutkan keturunan, atau hanya sekedar untuk menyempurnakan agama kita. Lebih dari itu, kita bertemu dengan suami dan melahirkan anak-anak, adalah untuk lebih memahami apa sebenarnya “ peran spesifik keluarga” kita di muka bumi ini. 
Hal ini yang kadang kita lupakan, meski sudah bertahun-tahun menikah.
Darimana kita harus memulainya?

🙋 PRA NIKAH
Buat anda yang masih dalam taraf memantaskan diri agar mendapatkan partner membangun peradaban keluarga yang cocok, mulailah dengan tahapan-tahapan ini:
a. Bagaimana proses anda dididik oleh orangtua anda dulu?
b. Adakah yang membuat anda bahagia?
c. Adakah yang membuat anda “sakit hati/dendam’ sampai sekarang?
d. Apabila ada, sanggupkah anda memaafkan kesalahan masa lalu orangtua anda, dan kembali mencintai, menghormati beliau dengan tulus?
Kalau empat pertanyaan itu sudah terjawab dengan baik, maka melajulah ke jenjang pernikahan.
Tanyakan ke calon pasangan anda ke empat hal tersebut, minta dia segera menyelesaikannya.
Karena,
ORANG YANG BELUM SELESAI DENGAN MASA LALUNYA , AKAN MENYISAKAN BANYAK LUKA KETIKA MENDIDIK ANAKNYA KELAK

👨👩👧👧 NIKAH
Untuk anda yang sudah berkeluarga, ada beberapa panduan untuk memulai membangun peradaban bersama suami anda dengan langkah-langkah sbb:
🍀Pertama temukan potensi unik kita dan suami, coba ingat-ingat mengapa dulu anda memilih “dia” menjadi suami anda? Apa yang membuat anda jatuh cinta padanya? Dan apakah sampai hari ini anda masih bangga terhadap suami anda?
🍀Kedua, lihat diri kita, apa keunikan positif yang kita miliki? Mengapa Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Sampai kita berjodoh dengan laki-laki yang sekarang menjadi suami kita? Apa pesan rahasia Allah terhadap diri kita di muka bumi ini?
🍀Ketiga, lihat anak-anak kita, mereka anak-anak luar biasa. Mengapa rahim kita yang dipilih untuk tempat bertumbuhnya janin anak-anak hebat yang sekarang ada bersama kita? Mengapa kita yang dipercaya untuk menerima amanah anak-anak ini? Punya misi spesifik apa Allah kepada keluarga kita, sehingga menghadirkan anak-anak ini di dalam rumah kita?

🍀Keempat, lihat lingkungan dimana kita hidup saat ini. Mengapa kita bisa bertahan hidup dengan kondisi alam dimana tempat kita tinggal saat ini? Mengapa Allah menempatkan keluarga kita disini? Mengapa keluarga kita didekatkan dengan komunitas-komunitas yang berada di sekeliling kita saat ini?
Empat pertanyaan di atas, apabila terjawab akan membuat anda dan suami memiliki “ misi pernikahan” sehingga membuat kita layak mempertahankan keberadaan keluarga kita di muka bumi ini.

👩👧👧 ORANGTUA TUNGGAL (SINGLE PARENT)
Buat anda yang saat ini membesarkan anak anda sendirian, ada pertanyaan tambahan yang perlu anda jawab selain ke empat hal tersebut di atas.
a. Apakah proses berpisahnya anda dengan bapaknya anak-anak menyisakan luka?
b. Kalau ada luka, sanggupkah anda memaafkannya?
c. Apabila yang ada hanya kenangan bahagia, sanggupkah anda mentransfer energi tersebut menjadi energi positif yang bisa menjadi kekuatan anda mendidik anak-anak tanpa kehadiran ayahnya?
Setelah ketiga pertanyaan tambahan di atas terjawab dengan baik, segeralah berkolaborasi dengan komunitas pendidikan yang satu chemistry dengan pola pendidikan anda dan anak-anak.
Karena,
IT TAKES A VILLAGE TO RAISE A CHILD
Perlu orang satu kampung untuk mendidik satu orang anak
Berawal dari memahami peran spesifik keluarga kita dalam membangun peradaban, kita akan makin paham apa potensi unik produktif keluarga kita, sehingga kita bisa senantiasa berjalan di jalanNya.
Karena
Orang yang sudah berjalan di jalanNya, peluanglah yang akan datang menghampiri kita, bukan justru sebaliknya, kita yang terus menerus mengejar uang dan peluang
Tahap berikutnya nanti kita akan makin paham program dan kurikulum pendidikan semacam apa yang paling cocok untuk anak-anak kita, diselaraskan dengan bakat tiap anak, potensi unik alam sekitar, kearifan lokal dan potensi komunitas di sekitar kita.
Kelak, anda akan membuktikan bahwa antara pekerjaan, berkarya dan mendidik anak, bukanlah sesuatu yang terpisahkan, sehingga harus ada yang dikorbankan
Semuanya akan berjalan beriring selaras dengan harmoni irama kehidupan.

Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi IIP/

SUMBER BACAAN
Agus Rifai, Konsep,Sejarah dan Kontribusi keluarga dalam Membangun Peradaban, Jogjakarta, 2013
Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016
Muhammad Husnil, Melunasi Janji Kemerdekaan, Jakarta, 2015
Kumpulan artikel, Membangun Peradaban, E-book, tanggal akses 24 Oktober 2016

https://www.youtube.com/watch?v=kwM9PDoRQRk&feature=youtu.be


Nice Home Work 2 MIIP Batch 4

Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga

Pada kuliah pekan kedua ini, Nice Home Work yang diberikan yaitu membuat checklist indikator profesionalisme perempuan. Untuk tugasnya sudah saya kumpulkan minggu lalu via google drive. Berikut linknya.



Berikut saya sertakan materi yang saya dapat dari kelas.

Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #2

🙋MENJADI IBU PROFESIONAL, KEBANGGAAN KELUARGA🙋

Apa kabar bunda dan calon bunda peserta matrikulasi IIP batch #4? Pekan ini kita akan belajar bersama 
a. Apa Itu Ibu Profesional?
b. Apa itu Komunitas Ibu Profesional?
c. Bagaimana tahapan-tahapan untuk menjadi Ibu Profesional?
d. Apa saja indikator keberhasilan seorang Ibu Profesional?

🍀APA ITU IBU PROFESIONAL?

Kita mulai dulu dengan mengenal kata IBU ya. Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia Ibu itu memiliki makna 1 perempuan yang telah melahirkan seseorang; 2 sebutan untuk perempuan yang sudah bersuami;3 panggilan yang takzim kepada perempuan baik yang sudah bersuami maupun yang belum; 4 bagian yang pokok (besar, asal, dan sebagainya): -- jari; 5 yang utama di antara beberapa hal lain; yang terpenting: -- negeri; -- kota;

Sedangkan kata PROFESIONAL, memiliki makna 1 bersangkutan dengan profesi; 2 memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya: ia seorang juru masak --; 
Berdasarkan dua makna tersebut di atas, maka IBU PROFESIONAL adalah seorang perempuan yang : 

a. Bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya.
b.Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh –sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik.

🍀APA ITU KOMUNITAS IBU PROFESIONAL?

Adalah forum belajar bagi para perempuan yang senantiasa ingin meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang ibu, istri dan sebagai individu.

🍀MISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL

1.Meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi
guru utama dan pertama bagi anaknya.
2. Meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya
sehingga menjadi keluarga yang unggul.
3. .Meningkatkan rasa percaya diri  ibu dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga  ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya
4. Meningkatkan peran ibu menjadi "change agent" (agen pembawa perubahan), sehingga keberadaannya akan bermanfaat bagi banyak orang.


🍀VISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL

Menjadi komunitas pendidikan perempuan Indonesia yang unggul dan profesional sehingga bisa berkontribusi kepada negara ini dengan cara membangun peradaban bangsa dari dalam internal keluarga.


🍀BAGAIMANA TAHAPAN-TAHAPAN MENJADI IBU PROFESIONAL?

Ada 4 tahapan yang harus dilalui oleh seorang Ibu Profesional yaitu :
a. Bunda Sayang
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anak-anaknya

b. Bunda Cekatan
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.

c. Bunda Produktif
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan rasa percaya diri  ibu, dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga  ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya

d. Bunda Shaleha
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan peran ibu sebagai agen pembawa perubahan di masyarakat, sehingga keberadaannya bermanfaat bagi banyak orang.

🍀APA INDIKATOR KEBERHASILAN IBU PROFESIONAL?

“Menjadi KEBANGGAAN KELUARGA”

Kalimat di atas adalah satu indikator utama keberhasilan seorang Ibu Profesional. Karena  anak-anak dan suami kitalah yang paling berhak pertama kali mendapatkan ibu dan istri yang terbaik di mata mereka. 

Maka yang perlu ditanyakan adalah sbb :

BUNDA SAYANG
a. Apakah anak-anak semakin senang dan bangga dididik oleh ibunya?
b. Apakah suami semakin senang dan bangga melihat cara istrinya mendidik anak-anak, sehingga keinginannya terlibat dalam pendidikan anak semakin tinggi?
c. Berapa ilmu tentang pendidikan anak yang kita pelajari dalam satu tahun ini?
d. Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan bersama anak-anak?

BUNDA CEKATAN
a. Apakah manajemen pengelolaan rumah tangga kita menjadi semakin baik?
b.Apakah kita sudah bisa meningkatkan peran kita di rumah? Misal dulu sebagai “kasir” keluarga sekarang menjadi “manajer keuangan keluarga”.
c.Berapa ilmu tentang manajemen rumah tangga yang sudah kita pelajari dalam satu tahun ini?
d.Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan dalam mengelola rumah tangga

BUNDA PRODUKTIF
a. Apakah kita semakin menemukan minat dan bakat kita?
b. Bagaimana cara kita memperbanyak jam terbang di ranah minat dan bakat kita tersebut?
c. Apakah kita merasa menikmati (enjoy), mudah (easy), menjadi yang terbaik (excellent) di ranah minat dan bakat kita ini?
d. Bagaimana cara kita bisa produktif dan atau mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarga?

BUNDA SHALEHA
a. Nilai-nilai apa saja yang kita perjuangkan dalam hidup ini?
b. Apa yang ingin kita wariskan di muka bumi ini, yang tidak akan pernah mati ketika kita tiada?
c. Program berbagi apa yang akan kita jalankan secara terus menerus?
d. Apakah kita merasa bahagia dengan program tersebut?

Selamat berproses menjadi Ibu Profesional, dan nikmatilah tahapan-tahapan belajar yang bunda dan calon bunda rasakan selama mengikuti program pendidikan di Ibu Profesional ini dengan segenap kesungguhan

Seperti pesan pak Dodik kepada Ibu Septi untuk meyakinkan beliau tentang pentingnya kesungguhan menjadi seorang Ibu sbb:
“Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu, tidak ada hukum terbalik” -Dodik Mariyanto

Salam Ibu Profesional


/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

📚SUMBER BACAAN:
Kamus Besar Bahas Indonesia, Edisi keempat, Balai Pustaka, Jakarta, 2008
Hei, Ini Aku Ibu Profesional, Leutikaprio, cetakan 1, 2012
Bunda Sayang, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2013
Bunda Cekatan, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2014
Bunda Produktif, Catatan Ikhtiar Menjemput Rizki, Seri Ibu Profesional, J&J Publishing, cetakan 1, 2015

Tuesday, May 16, 2017

Nice Home Work 1 MIIP Batch 4

NHW 1 Matrikulasi IIP Batch 4

Oleh: Nisaul Fahmi

Adab Menuntut Ilmu

Belajar adalah sebuah hak bagi setiap manusia, bukan hanya sebuah kewajiban. Tidak hanya belajar di kelas dalam artian sempit seperti yang dilakukan oleh anak sekolah, namun lebih luas dari itu. Belajar bisa dilakukan oleh siapa saja, di mana saja, dan bersama siapa saja, tidak terikat tempat, waktu, dan usia. Seperti halnya seorang perempuan yang sudah menikah, bahkan yang sudah mempunyai anak dan menjadi seorang ibu sekalipun berhak untuk belajar.

Dan seiring kemajuan jaman, seorang istri maupun ibu dituntut untuk mengikuti percepatan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak dapat dikendalikan lagi lajunya di masa sekarang ini. Seorang ibu tidak boleh 'kudet' sehingga ketika anak-anaknya membutuhkan pendampingan saat tumbuh dewasa mereka tidak merasa dibiarkan tumbuh sendirian. Seorang istri tidak boleh kekurangan bahan pembicaraan saat pasangannya membutuhkan teman berdiskusi agar tetap betah di rumah. Arus informasi yang berkembang dengan cepat dan penyebarannya bisa dari sumber mana saja dan mudah diakses, membuat seorang ibu harus mempunyai bekal ilmu agama yang cukup agar bisa membentuk akhlaq dan aqidah anak-anaknya sesuai fitrahnya. Berbagai macam informasi yang tersebar di media tidak hanya semata-mata berisi hal-hal yang bermanfaat, sebaliknya, di sana terdapat banyak 'racun' seperti halnya pornografi, kekerasan, serta teori-teori liberalisme dan radikalisme yang bisa merusak mental dan jiwa anak-anak. Di situlah seorang ibu dituntut untuk menjalankan perannya, untuk menanamkan ilmu agama sejak dini sebagai benteng dari hal-hal yang dapat merusak mental anak tersebut. 

Menjadi seorang ibu dan  istri pertanggungjawabannya tidak hanya di dunia saja, akantetapi sampai ke akhirat juga. Oleh karena itu dibutuhkan keilmuan khusus bagi seorang perempuan untuk menjalani peran tersebut. Keilmuan itulah yang ingin saya pelajari lebih dalam lagi dan saya tekuni, ilmu untuk menjadi seorang istri dan  ibu yang bisa mendampingi pasangan dan anak-anaknya setiap hari dengan penuh cinta, kasih sayang, dan kesabaran, melakukan peran saya dengan lebih baik lagi dan sesuai fitrah, serta menebarkan kebaikan terhadap sesama tanpa meninggalkan kodrat saya sebagai seorang istri dan ibu.

Bukan tanpa alasan saya ingin menekuni keilmuan yang berkaitan dengan dunia ibu dan istri. Bukan pula hanya sekedar untuk pamer, eksis, dan gaya-gayaan semata. Karena saya adalah seorang ibu, seorang pendidik utama bagi anak-anak saya, maka saya harus mempunyai ilmu yang mumpuni agar bisa mendidik anak-anak saya menjadi orang yang bermental sehat, visioner, mampu mengenali bakatnya serta tangguh menghadapi segala macam tantangan di masa depannya. Karena saya adalah seorang istri, yang mempunyai kewajiban untuk selalu taat kepada suami, mengabdi dan melayani dengan penuh keikhlasan dan kesabaran. Itulah alasan terkuat yang membuat saya ingin terus mempelajari dan menekuni keilmuan di bidang per'istri'an dan ke'ibu'an.

Meskipun menjadi seorang istri dan ibu sangat menguras tenaga dan mengurangi waktu buat diri sendiri atau 'me time', namun jika kita ikhlas dan punya kemauan untuk menuntut ilmu, insya Allah banyak jalan yang bisa ditempuh. Harus ada strategi-strategi khusus dan cara unik agar ketika kita menuntut ilmu, kewajiban utama sebagai istri dan ibu tidak terabaikan. Seperti saya misalnya. Dengan kondisi saat ini yang mempunyai anak usia 19 bulan dan sedang aktif-aktifnya, tentu tidak memungkinkan bagi saya untuk menuntut ilmu di luar rumah, apalagi dalam jangka waktu yang lama. Saya menyiasatinya dengan cara banyak mengikuti kegiatan-kegiatan parenting secara online, seperti saat ini, mengikuti kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional. Selain itu saya aktif mencari bahan bacaan seputar dunia ibu dan anak serta pernikahan untuk saya pelajari. Mengikuti berbagai kuliah online dengan narasumber pakar parenting juga saya lakukan guna meningkatkan pengetahuan saya. Aktif berteman dan berjejaring dengan keluarga yang punya visi dan misi sama serta praktisi parenting di dalam group-group parenting juga mulai saya lakukan, karena seperti prinsip yang saya sampaikan di depan tadi, bahwa belajar bisa dilakukan di mana saja, kapan saja, dan bersama siapa saja. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia anak saya nantinya, saya berencana untuk mengikuti berbagai macam kegiatan offline dari komunitas parenting, termasuk mengikuti seminar-seminar di bidang tersebut. Selain itu saya juga mulai belajar menulis kembali dan akan menerbitkannya menjadi sebuah buku, karena dengan menulis saya belajar untuk berbagi dengan sesama, dan dari situ pula saya bisa berjejaring dengan banyak orang yang tentunya bisa menjadi guru bagi saya saat kami saling berbagi pengalaman masing-masing, karena setiap orang bisa menjadi guru bagi kita.

Dibandingkan sebelum menikah, saat ini ketika status saya sudah menjadi seorang istri dan ibu, banyak perbaikan yang berusaha saya lakukan, terlebih terkait mempelajari ilmu seputar pernikahan dan parenting. Dulu ketika saya merasa sudah tahu, saya berhenti mencari tahu dan merasa cukup sampai di situ saja, di batas pengetahuan saya. Lain halnya dengan sekarang, saya selalu antusias untuk mencari tahu, lagi dan lagi, bahkan terkadang untuk hal-hal yang sudah saya ketahui sekalipun. Contohnya tentang kelas matrikulasi IIP ini. Mungkin ada beberapa peserta yang mendapatkan informasi dari teman-teman mereka terkait kelas ini. Namun saya tidak. Saya menemukan informasi tentang kelas matrikulasi IIP ini ketika saya sedang mencari bahan bacaan seputar homeschooling di internet,dan saya menemukan profil ibu Septi Peni Wulandani yang berhasil mendidik ketiga anaknya dengan metode homeschooling. Dari situlah saya menemukan informasi tentang Institut Ibu Profesional, kemudian saya mencari tahu lagi seluk-beluknya, dan saat saya membaca-baca artikel tulisan pak Dodik dan bu Septi, saya merasa bahwa visi di keluarga saya hampir mirip dengan beliau berdua. Hingga akhirnya saya bergegas mencari informasi untuk mengikuti kelas matrikulasi, namun ternyata masih berjalan yang batch 3, saat itu awal bulan Maret. Akhirnya saya memutuskan untuk bergabung di group WA IIP Pekanbaru sambil menunggu kelas matrikulasi batch 4 ini. Tidak ada rasa terpaksa sama sekali, karena saya ikhlas melakukannya, dengan niat mencari ilmu dan alhamdulillah selama bergabung di group WA IIP Pekanbaru saya beberapa kali mengikuti kulwap yang berisi banyak sekali ilmu seputar parenting dan rumah tangga yang sangat bermanfaat. 

Hingga akhirnya saya mengikuti kelas matrikulasi saat ini, banyak sekali ilmu yang sudah saya dapatkan, banyak sekali teman-teman satu visi yang bisa menjadi guru bagi saya. Selain ikhlas, bergegas, dan tidak merasa paling tahu, ke depannya saya masih harus memperbaiki sikap yang lainnya saat saya menuntut ilmu di bidang parenting dan pernikahan seperti yang sudah saya pelajari dalam materi pertama kelas matrikulasi IIP Batch 4 hari Senin, tanggal 15 Mei 2017, yaitu Adab Menuntut Ilmu. Berikut materinya, semoga bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.

PROLOG 1

KELAS MATRIKULASI BATCH #4
INSTITUT IBU PROFESIONAL 

ADAB MENUNTUT ILMU

Senin, 15 Mei 2017

Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional

Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan.
Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu, sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa orang yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya, namun barangsiapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya.
Karena ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang paling didahulukan sebelum ILMU 

ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya
Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horisontal, antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri.
Mengapa para Ibu Profesional di kelas matrikulasi ini perlu memahami Adab menuntut ilmu terlebih dahulu sebelum masuk ke ilmu-ilmu yang lain?

Karena ADAB tidak bisa diajarkan, ADAB hanya bisa ditularkan
Para ibulah nanti yang harus mengamalkan ADAB menuntut ilmu ini dengan baik, sehingga anak-anak yang menjadi amanah para ibu bisa mencontoh ADAB baik dari Ibunya

ADAB PADA DIRI SENDIRI

a. Ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk.
Selama batin tidak bersih dari hal-hal buruk, maka ilmu akan terhalang masuk ke dalam hati.Karena ilmu itu bukan rentetan kalimat dan tulisan saja, melainkan ilmu itu adalah “cahaya” yang dimasukkan ke dalam hati.

b. Selalu bergegas, mengutamakan waktu-waktu dalam menuntut ilmu, Hadir paling awal dan duduk paling depan di setiap majelis ilmu baik online maupun offline.

c.Menghindari sikap yang “merasa’ sudah lebih tahu dan lebih paham, ketika suatu ilmu sedang disampaikan.

d.Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajarinya dengan cara mengulang-ulang, membuat catatan penting, menuliskannya kembali dan bersabar sampai semua runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama.

e. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah ilmu disampaikan. Karena sejatinya tugas itu adalah untuk mengikat sebuah ilmu agar mudah untuk diamalkan.


ADAB TERHADAP GURU (PENYAMPAI SEBUAH ILMU)

a. Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati, menaruh rasa hormat kepadanya, disertai mendekatkan diri kepada DIA yang Maha Memiliki Ilmu dalam berkhidmat kepada guru.

b. Hendaknya penuntut ilmu mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau menjawab pertanyaan, jangan pula membarengi guru dalam berkata, jangan memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru berbicara. Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. Sehingga guru tidak perlu mengulangi penjelasan untuk kedua kalinya.

c. Penuntut ilmu meminta keridhaan guru, ketika ingin menyebarkan ilmu yang disampaikan baik secara tertulis maupun lisan ke orang lain, dengan cara meminta ijin. Apabila dari awal guru sudah menyampaikan bahwa ilmu tersebut boleh disebarluaskan, maka cantumkan/ sebut nama guru sebagai bentuk penghormatan kita.

ADAB TERHADAP SUMBER ILMU

a. Tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari.

b. Tidak melakukan penggandaan, membeli dan mendistribusikan untuk kepentingan komersiil, sebuah sumber ilmu tanpa ijin dari penulisnya.

c. Tidak mendukung perbuatan para plagiator, produsen barang bajakan, dengan cara tidak membeli barang mereka untuk keperluan menuntut ilmu diri kita dan keluarga.
d. Dalam dunia online, tidak menyebarkan sumber ilmu yang diawali kalimat "copas dari grup sebelah" tanpa mencantumkan sumber ilmunya dari mana.
e. Dalam dunia online, harus menerapkan "sceptical thinking" dalam menerima sebuah informasi. jangan mudah percaya sebelum kita paham sumber ilmunya, meski berita itu baik.
Adab menuntut ilmu ini akan erat berkaitan dengan keberkahan sebuah ilmu, shg mendatangkan manfaat bagi hidup kita dan umat

Referensi :
Turnomo Raharjo,
Literasi Media & Kearifan Lokal: Konsep dan Aplikasi, Jakarta, 2012.

Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (pendidikan dalam perspekitf hadis), Jakarta: Amzah,
2014, hlm. 5

Muhammad bin sholeh, Panduan lengkap Menuntut Ilmu, Jakarta, 2015

Sunday, March 5, 2017

A Cup of Espresso

PART 4

[ If you love me like you tell me
Please be careful with my heart
You can take it, just don’t break it
Or my world will fall apart

You are my first romance 
And I’m willing to take a chance
That ‘till life is through
I’ll still be loving you

I will be true to you
Just promise from you will do
From the very start
Please be careful with my heart ]

(Cuplikan lirik lagu “Please Be Careful With My Heart” oleh Regine Velasquez & Jose Mari Chan)

Keesokan harinya, setelah Mandira berhasil melewati dua kelas mata kuliah dari pukul delapan pagi  hingga jam pukul dua belas siang, ia bernapas lega. Ia tersenyum-senyum sendiri ketika kelas kedua hampir usai, hatinya berbunga-bunga dan dipenuhi kebahagiaan. Ingin rasanya ia memekik, menyuarakan rasa hatinya. Namun apalah daya, saat ini ia berada di lorong kelas yang dipenuhi dengan hilir mudik mahasiswa dengan berbagai aktivitas masing-masing. Sebagai gantinya, ia bergegas menuju foodcourt untuk menemui Hans.

Sama seperti kemarin ketika ia tiba di foodcourt, hari ini Hans juga sudah terlebih dahulu berada di tempat tersebut. Setelah berbasa-basi sebentar, mereka tanpa pikir panjang segera memesan makanan masing-masing dan menyantapnya tanpa banyak bicara. Setelah hampir satu jam, akhirnya mereka menyelesaikan makan siang dan langsung berangkat menuju lokasi hunting foto. Hans menyarankan agar hari ini mereka mengunjungi Taman Sari untuk mengambil foto arsitektur bangunan di tempat tersebut. Setelahnya mereka akan mengunjungi candi prambanan untuk kembali mengambil foto arsitektur sekaligus mencoba mengabadikan momen sunset di tempat tersebut. Malam harinya mereka berencana hunting foto di kawasan malioboro.

Perjalanan menuju Taman Sari diisi dengan berbagai macam penjelasan dari Hans tentang architecture photography. Mandira berusaha memahami dengan sebaik-baiknya ketika Hans menjelaskan bahwa dalam jenis fotografi tersebut, ia hanya perlu menambah kejelian mata ketika memperhatikan detail sebuah bangunan sehingga nantinya akan menemukan suatu keunikan, baik itu berupa desain, gaya, ataupun hiasan-hiasan yang dimiliki oleh sebuah bangunan. Intinya adalah keseimbangan antara unsur logis dan seni. Jika suatu bangunan mempunyai kedua unsur tersebut, maka tatkala kita mengabadikannya menjadi sebuah gambar maka gambar tersebut akan membentuk suatu cerita tertentu ketika dilihat oleh orang awam. Yang menjadi salah satu kendala adalah seringkali sebagian besar fotografer kurang memperhatikan hal-hal kecil seperti sudut suatu bangunan, atau bahkan sebuah coretan-coretan tertentu yang kadang-kadang terdapat di sebuah tembok bangunan tersebut. Prinsip perspektif dasar. Menurut Hans, itulah salah satu teori yang harus ia pahami, dan untungnya Mandira sudah pernah mempelajari mengenai hal tersebut ketika ia berada di bangku sekolah menengah, baik itu di SMP maupun SMA, sehingga ia tak perlu mengkhawatirkan mengenai teori.

Kurang lebih satu jam kemudian Mandira dan Hans sampai di tempat tujuan. Setelah memarkir mobil di tempat parkir wisata di depan pintu masuk Taman Sari, mereka berdua berjalan menuju loket untuk membeli tiket dan kemudian segera masuk ke dalam area taman tersebut. Hans dengan cekatan tampak mengeluarkan kamera dari dalam tasnya, beberapa kali memencet berbagai tombol untuk menyesuaikan pengaturan dan kemudian mengalungkan tali kamera di lehernya. Meskipun objek yang diincar oleh mereka kali ini adalah benda mati, Hans tidak membawa tripod. Ia selalu menekankan kepada Mandira bahwa momen-momen istimewa bisa muncul kapan saja, entah mereka sedang dalam kondisi siap atau tidak, sehingga seorang fotografer harus belajar memotret tanpa bantuan alat, termasuk tripod.

Mandira berjalan meninggalkan Hans yang tampak lebih lambat jalannya karena sedang menyetel pengaturan kamera. Ada beberapa laki-laki yang menghampirinya dan menawarkan jasa pemandu wisata, namun ia dengan sopan menolak. Hans tadi berpesan kepada Mandira bahwa dirinyalah yang akan memandu Mandira di semua tempat yang akan mereka kunjungi hari ini. Ketika Mandira memasuki sebuah pintu yang tampak seperti pintu gerbang kecil, ia melihat dua buah kolam yang dipisahkan oleh jalan setapak di tengahnya. Ukuran dua kolam tersebut berbeda, yang berada di sisi kiri tampak lebih besar dibandingkan yang di sisi kanan.

“Kolam ini dulunya, pada zaman pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I, digunakan oleh putra-putri dan para selir Sultan untuk mandi. Kolam yang digunakan oleh putra-putri Sultan dinamakan Umbul Kawitan, sedangkan kolam untuk para selir disebut Umbul Pamuncar,” Hans tiba-tiba sudah berdiri di samping Mandira yang masih termangu di tepi kolam. “Coba kamu lihat bangunan tinggi seperti menara di sisi sana,” Hans berkata sambil menjulurkan tangan, menunjuk sebuah bangunan yang sepertinya terdiri dari tiga tingkat dan terletak di ujung kolam yang berada di sebelah kiri jalan. Mandira mengikuti arah tangan Hans. Ia menolehkan kepalanya ke arah kiri. “Menara itu adalah menara pribadi Sultan. Melalui menara tersebut kita bisa melihat pantulan sinar matahari dari kolam. Selain itu kita juga bisa menikmati pemandangan Taman Sari secara umum. Nanti kita akan masuk ke dalam menara itu,” Hans tampak bersemangat ketika menceritakan tentang sejarah Taman Sari.

Ketika Hans akan menjelaskan tentang objek foto yang harus Mandira potret, ia mendapati gadis tersebut termenung menatap air kolam dan berdiri sangat dekat dengan salah satu tangga menuju kolam. “Sedang memikirkan sesuatu?” Ucapan Hans membuat Mandira tersadar dari lamunan dan menoleh ke arahnya. Ia tersenyum samar. “Apakah itu? Bolehkah aku tahu?” Hati Hans entah mengapa merasa terusik. Ia tahu Mandira sedang memikirkan tentang sesuatu hal. “Apakah kamu akan menertawakanku jika aku mengatakannya?” Sejak mereka makan siang tadi, Mandira memang tidak lagi menggunakan kata ‘saya’ dan ‘kakak’ ketika berbicara dengan Hans. Pria tersebut melarangnya. Katanya terlalu kaku dan formal.
“Aku tak akan tertawa. Aku Janji,” Hans hampir tidak dapat menahan untuk tertawa, namun ia berhasil terlihat serius. Ia ingin Mandira mengatakan tentang apapun itu hal yang ada di pikirannya. Mandira mengamati raut wajah Hans sekilas dan kemudian mengucapkan tentang mimpi dan imajinasinya, “aku ingin seperti Cinderella. Menemukan sebuah kebahagian sejati dan bertahan sampai akhir, tanpa ada kekecewaan.” Hans mengerutkan dahi, tampak sedang mencerna maksud dari kata-kata Mandira, sebelum akhirnya ia mengucapkan sebuah pertanyaan, “tanpa kekecewaan, apa maksudmu kamu takut disakiti oleh siapapun itu yang nantinya akan menjadi pangeranmu?”

Mandira tertawa, “Hans, mengapa tanggapanmu begitu serius? Semua gadis pasti ingin seperti Cinderella. Hanya itu.” Hans mengamati Mandira. Ia yakin gadis itu tidak sedang bercanda. Ia hanya tidak mau menjelaskan lebih detail tentang keinginannya, dan Hans tidak ingin terlihat memaksa. “Ok. Apapun itu, kita lupakan saja. Tapi sepertinya impianmu itu sangat bermanfaat bagi kita saat ini. Aku ingin kamu mengambil potret arsitektur kolam di depan kita. Ingat, gambar yang nantinya kamu hasilkan harus menggambarkan sebuah cerita dan mengeksplor sisi arsitektur kolam dan bangunan di sekitarnya,” Hans mencoba mengalihkan topik pembicaraan dengan kembali fokus pada tujuan mereka datang ke tempat ini.

Mandira menyadari bahwa Hans mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Ia senang akan kenyataan itu. Meskipun apa yang dikatakan Hans tentang dirinya yang tak ingin disakiti itu benar, namun ia tak ingin mengakuinya di depan pria itu. Ia tak ingin terlihat lemah dan cengeng. Akhirnya ia memutuskan untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh Hans. Pria tersebut menyerahkan kamera yang dari tadi dikalungkan di lehernya. Mandira menerima kamera itu dengan kedua tangan yang sedikit basah oleh keringat sehingga ia harus mengusapkan kedua telapak tangannya terlebih dahulu pada celana yang ia kenakan.

“Masih ingat cara memegang kamera yang benar seperti yang aku jelaskan kemarin, kan?” Hans bertanya kepada Mandira yang sudah mulai memeriksa pengaturan kamera dan bersiap memosisikannya di depan wajah untuk membidik objek di depan mereka. Mandira menganggukkan kepala sebagai respon atas pertanyaan Hans. “Bagus. Kalau begitu aku akan menunggu di belakangmu agar kamu bisa menggunakan kemampuan penglihatanmu dengan sempurna,” setelah berkata seperti itu Hans dengan cepat berjalan meninggalkan Mandira yang berdiri di depan pemandian dengan sebelah matanya memicing melihat objek melalui view finder dan sesekali mengamati objek yang sama pada layar LCD. Mandira tampak berkali-kali berganti posisi, mencari angle yang tepat. Tadi ketika ia sedang termenung, ia membayangkan seorang putri datang dari tepi kolam berjalan menuruni tiap anak tangga untuk sampai ke dalam kolam. Ia membayangkan bagaimana suasana di sekitar pemandian saat masih digunakan oleh keluarga keraton Yogyakarta—gemericik air dari pancuran yang ada di tengah kolam, wangi berbagai macam bunga yang tumbuh di samping kanan-kiri kolam, serta senda gurau putra-putri raja dan para selir yang sedang mandi—yang ingin ia tampilkan melalui sebuah gambar.

Setelah lebih dari tiga puluh menit akhirnya Mandira berhasil mengambil beberapa foto, ada foto pemandian, gapura agung—tempat kedatangan kereta kencana yang biasa dinaiki sultan dan keluarganya, serta tangga kayu di dalam menara pribadi sultan. Hans merasa foto-foto yang didapatkan oleh Mandira sudah lebih dari cukup sehingga mereka tidak lagi mengambil foto bangunan, melainkan menghabiskan waktu yang tersisa dengan berkeliling di area Taman Sari. Tepat pukul tiga sore mereka berdua meninggalkan Taman Sari dan melanjutkan perjalanan untuk hunting di Candi Prambanan.

Sekitar pukul 16.30 Hans dan Mandira berhasil sampai di area Candi Prambanan. Mereka berdua bergegas membeli karcis dan berjalan cepat ke arah gerbang masuk area candi. Mengejar sunset. Itulah tujuan mereka. Candi Prambanan adalah salah satu tempat yang sering digunakan oleh fotografer untuk mengabadikan momen sunset selain Candi Ratu Boko, Pantai Parangtritis, bukit bintang, dan area lainnya di Jogja.

Mandira dan Hans harus berjalan beberapa lama, melewati beberapa taman yang ditumbuhi oleh beberapa jenis pohon dan bunga serta dihiasi oleh air mancur dan lampu taman kuno berwarna cokelat tua dengan sinar putihnya yang tampak lembut. Dari kejauhan bangunan utama candi serta candi-candi kecil di sekitar candi utama tampak sebagai sebuah objek yang artistik dengan latar warna jingga keunguan dari langit dan sinar matahari di belakangnya. Mandira sesaat tak berkedip ketika menatap pemandangan di depannya. Ia memang jarang menikmati momen sunset. Ia lebih sering menikmati pemandangan langit malam yang dipenuhi ribuan bintang.

“Apakah kita harus mengambil foto arsitektur candi?” Mandira memutuskan bertanya kepada Hans karena ia merasa lebih ingin menikmati momen terbenamnya matahari sambil duduk di atas rumput yang tumbuh subur di area taman depan bangunan candi tempat mereka berada saat ini. Hans menoleh sejenak ke arah Mandira dan menghentikan langkahnya. “Rencananya seperti itu. Kita sudah membahasnya dalam perjalanan tadi kan? Atau adakah hal lain yang ingin kamu lakukan, Mandira?” Hans menghadap langsung ke arah Mandira dan menatap ke dalam mata gadis tersebut, mencoba menebak apa yang diinginkannya. Mandira kali ini tak menundukkan kepala, ia membalas tatapan Hans, namun dengan tatapan memohon. Dengan sedikit merajuk ia mengatakan, “aku ingin menikmati sunset, Hans. Di sini. Duduk di atas rumput. Tak bisakah kita hanya memotret keunikan candi dengan latar belakang matahari tenggelam?” Itulah pertama kalinya Mandira bersikap manja terhadap Hans setelah sebelumnya selalu mencoba untuk terlihat dewasa dan mandiri. Ia memang tidak bersikap manja terhadap sembarang orang. Biasanya ketika ia sudah merasa nyaman dengan seseorang, barulah ia akan terbiasa untuk bersikap manja.

Hans tersenyum lebar sambil menatap bola mata Mandira yang terlihat sangat bening dan bersinar cerah. Ia mengulurkan tangan ke arah kepala gadis tersebut dan sedikit mengacak poninya. “Boleh dik..kita tak perlu memotret candi dari dekat sekarang ini jika kamu lebih suka berada di sini, di taman ini,” Hans kembali menarik tangannya. Mandira tersipu dan sedikit kikuk. Ia tampak salah tingkah. “Adik?” Hanya kata itu yang mampu terucap dari mulutnya. Mandira entah mengapa merasakan bahwa hatinya sedikit membuncah ketika mendengar Hans memanggilnya dengan sebutan ‘adik’. Hans kembali tersenyum, kemudian berjalan ke arah kanan untuk duduk di bawah pohon yang cukup rindang. Mandira mengikutinya dari belakang. “Bolehkah aku memanggilmu seperti itu?” Hans bertanya ketika ia sudah dalam posisi siap untuk duduk di bawah pohon. Ia menepuk-nepuk tanah yang ada di sampingnya dan melihat Mandira yang hanya berdiri kaku di depannya. Hans memberikan isyarat kepada Mandira agar segera duduk di sampingnya yang langsung diikuti oleh Mandira.

“Boleh kok Hans. Sama sepertiku yang lebih suka memanggilmu dengan nama saja, tanpa ‘kakak’ atau ‘mas’,” Mandira menarik lututnya ke atas dan tangannya bergerak untuk memeluk kedua lututnya. Posisi duduk yang sangat disukainya, terlebih jika sedang berada di atas rumput seperti sekarang. Ia menunduk, memandangi ujung sepatunya. Sementara itu, kedua ujung bibir Hans tampak tertarik keluar dan membentuk seulas senyum tipis. “Makasih dik,” Hans mengucapkannya dengan dalam dan hal itu membuat Mandira tertular oleh senyuman Hans. Ia tersenyum samar.

Empat puluh lima menit kemudian Hans sudah berada di posisi siap untuk membidik momen sunset. Ia saat ini sedang dalam posisi setengah berjongkok di depan Mandira, namun menghadap ke barat—ke arah bangunan candi dan tempat matahari berada—sedangkan Mandira menghadap ke selatan. Dari puluhan menit yang lalu, Mandira diam-diam mencuri pandang ke arah Hans. Ia menikmati ketika melihat pria tersebut mempersiapkan pengaturan kamera untuk memotret sunset. Bagaimana cara Hans menjelaskan tentang pentingnya pengaturan manual seperti sensor sensitivitas cahaya (ISO), aperture dan exposure, serta zooming membuat Mandira tambah mengagumi pria itu. Hans juga menjelaskan tentang pentingnya penggunaan live view atau gambar objek yang tampak di layar LCD ketika kita sedang memotret sunset maupun sunrise. Mandira mengagumi pengetahuan Hans tentang efek kebutaan yang akan ditimbulkan jika kita menggunakan view finder pada saat seperti ini. Ia tahu Hans adalah anak Teknik Fisika sehingga dapat dipastikan paham tentang teori cahaya dan bagian-bagian dari mata, namun Mandira tetap menyukai dan tertarik ketika Hans menjelaskan mengenai hal tersebut kepadanya. Mandira menyukai pria pintar, dan Hans termasuk dalam kategori tersebut.

Mandira mengamati Hans yang tampak berkali-kali membidikkan kameranya ke arah matahari. Kadang pandangan matanya juga tertuju ke arah matahari. Ia mengakui keindahan fenomena alam yang saat ini sedang dilihatnya. Bentuk matahari yang bulat—bertengger tepat di atas batas horizon—dengan sinar warna jingga yang mengelilinginya merupakan paduan tepat bahkan bisa dikatakan mendekati sempurna ketika secara lebih detail kita memperhatikan warna-warna di sekitar warna jingga. Mandira melihat adanya gradasi warna, dimulai dari warna jingga, kemerahan, ungu, sampai kemudian kembali lagi ke biru, menyatu dengan warna langit. Sejenak ia tak berkedip. Meskipun dirinya tak begitu mengerti tentang teori warna, namun matanya tidak salah ketika menyimpulkan bahwa apa yang dilihatnya saat ini adalah sebuah karya seni terbaik.

Hans menepuk pundak Mandira dengan lembut ketika mendapati gadis tersebut sedang asyik menikmati keindahan langit. Ia telah selesai memotret dan akan mengajak Mandira untuk segera meninggalkan tempat tersebut. Mereka akan ke malioboro. Mungkin juga makan malam dapat dimasukkan ke dalam agenda mereka jika waktunya cukup.

Mandira menoleh dan mendapati Hans sedang tersenyum lebar dan menatap dirinya dengan lembut. “Sudah selesai? Apakah aku tidak seharusnya mengambil gambar juga, Hans? Bagaimanapun ini adalah tugasku,” Mandira baru menyadari jika seharusnya ia yang memotret, sama seperti ketika mereka berada di Taman Sari siang tadi. Hans berdiri, mengulurkan tangan ke arah Mandira untuk membantu gadis tersebut berdiri. Mandira mendongakkan kepala dan saat itu juga matanya bertemu dengan tatapan teduh Hans. “Ayo... kita harus cepat. Aku lapar dan seniman jalanan malioboro sudah menunggu kita,” Hans mengakhiri perdebatan sebelum Mandira memulainya. Sejenak Mandira menatap ragu ke arah uluran tangan Hans sebelum akhirnya ia menerima dan membiarkan begitu saja saat pria tersebut menggenggam dan menggandeng tangannya. Mereka berdua berjalan bersisian dalam diam dan meninggalkan area candi Prambanan menuju tempat parkir.

Toyota Starlet melaju dengan kecepatan rata-rata meninggalkan area candi Prambanan. Hans dan Mandira yang berada di dalamnya sama-sama terdiam, tidak mengeluarkan sepatah katapun. Mandira sibuk menenangkan diri, karena ia merasa detak jantungnya kali ini tidak senormal biasanya. Iramanya tak beraturan. Di sampingnya, Hans mencoba mengurai perasaan aneh yang seketika menyelimuti hatinya. Kulit tangannya masih terasa hangat, meskipun ia sudah melepaskan tangan Mandira dari genggamannya sejak masuk ke dalam mobil tadi.

Empat puluh lima menit kemudian Hans membukakan pintu untuk Mandira. Meskipun Mandira masih mencoba melihat sekeliling untuk menebak di mana kini ia berada, namun ia tetap mengangkat kakinya, berusaha keluar dari dalam mobil. “Kita di mana, Hans?” Ekor matanya memerhatikan keadaan sekitar, namun ia masih tak menemukan petunjuk untuk memperjelas keberadaannya. Petunjuk satu-satunya yang dapat ia lihat adalah spanduk yang bertuliskan nama sebuah tempat makan. Hans tersenyum, sekali lagi menggenggam tangan Mandira, menggandengnya menuju sebuah meja kosong yang terletak di ujung teras bangunan yang tampaknya sudah tidak terpakai lagi.

“Kamu bisa makan di tempat lesehan seperti ini kan?” Hans bertanya tanpa menoleh ke arah Mandira. Matanya sibuk mengamati kalau-kalau ada pelayan yang lewat dan membawakan kertas menu. Mandira melihat meja-meja lain yang sudah terisi, termasuk yang bukan lesehan. Sebenarnya ia tidak terbiasa makan di tempat seperti ini, namun instingnya berkata bahwa ia harus percaya kepada Hans. “Bisa kok, Hans. Asal menunya tidak membuatku kecewa, aku bisa makan,” Mandira sedikit tertawa setelah mengucapkan kalimat candaannya tersebut.

Sesaat mereka berhenti bercakap-cakap karena ada seorang pelayan yang menghampiri meja mereka berdua dengan membawa kertas menu. Hans menerimanya dan mulai memilih menu makananan dan minuman. Setelah itu ia menyerahkan kertas tersebut kepada Mandira. “Tempat ini merupakan salah satu warung makan lalapan yang terkenal di Jogja. Semua makanan yang ditawarkan adalah khas Nganjuk, Jawa Timur. Yang paling khas di sini adalah sambalnya. Beda dari warung makanan lalapan yang lainnya. Di sini sambalnya dilengkapi dengan irisan jeruk limau,” Hans dengan lancar menjawab semua keingintahuan Mandira yang sejak tadi seolah diacuhkannya.

Mata Mandira menelusuri satu persatu menu yang ada di kertas yang saat ini ia pegang. Ia melihat pesanan Hans. Oseng daun pepaya dan tempe penyet, serta dua gelas es teh tawar. Pesanan yang aneh menurut Mandira. Ia masih berpikir untuk menentukan menu pesanannya ketika suara yang keluar dari mulut Hans mengagetkannya, “Kamu pernah makan nasi bakar? Di sini nasi bakarnya terkenal enak dan hanya tersedia saat malam hari seperti sekarang. Empal dan paru gorengnya juga patut dicoba.” Mandira menatap Hans sesaat dan tersenyum, sebelum akhirnya ia menetapkan pilihan. Nasi bakar, empal goreng, dan es kelapa muda. Ia ingin mencoba paru goreng, namun ragu karena belum pernah memakannya, sehingga akhirnya ia memutuskan memesan empal goreng saja. Ia menyerahkan kertas menu kepada Hans untuk diberikan kepada pelayan yang kebetulan sedang mengantarkan makanan di meja sebelah mereka berdua.

Sambil menunggu pesanan, Mandira kembali melayangkan pandangannya ke sekeliling. “Gedung ini, dulunya gedung apa, Hans?” Mandira bertanya sambil masih memerhatikan sekitar. “Gedung ini dahulu digunakan untuk bioskop, sebelum banyak bioskop di kota ini. Sayang, akhirnya harus tutup karena ada isu tentang peletakan jarum suntik di masing-masing kursinya untuk menjebak penonton,” Hans sedikit mengingat-ingat kejadian yang pernah diceritakan oleh senior kampusnya, karena ia sendiri juga tidak mengetahui perihal isu tersebut. Mandira tertarik dengan penjelasan Hans sehingga sepenuhnya mengalihkan pandangannya dari sekitar ke arah wajah Hans. “Benarkah? Jadi bioskop ini bangkrut gara-gara isu tersebut? Apakah hanya sekedar isu atau kejadian itu benar-benar ada?” Mandira mencoba menganalisis, seperti kebiasaannya ketika menemukan suatu kasus yang menarik. Ia teringat saat perjalanan ke tempat ini tadi melewati sebuah bioskop mewah di sisi kiri jalan. Sayangnya jawaban yang diberikan oleh Hans memaksanya untuk tidak memikirkan hal itu lagi. “Aku tidak tahu. Yang jelas setelah isu jarum tersebut merebak, bioskop ini sepi pengunjung hingga akhirnya tutup dan seperti yang kamu lihat sekarang, tempat makan khas Nganjuk inilah yang akhirnya menempati lokasi ini.” Sebenarnya Mandira masih ingin menanyakan beberapa hal kepada Hans, namun ada seorang pelayan yang datang membawakan pesananan mereka. 

Setelah pelayan tersebut menata semua pesanan mereka di atas meja, Hans memberitahu Mandira agar segera menikmati makanannya sebelum mereka kemalaman sampai di Malioboro. Mandira sedikit kecewa, namun hal itu tidak berlangsung lama. Ia tersenyum setelah mencicipi sedikit makanannya, “kamu benar, Hans. Tempat ini memang menawarkan menu yang sangat enak.” Hans membalas senyuman Mandira, “Kalau begitu segera habiskan makananmu, ya. Hati-hati dengan sambalnya, pedasnya pasti akan membuatmu ketagihan.” Mandira tertawa kecil dan kemudian mereka berdua makan dalam diam.

Segera setelah Hans dan Mandira menghabiskan makanan masing-masing, mereka berdua bergegas meninggalkan tempat tersebut karena sudah hampir jam setengah delapan malam. Bahkan Mandira tidak sempat mempermasalahkan hal yang biasanya selalu ia permasalahkan, yaitu mengenai siapa yang membayar makanan mereka. Hans mengendarai mobil dengan kecepatan sedikit di atas rata-rata. Ia khawatir jalan Malioboro macet dan susah mendapatkan tempat parkir yang aman, meskipun ia sudah memilih jalan yang menurutnya paling jarang macet, yaitu rute ke arah Kridosono.

Sudah hampir jam setengah sembilan malam ketika mereka berdua sampai di jalan Malioboro. Hans memilih memarkir mobilnya di halaman benteng Vredeburg. Untung saja masih ada beberapa tempat yang tersedia. Ia mengambil tas kamera yang ada di jok belakang kemudian membukakan pintu untuk Mandira. Ia mengulurkan tangan, membantu Mandira keluar dari dalam mobil. Ketika ia melihat Mandira meraih tasnya, dengan cepat ia berkata, “tinggalkan saja tasmu di dalam mobil, dik. Nanti kita harus jalan kaki sedikit ke arah perempatan kantor pos besar. Tas itu nantinya akan menambah beban jika kamu bawa.” Mandira mengangguk dan mengambil dompet serta ponselnya yang ada di dalam tas tersebut kemudian meletakkan tasnya begitu saja di kursinya. 

Mereka berdua berjalan bersisian. Tas kamera tergantung di leher Hans, tangan kirinya menggenggam tangan kanan Mandira. Terdapat kecanggungan di antara keduanya, namun dengan cepat Hans berhasil menguasai keadaan dan mencoba mencairkan keadaan dengan mengajak Mandira untuk berdiskusi tentang foto yang akan mereka ambil kali ini. “Kali ini kita akan mengambil foto jenis night photography, street photography, atau bisa juga culture photography. Menurutmu jenis fotografi yang mana yang cocok dengan keadaan Malioboro kali ini, dik?” Hans menunggu agak lama, sampai mereka sudah berada di dekat musisi jalanan yang ada di sudut perempatan, di bawah lampu lalu lintas. Ia memandang Mandira sekilas, namun yang ia lihat dari wajah gadis tersebut adalah mimik yang menggambarkan kekaguman. Ia mengikuti arah pandangan mata Mandira sampai matanya bertemu dengan sesosok laki-laki—salah satu pemain musik dari kelompok musisi jalanan yang sedang bermain di depan mereka—sedang memainkan perkusi, wajahnya terlihat sangat ceria, dengan senyuman hangat yang dipersembahkan untuk setiap penonton yang ada di sekitarnya. Hans kembali menatap Mandira, kemudian tersenyum. Pantas saja gadis itu tidak menjawab pertanyaannya, ternyata ia sedang terpana dengan pemandangan di depannya. Hans memakluminya karena waktu dulu pertama kali ia melihat musisi jalanan ini bermain, ekspresinya juga sama dengan Mandira. Hans akhirnya lebih memilih untuk memberikan waktu bagi Mandira supa gadis itu bisa menikmati musisi jalanan yang mungkin baru pertama kali ini di lihatnya.

Hampir sepuluh menit lamanya mereka berdua berdiam diri, sampai kemudian Mandira melepaskan tangannya dari genggaman Hans dan menatapnya dengan senyum lebar. “Hans, aku ingin mengabadikan momen ini. Bisakah aku memotret mereka semua, namun hanya berfokus di satu orang saja?” Mandira mengusik ketenangan Hans yang juga masih menikmati permainan musik yang ia lihat dan dengar. Ia sedikit mengerutkan dahi, mencoba menelaah maksud dari pertanyaan Mandira. “Mengapa kamu tiba-tiba mempunyai ide seperti itu, dik?” Hans akhirnya bertanya secara langsung kepada Mandira karena ia tak ingin salah menyimpulkan. Ia butuh alasan. Mandira lagi-lagi kembali tersenyum lebar, kemudian berkata sambil tangannya menunjuk ke arah pemain perkusi yang dari tadi ia perhatikan, “coba kamu perhatikan, Hans. Laki-laki itu tersenyum lebar, tampak sangat ceria, seolah ia ingin menunjukkan kepada semua penontonnya kalau dirinya sangat bahagia. Tetapi coba kamu perhatikan baik-baik raut wajahnya. Apakah kamu menemukan sesuatu yang kontras dengan senyumannya? ”

Hans mau tidak mau kembali memperhatikan pemain perkusi yang ditunjuk oleh Mandira. Ia mencoba mengamati dengan seksama, meneliti setiap bagian dari raut muka laki-laki tersebut. Butuh waktu lebih dari sepuluh menit sampai matanya menemukan sesuatu yang aneh. Beberapa garis halus tampak di dahi laki-laki itu. Ada sekitar tiga garis yang mungkin bisa disebut sebagai kerutan atau keriput. Hal yang wajar, namun mengapa Hans merasa bahwa hal tersebut merupakan suatu keanehan? Terlebih lagi Mandira juga menyuruhnya untuk menemukan sesuatu yang kontras dengan senyuman laki-laki itu, sebuah hal yang mengindikasikan bahwa gadis tersebut juga menemukan suatu keanehan yang terdapat pada raut muka pemain perkusi di depan mereka. Apakah Mandira juga melihat kerutan halus yang terdapat pada dahi laki-laki tersebut?

Seolah bisa membaca pikiran Hans, Mandira memberikan sebuah pernyataan yang merupakan suatu jawaban bagi pertanyaan Hans yang masih ada di dalam hati, belum ia ucapkan di depan gadis itu. “Menurutku laki-laki itu belum terlalu tua, Hans. Mungkin umurnya malah belum genap 40 tahun. Ia tidak seharusnya mempunyai kerutan di wajahnya dengan usia yang belum terlalu tua itu. Meskipun ia tersenyum ceria, namun aku bisa melihat kalau hidupnya tidak seceria senyumannya. Guratan itu adalah buktinya, Hans. Mungkin ia bisa menutupinya dengan senyuman, namun wajahnya tak bisa membohongi kita,” Mandira memberikan sebuah analisis tajam, persis dengan apa yang sudah diduga oleh Hans sebelumnya.

“Kamu benar, Mandira,” Hans berkata sambil mengeluarkan kamera dari dalam tas, kemudian memencet beberapa tombol untuk menyesuaikan pengaturan. Sambil tersenyum, ia kembali berkata kepada Mandira, “portrait photography, itulah jenis foto yang akan kita ambil malam ini. Jenis fotografi ini berfokus pada ekspresi seseorang. Meskipun biasanya model selalu dipersiapkan terlebih dahulu untuk melakukan pemotretan jenis ini, namun aku kira kita bisa membuat pengecualian kali ini. Guratan halus di wajah pemain perkusi itu adalah suatu hal yang alami. Hasilnya akan bagus jika kamu memotretnya dengan angle yang benar. Kamu akan mendapatkan banyak cerita ketika nanti melihat hasil potretanmu.”
Mandira mencoba mencerna pelan-pelan semua penjelasan Hans. Portrait photography. Ia tidak tahu banyak tentang jenis fotografi ini. Ekspresi. Itulah inti dari penjelasan Hans yang dapat ia tangkap. “Jika kita memotret seseorang yang sedang gembira, menangis, ataupun sedih, apakah itu juga termasuk portrait photography?” Mandira menyuarakan apa yang ada di dalam pikirannya. “Benar sekali, Mandira. Sekarang lebih baik kamu mencoba mengambil beberapa potret dari pemain perkusi itu. Usahakan mengatur zooming dan jadikan pemain perkusi itu sebagai titik fokus dengan pemain alat musik lainnya sebagai latar. Zoom tepat di sekitar wajah, agar senyum dan guratan di dahi laki-laki itu sama-sama terlihat.”

Mandira mengangguk dan menerima kamera yang diserahkan oleh Hans ke tangannya. Ia berjalan melewati beberapa penonton yang ada di sampingnya. Ia ingat kakaknya pernah bercerita bahwa angle yang bagus untuk memotret adalah pada titik 1/3 dari luas frame yang ia tentukan. Mandira tidak pernah menerapkan teori tersebut, namun kali ini ia ingin mencobanya.

Sementara Mandira sedang sibuk mencari momen dan angle yang pas buat memotret, Hans masih berdiri di tempatnya semula. Ia membiarkan Mandira berjalan mendekati pemain perkusi. Hans mengamati segala gerak-gerik gadis itu. Dilihatnya Mandira melangkah semakin dekat dengan pemain perkusi di depannya, dan gadis itu berhenti setelah mencapai jarak sekitar dua meter di sisi kanan laki-laki yang akan dipotretnya. Hans mengira bahwa Mandira akan memotret tepat dari sisi samping objek, namun ternyata perkiraannya salah. Gadis itu melangkah pelan-pelan ke sisi depan pemain perkusi sambil sesekali mengamati objek yang akan dibidik melalui view finder. Hans melihat bahwa langkah Mandira kembali terhenti setelah ia mencapai titik 1/3 dari arah samping pemain perkusi kemudian gadis itu beberapa kali memotret dengan cepat. Pada saat itulah Hans merasakan bahwa jantungnya berdetak lebih cepat dan tanpa sadar ia tersenyum sendiri. Hans tak mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya, namun yang ia tahu, ia merasa senang ketika mengamati Mandira sedang memotret. Semula ia berpikir bahwa mungkin saja perasaan senangnya itu muncul karena ia akhirnya menemukan sosok gadis yang bisa memotret, atau lebih tepatnya mau memotret dan dengan gigih berusaha untuk bisa memotret. Tetapi semakin lama ia memerhatikan Mandira yang sedikit membungkuk saat memotret, yang ia rasakan bukan lagi hanya rasa senang. Ada perasaan lain yang lebih dari sekedar rasa senang. Ia tak bisa mendeskripsikan perasaannya secara jelas. Yang bisa ia gambarkan hanyalah rasa deg-degan ketika melihat Mandira yang tampak seksi saat memegang kamera dan membidik objek di depannya.

Meskipun Hans tak banyak berinteraksi dengan wanita dan lebih sering memilih untuk menghabiskan waktunya dengan membaca buku-buku tebal serta memotret, ia dapat mengenali jenis perasaan yang sedang ia rasakan saat ini. Ia tertarik pada Mandira. Baik fisik maupun hatinya menunjukkan semua tanda-tanda tersebut.

Mandira mengamati Hans yang masih menatap lurus ke depan. Semula ia menduga bahwa Hans sedang menikmati pertunjukan musik yang ada di depannya, namun ternyata dugaannya salah. Ketika beberapa menit yang lalu ia beberapa kali mencoba memanggil Hans dan melambaikan tangannya namun tak ada respon, Mandira akhirnya menyerah dan memilih untuk mendekati Hans.

Samar-samar Hans mendengar namanya dipanggil. Makin lama suara yang ia dengar makin jelas dan keras, seakan dengan sengaja diteriakkan oleh seseorang di dekat telinganya.Hans tersentak dan dalam sekejap sadar dari fantasinya tentang Mandira ketika akhirnya ia mengenali suara yang dari tadi meneriakkan namanya. Suara Mandira. Apa yang dilakukan Mandira di sebelahnya? Dan mengapa gadis itu memanggilnya dengan cara berteriak seperti itu? Seingat Hans Mandira tadi masih memotret.

“Akhirnya kamu mendengar panggilanku juga, Hans. Hampir saja tadi aku mengguncang tubuhmu jika sekali lagi aku memanggil namun kamu tidak juga merespon,” Mandira langsung mengeluarkan semua kata-kata yang ada di dalam benaknya begitu ia melihat tubuh Hans bergerak dan sedikit menoleh ke samping, ke arahnya. Respon yang Mandira dapati sungguh tidak disangka-sangkanya. Hans tersenyum lebar, kemudian meraihtali kamera yang masih menggantung di leher Mandira kemudian merapikan serta memasukkannya ke dalam tas kamera yang tersampir di pundaknya.

“Mari kita pulang sekarang, Mandira. Sudah malam, sudah jam sepuluh lebih. Nggak baik kalau gadis sepertimu pulang selarut ini, meskipun ada yang mengantar,” tanpa menunggu jawaban Mandira, Hans sudah berjalan mendahuluinya menuju tempat mobilnya diparkir. Mau tidak mau Mandira segera mengikutinya, karena sepertinya Hans sudah tidak akan mengeluarkan sepatah katapun.

Meskipun Hans berjalan dengan sedikit tergesa dan terlihat selalu memandang lurus ke depan, namun ia sesekali melirik ke samping untuk memerhatikan reaksi Mandira atas sikapnya. Mandira tampak menunduk, seolah tak berani melihatnya. Hans merasa bersalah. Mungkinkah ucapannya tadi terlalu kasar? Nyatanya ia hanya ingin menutupi perasaannya yang tidak menentu dan menahan agar detak jantungnya tetap normal. Untuk mengurangi rasa bersalahnya, ia mencoba meraih tangan kiri Mandira dan menggandengnya. Ia dapat merasakan sejenak bahwa tubuh Mandira sedikit menegang, namun gadis itu tidak berusaha melepaskan gandengannya. Ia dan Mandira berjalan bersisian—dalam diam—sampai akhirnya ia melepaskan tangan Mandira untuk membukkaan pintu mobil di sisi penumpang dan membiarkan Mandira masuk. Dengan cepat Hans berjalan memutari bagian depan mobilnya untuk mencapai sisi pengemudi.

Perjalanan pulang Mandira dan Hans diselimuti keheningan. Tak satupun dari mereka yang mencoba memecah kesunyian. Tampaknya mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Mandira mencoba mencerna semua hal yang baru saja terjadi. Perubahan sikap Hans yang mendadak menjadi kaku membuatnya berpikir bahwa ia telah melakukan kesalahan. Sementara Hans, ia sibuk menata hati. Sekelebat bayangan Mandira ketika memotret muncul di benaknya. Mengapa jantungnya berdetak lebih cepat ketika tadi ia mengamati setiap gerakan gadis itu? Bahkan sampai saat inipun, ketika hanya bayangannya saja yang tersisa, hal itu masih membuat ritme jantungnya tak beraturan. Mungkinkah ia sudah tidak waras? Atau jangan-jangan?

***